Wednesday, July 27, 2016 | By: Nurul Fajry Maulida

Catatan Obat Gangguan Kardiovaskuler #7

 

Gagal jantung adalah pembahasan materi gangguan kardiovaskular kali ini, setelah pada catatan-catatan sebelumnya dibahas mengenai hipertensi, aritmia, iskemia, dan infakrd miokardial. Gagal jantung atau kegagalan fungsi pompa jantung merupakan keadaan patofisiologi yang dikaitkan dengan disfungsi jantung dan merupakan titik akhir berbagai penyakit sistem kardiovaskular. Gejala muncul bervariasi tergantung seberapa cepat terjadinya gagal jantung. Gagal jantung meliputi gagal jantung ventrikel kiri, ventrikel kanan, atau ventrikel kiri dan kanan. Faktor risiko gagal jantung antara lain hipertensi, diabetes, hiperlipidemia, inaktivasitas, obesitas, alkohol, merokok, dan diet garam. 

Gagal ventrikel kiri gejalanya berupa:
  1. Sesak napas (dyspnea) terutama pada posisi berbaring.
  2. Nyeri dada, sputum diwarnai darah, lelah dan bigung.
  3. Peningkatan ventilasi dan denyut jantung.
  4. Palpasi menghasilkan denyut kuat lemah.
  5. Auskultasi paru menghasilkan bunyi abnormal (pada pemeriksaan fisik).  
Penyebab gagal jantung antara lain pada kondisi kerja jantung tidak seimbang, seperti volume overload (hipertiroid) atau tekanan overload (hipertensi sistemik), pengisian jantung terbatas (mitral stenosis, penyakit perikardial), reduksi miosit (infark miokardial, lupus), atau penurunan kontraktilitas miosit (akibat infeksi virus dan bakteri, keracunan alkohol, kobalt, dan doxorubicin). 

Pada gagal ventrikel kiri terdapat perubahan hemodinamik yaitu penurunan output (akibat disfungsi sistolik) dan penurunan pengisian (disfungsi diastolik). Selain itu, terdapat pula perubahan neurohormonal berupa aktivasi sistem simpatis, aktivasi sistem RAA, pelepasan vasopresin, dan pelepasan sitokin. Terdapat pula perubahan seluler seperti inefisiensi kalsium intrasel, desensitisasi adrenergik, hipertropi miosit, apoptosis, dan fibrosis. 

[Sumber Gambar: biology-forums.com]

Gagal ventrikel kanan gejalanya berupa napas pendek, edema, nyeri abdominal, pemeriksaan fisik sama dengan gagal jantung kiri. Gagal ventrikel kanan disebabkan oleh peningkatan afterload pada ventrikel kanan (abnormalitas arteri atau kapiler paru) dan iskemia ventrikel kanan. Pada kelanjutannya akan terjadi disfungsi sistolik dan diastolik, penurunan kontraktilitas miosit, dan perubahan seperti pada gagal ventrikel kiri. Gagal ventrikel kanan juga dapat berasal sebagai kelanjutan dari gagal ventrikel kiri. Manifestasi klinik gagal ventrikel kanan antara lain napas pendek, peningkatan tekanan vena jugular, ascites, edema pada kaki, refluks hepatojugular, dan nyeri abdominal kuadran kanan.

[Sumber Gambar: airphysio.com]

Terapi untuk gagal jantung bertujuan untuk mencegah gagal jantung melalui identifikasi faktor risiko (mencegah berkembangnya disfungsi ventrikel dan gagal jantung). Perawatan/penanganan terhadap faktor risiko ini adalah terapi nonfarmakologinya. Terapi farmakologi untuk disfungsi sistolik antara lain ACEI, diuretik, beta bloker, dan digoksin. Sementara untuk disfungsi diastolik antara lain ACEI, beta bloker, CCB, dan nitrat.

Penanganan terhadap faktor risiko, artinya pasien yang memiliki faktor risiko harus mencapai target pengobatannya agar tidak berlanjut menjadi lebih parah kondisinya yang dalam hal ini diharapkan jangan sampai terkena gagal jantung.
  1. Pasien hipertensi diupayakan tercapai target tekanan darahnya yaitu kurang dari 130/80 mmHg.
  2. Pasien diabetes, target terapi HbA1c <= 6,5-7,0%, kadar gula darah puasa < 110-130 mg/dl, dan kadar gula darah 2 jam setelah makan < 140-180 mg/dl.
  3. Orang yang kurang aktivitas fisik, setidaknya melakukan aerobik 20-30 menit 3-5 kali dalam seminggu. 
  4. Pasien obesitas, melakukan penurunan berat badan dan diupayakan mencapai BMI < 30.
  5. Perokok, diupayakan untuk berhenti merokok.
  6. Diet garam, maksimum 2-3 gram per hari.
 Apabila pasien hipertensi melakukan kontrol tekanan darahnya dengan agresif, maka penurunan risiko terkena gagal jantungnya berkurang menjadi 50%. 

ACEI direkomendasikan untuk mencegah gagal jantung pada pasien dengan risiko tinggi, yaitu pasien dengan peyakit arteri koroner, penyakit vaskular perifer, strok, diabetes dan dengan faktor risiko lainnya. ACEI dan beta bloker direkomendasikan utnuk semua pasien dengan riwayat infark miokard. Terapi ACEI menurunkan risiko kematian sel jantung, infark miokard, strok, atau gagal jantung. 

Untuk pasien yang tidak dapat mentoleransi batuk sebagai efek samping dari ACEI, direkomendasikan menggunakan ARB. Kombinasi hydralazine dan nitral oral dapat dipertimbangkan untuk pasien yang tidak dapat mentolerir ARB, yaitu pasien yang mengalami insufisiensi renal.

Antagonis aldosteron direkomendasikan bagi pasien dengan terapi standar, termasuk diuretik. Dapat dipertimbangkan penggunaanya pada pasien post infark dengan gagal jantung secara klinik atau diabetes. Namun, antagonis aldosteron tidak direkomendasikan bagi pasien dengan:
  • kreatinin > 2,5 mg/dL (atau klirens < 30 mL/menit).
  • serum potasium > 5,0 mmo/L
  • terapi meliputi diuretik hemat kalium.
 Pada penggunaannya suplemen kalium tidak direkomendasikan kecuali jika kadar kalium kurang dari 4,0 mmol/L. 

Terapi diuretik direkomendasikan untuk mengembalikan dan menjaga volume normal pada pasien dengan riwayat overload cairan berupa gejala kongestif dan peningkatan tekanan pada saat pengisian. Dalam hal ini, diuretik kuat lebih banyak digunakan daripada tiazid pada pasien gagal jantung. 

Sekian terkait dengan gagal jantung. Terkait dengan penjelasan lebih lengkap seperti apa mekanisme kerja tiap obatnya dan contoh obatnya dapat dibaca pada catatan saya sebelum-sebelumnya. Semua materi saya peroleh dari handout kuliah. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung.
Tuesday, July 26, 2016 | By: Nurul Fajry Maulida

Catatan Obat Gangguan Kardiovaskuler #6

[Sumber Gambar: blog.biowebspin.com]

Kali ini yang dibahas adalah ischaemic heart disease dan infark miokardial

Ischaemic heart disease terjadi ketika kebutuhan aliran darah melebihi suplai darah oleh arteri koroner. Pada kondisi normal, suplai oksigen dan nutrisi melalui arteri koroner sesuai dengan kebutuhan metabolik miokardial. Ketika kebutuhan metabolik di jantung meningkat, aliran darah koroner juga meningkat. Oleh karena itu, keseimbangan oksigen miokardial dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan oksigen dan nutrisi miokardium, seperti latihan fisik, stres, dan cuaca dingin. Selain itu, dipengaruhi pula oleh adanya metabolik kardial dan nitrogen oksida yang meningkatkan aliran darah koroner. Penyebab iskemia miokardial adalah aterosklerosis dan trombus. Faktor risiko dari penyakit ini antara lain merokok, diabetes, hipertensi, hiperlipidemia, kurang aktivitas fisik, obesitas, dan genetik. 

Telah dijelaskan bahwa salah satu penyebab iskemia adalah aterosklerosis dan trombus. Adanya kondisi tersebut menyebabkan adanya penyumbatan pada pembuluh darah. Penyumbatan yang ada secara progresif pada arteri koroner, menghambat darah yang mengandung oksigen dan nutrisi untuk dapat memasuki sel yang membutuhkan oksigen dan nutrisi tersebut sehingga akibatnya suplai oksigen dalam sel tidak memadai. Ketika kebutuhan oksigen dan nutrisi tidak memadai, maka sel akan mengalami apoptosis dan selanjutnya nekrosis. Apoptosis terjadi ketika adanya aktivasi TNF alfa, interleukin-1-converting enzym (ICE related protease) inaktivasi poli-ADP-ribose-polymerase (PARP) dan fragmentasi DNA. Selanjutnya nekrosis terjadi akibat penurunan ATP dan penurunan pompa ion, aktivasi protease, serta kerusakan membran. Akibatnya, jantung tidak dapat bekerja sesuai dengan fungsinya. Nekrosis adalah kematian sel pada jaringan tubuh dan bersifat ireversibel terjadi ketika sel cedera berat dalam waktu lama dan sel tidak mampu beradaptasi lagi tau memperbaiki dirinya sendiri (hemostasis).

Manifestasi klinis iskemia miokardial adalah angina pektoris. Angina merupakan gejala utama iskemia miokardial. Gejalanya berupa nyeri dengan karakteristik menyebar dari dada ke lengan hingga leher, rasa tertekan dan terbakar pada wilayah sternum. Faktor kimia yang dilepaskan oleh sel miokardial yang mengalami iskemia antara lain K+, H+, dan adenosin. Faktor kimia ini kemudian menstimulasi nosiseptor. Nosiseptor adalah saraf aferen primer untuk menerima dan menyalurkan rangsangan nyeri. Secara klinis angina pektoris terdiri dari 3 tipe, yaitu:
  1. Stable angina, berupa nyeri dada yang muncul akibat peningkatan beban jantung akibat latihan, emosi, stres, dingin. Nyeri dada pada tipe angina ini dapat diprediksi dan terjadi akibat penyempitan arteri koroner. 
  2. Unstable angina, berupa nyeri dada yang muncul meskipun tidak ada peningkatan kebutuhan oksigen dan nutrisi, contohnya pada saat istirahat. Hal ini terjadi akibat adanya blok arteri koroner. 
  3. Variant angina disebabkan oleh vasospasme arteri koroner. Vasospasme adalah kejang pembuluh darah, menyebabkan vasokonstriksi dan berpotensi iskemia jaringan dan nekrosis. Biasanya dikaitkan dengan penyakit arteri koroner tetapi lebih ke peningkatan aktivitas saraf simpatis. Serangan dapat terjadi lebih sering pad amalam hari, pada saat istirahat atau gerakan fisik minimal. Faktor risiko dikaitkan dengan stres, paparan dingin, dan merokok.
Terapi iskemia miokardial bertujuan untuk mencegah terjadinya infark dan kematian (memperpanjang hidup) dan mereduksi gejala (meningkatkan kualitas hidup). Terapi dapat berupa terapi nonfarmakologi dan terapi farmakologi. Terapi nonfarmakologi dengan mengontrol aktivitas fisik, menghindari stres (emosional, fisiologis), menghindari faktor risiko lain seperti hiperlipidemia, obesitas, hipertensi, diabetes, merokok dan lain-lain. Target terapi farmakologi adalah peningkatan aliran darah koroner  melalui dilatasi arteri koroner, penurunan beban kerja jantung melalui reduksi denyut jantung dan kontraksi. Terapi farmakologi terdiri dari:
  1. Vasodilator nitrat organik, contohnya amil nitrit, nitrogliserin, isosorbid dinitrit. 
  2. Aktivator kanal kalium (mekanisme aksi berupa dilatasi), contohnya nicorandil, pinacidil.
  3. Antagonis Beta adrenoceptor (mekanisme aksi berupa blok reseptor beta sehingga terjadi reduksi denyut jantung dan CO, akibatnya terjadi penurunan beban kerja miokardial dan kebutuhan oksigen), contohnya atenolol, propanolol/
  4. Bloker kanal kalsium, contohnya nifedipin, amlodipin.
  5. ACEI, contohnya captopril, enalapril, lisinopril.
  6. Antiplatelet (tujuannya mencegah agregasi platelet, sehingga menghambat terjadinya trombosis, digunakan sebagai profilaksis terutama pada unstable angina). Berdasarkan mekanisme kerjanya dibagi menjadi 3, yaitu (1) penghambat COX-1, yaitu aspirin, mekanisme kerja dengan menghambat COX-1 dalam mensintesis prostaglandin, prostasiklin, dan tromboksan, sehingga dapat mencegah agregasi platelet sehingga menghambat terjadinya trombosis. Trombosis adalah proses koagulasi/penggumpalan darah di dalam pembuluh darah; (2) antagonis ADP, mekanisme aksi sebagai antagonis kompetitif reseptor ADP, contohnya ticlopidine dan clopidogrel (prodrug). ADP dilepaskan oleh trombosit yang aktif ke membran trombosit lain yang kemudian akan mengaktifkan enzim fosfolipase yang pada akhirnya terbentuklah tromboksan yang berperan dalam agregasi trombosit; (3) Antagonis GPIIb/IIIa, mekanisme kerja sebagai antagonis kompetitif reseptor GPIIb/IIIa. Reseptor ini juga berperan dalam pembentukkan tromboksan. Contoh obat golongan ini adalah antibodi monoklonal (abciximab), peptida sintetik eptifibatide, dan molekul sintetik (tirofiban). 


Infark miokardial, lebih sering didengar sebagai serangan jantung, adalah kerusakan atau kematian jaringan miokardial akibat iskemia. Terjadi akibat adanya blok arteri koroner oleh trombus dan vasospasme kronis. Perlu diketahui bahwa terdapat dua arteri koroner yang menyuplai miokardium, yaitu arteri koroner kiri dan arteri koroner kanan. Sebanyak kurang lebih 50% infark terjadi pada arteri koroner kiri. Ada 2 tipe infark miokardium yaitu transmural (meliputi keseluruhan dinding ventrikel) dan subendokardial (meliputi sepertiga atau separuh dinding ventrikel bagian dalam). 



Terdapat 2 fase pada transmural, fase pertama adalah saat kejadian infark miokard yang dimulai dari iskemia dan berlanjut tanpa penanganan selama 0-2 jam. Sementara fase 2 adalah kelanjutan fase 1, yaitu saat tanpa penanganan selama 2-24 jam, seperti pada gambar di bawah ini.



Pada fase 1 tahap 1, dimulai saat terjadinya iskemia dan belum ada tanda kerusakan maupun nekrosis. Tahap 2 terjadi saat menit kurang dari 20 dan 40 belum juga mendapatkan penanganan, pada tahap ini telah terjadi kerusakan/cedera namun belum sampai ke nekrosis. Tahap 3 terjadi pada menit ke 30, tahap ini telah terjadi nekrosis sebanyak 10%, berlanjut pada menit ke-60 atau pada saat jam ke-1, terjadi nekrosis sebanyak 30%. Pada tahap ke 5, nekrosis telah mencapai separuhnya atau 50% pada jam ke-2.

Fase 2 berlanjut ketika sampai 2 jam dimulai saat terjadinya iskemia pada fase 1 belum juga mendapat penanganan. Pada fase 2 tahap 1 ini, terjadi pada jam ke-3 kelanjutan dari fase 1, telah terjadi nekrosis sebanyak 60%. Berlanjut pada tahap 2, 90% nekrosis terjadi pada 3 jam berikutnya, yaitu di jam ke-6, dan nekrosis mencapai puncaknya, 100%, pada jam ke 24 atau selama 1 hari sejak iskemia dimulai dan tidak juga memperoleh penanganan.

Dalam patogenesis infark miokard, terjadi kompensasi. Kompensasi terjadi akibat hipotensi dan perubahan hemodinamik. Kompensasi berupa:
  • pelepasan katekolamin, menyebabkan peningkatan denyut jantung, kekuatan kontraksi, dan resistensi perifer.
  • retensi natrium dan air.
  • aktivasi sistem RAA.
  • Hipertropi ventrikel.
Perlu diketahui bahwa kompensasi tersebut justru dapat memperparah fungsi jantung yang mengalami infark. Manifetasi klinisnya berupa nyeri dada parah, kerusakan ireversibel, pelepasan enzim miokard, perubahan EKG, respon inflamasi, dan nekrosis. 
  1. Nyeri dada berupa nyeri dada yang parah dan rasa tidak nyaman, sensasi tertekan dan rasa remuk pada dada diikuti mual, muntah, berkeringat, dan lemah. 
  2. Terkait pelepasan enzim, enzim dilepaskan oleh sel yang rusak yang akan lisis, enzim tersbut berupa CPK (creatinine phosphokinase), lactate dehydrogenase (LDH) ke dalam darah. 
  3. Perubahan EKG terjadi pada gelombang T, ST, dan Q. 
  4. Respon inflamasi muncul akibat sel miokardium cedera, akibatnya terjadi infiltrasi leukosit, peningkatan jumlah leukosit dan demam.
  5. Nekrosis, berupa kematian sel yang terjadi di area miokardium yang mengalami infark.
  6. Jaringan parut terjadi akibat perbaikan jaringan yang mengalami nekrosis. 
Komplikasi infark miokard terjadi tergantung dari area infark. Komplikasi dapat berupa lepasnya sel miokard yang mati yang menyebabkan perdarahan dalam ventrikel, terbentuknya tromboemboli, perikarditis (umumnya terjadi 1-2 hari setelah infark), aritmia, penurunan fungsi jantung, gagal jantung, dan syok kardiogenik. Terapi infark miokard bertujuan untuk meminimalisir area yang mengalami infark, mencegah kerusakan iskemik yang lebih parah, mencegah terjadinya trombosis koroner. Terapi farmakologi berupa:
  1. Antiplatelet, untuk meningkatkan aliran darah dan mencegah kerusakan otot jantung.
  2. Trombolitik, menormalkan aliran darah dengan melarutkan bekuan darah dalam arteri koroner.
  3. Vasodilator, meningkatkan aliran darah ke miokardium dan mereduksi beban jantung.
  4. Beta bloker, mengurangi beban kerja jantung melalui penurunan denyut jantung dan kontraksi.
  5. ACEI, meningkatkan aliran darah.
  6. Antiaritmia, mengontrol ritme jantung yang terjadi akibat infark miokard.
  7. Terapi pendukung berupa oksigen (menjaga suplai oksigen ke jaringan dan level  oksigen otot jantung) dan analgesik (mengurangi rasa nyeri), bila perlu diberi morfin. 
Contoh trombolitik antara lain streptokinase, anistreplase, alteplase, urokinase. Streptokinase diperloeh dari beta-hemolitik streptococcus. Anistreplase merupakan prodrug, kompleks dari plasminogen dan streptokinase. Alteplase merupakan rekombinan tissue plasminogen activator. Sementara urokinase merupakan enzim endogen manusia yang mengkonversi plasminogen menjadi plasmin.

Sekian yang dapat disampaikan. Semua materi diperoleh dari handout kuliah dan hasil mencari dari sumber lain di internet. Digunakan untuk meningkatkan pemahaman, mohon jangan dijadikan sebagai acuan, carilah dari sumber yang lebih valid. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung :D

Catatan Obat Gangguan Kardiovaskuler #5

Pada catatan kali ini, akan dijelaskan mengenai gangguan kardiovaskuler selain hipertensi, yaitu aritmia. Aritmia merupakan gangguan pada detak jantung atau irama jantung, ketika organ tersebut berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Sebelum membahas lebih lanjut terkait dengan patofisiologinya, perlu diketahui terlebih dahulu fisiologinya, hal-hal seperti apa yang terjadi seharusnya pada keadaan normal.

Pada normalnya, laju dan ritme jantung terjadi ketika miokardium tereksitasi melalui aktivitas listrik. Pada keadaan istrirahat intraseluler, miokardium bertegangan sekitar -90 mV, sementara di nodus SA sekitar -40 mV. Pada keadaan istirahat pula terjadi influks K+ dan efluks Na+ melalui pompa Na+/K+. Potensial aksi terjadi ketika ion Na+ masuk ke intrasel, hal ini menyebabkan stimulasi pada serat otot tunggal, lalu menyebabkan aktivitas listrik menyebar ke seluruh miokardium. Potensial aksi di miokardium terdiri dari 4 fase:
  1. Fase 0: depolarisasi (Na+ influks)
  2. Fase 1: repolarisasi parsial (Na+ inaktif, K+ efluks)
  3. Fase 2: plateu (Ca2+ influks lambat)
  4. Fase 3: repolarisasi (Ca2+ inaktif, K+ influks)
  5. Fase 4: potensial pacemaker (Na+ influks lambat, K+ efluks lambat
  6. Fase 1-3: periode refraktori.  



Terkait dengan penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan depolarisasi dan repolarisasi otot jantung, dapat dibaca di sini

Ritme jantung yang teratur adalah dimulai dari nodus SA sebagai pacemaker (pencetus/pemacu detak jantung). Depolarisasi yang terjadi oleh nodus SA mencetuskan depolarisasi pada atrial. Kemudian menyebar hingga terjadi konduksi di nodus AV secara lambat. Selanjutnya dilanjutkan konduksi melalui berkas/bundel his dan serat purkinje yang lebih cepat. Nodus SA ini dikendalikan oleh sistem saraf otonom. Terkait dengan aktivitas parasimpatis dapat dicetuskan melalui reseptor M2 muskarinik. Sementara aktivitas simpatis melalui reseptor beta 1. Aktivasi pada saraf simpatis ini akan mengakibatkan peningkatan denyut jantung (efek kronotropik positif), peningkatan automatisiti, dan fasilitasi konduksi nodus AV. Ritme jantung/denyut jantung yang normal adalah 60-100 bpm (detak per menit).

Sekilas terkait inotropik dan kronotropik. Inotropik ada dua macam, yaitu inotropik positif dan negatif. Inotropik positif adalah kondisi ketika terjadi peningkatan kontraktilitas miokard, sebaliknya kondisi ketika terjadi penurunan kontraktilitas miokard adalah inotropik negatif biasanya obat yang berperan seperti ini digunakan untuk mengurangi beban kerja jantung. Kronotropik juga terbagi menjadi dua macam, yaitu kronotropik positif dan negatif. Kronotropik positif adalah kondisi ketika terjadi peningkatan denyut jantung melalui pengaruhnya pada saraf dan mengubah irama yang dihasilkan oleh nodus SA. Sebaliknya, kronotropik negatif adalah yang berperan dalam menurunkan denyut jantung juga dengan cara mengubah irama yang dihasilkan oleh nodus SA. 

Alat yang digunakan untuk merekam aktivitas listrik jantung adalah EKG. Pada rekamannya, dapat dilihat pola yang menunjukkan depolarisasi dan repolarisasi dari miokardium. Pola yang tampak adalah P-QRS-T. P adalah saat ketika terjadi depolarisasi atrial. QRS adalah saat terjadi depolarisasi ventrikel. Sementara T adalah saat terjadi repolarisasi ventrikel.

[Sumber Gambar: elearning.code3cme.com]

Aritmia jantung dihasilkan akibat gangguan pembentukkan impuls, konduksi impuls, atau kombinasi keduanya. Gangguan pembentukkan impuls dapat berupa:
  1. Sinus bradikardi (< 60 bpm) disebabkan oleh lambatnya spontanitas SA.
  2. Sinus takikardi (> 100 bpm) disebabkan oleh cepatnya cetusan nodus SA.
Gangguan konduksi impuls dapat berupa (1) blok jantung yang menyebabkan blok/memperlambat konduksi, dan (2) proses reentry akibat blok searah dalam pathway konduksi (iskemia/IM). Gangguan aritmia dapat pula terjadi akibat kecacatan dari kanal ion tervoltasi (voltage-gated ion channel) secara genetik. Reentry adalah reaktivasi jaringan refraktori akibat blok konduksi. Manifestasi klinik pada pasien aritmia jantung antara lain memiliki denyut jantung yang mengalami peningkatan atau penurunan, ritme jantungnya dapat teratur atau tidak teratur, dan kompleks pada EKG-nya dapat sempit atau luas. Aritmia terjadi karena ada reentry, sirkuit menjadi abnormal. Contohnya pada WPW (Wolf Parkinson White) sindrom. 


WPW sindrom adalah gangguan beberapa sistem konduksi dari jantung yang sering disebut  sindrom pra eksitasi. Pada jantung normal, sinyal listrik hanya menggunakan satu jalur pada saat memasuki jantung. Saat sinyal listrik bergerak dari atrium menuju ventrikel diperlukan jeda agar jantung berdetak dengan tepat. Jika ada jalur konduksi ekstra, sinyal listrik bisa mencapai ventrikel terlalu cepat sehingga gejala yang dialami penderita WPW sindrom berupa takikardi, pusing, dada berdebar, dan serangan jantung (jarang terjadi).

Cardiac channelopathies merupakan salah satu bentuk aritmia akibat genetik. Jadi terjadi gangguan fungsi pada subunit kanal ionnya. Subunit kanal ion dapat mengalami gangguan fungsi akibat terjadi mutasi pada gen yang meregulasinya yaitu Ankyrin B dan LQT4. Akibatnya, potensial aksi dapat terjdadi lebih cepat, atau lebih lambat. 


Manajemen untuk antiaritmia berupa terapi nonfarmakologi dan farmakologi. Terapi nonfarmakologi untuk aritmia akut adalah carotid sinus massage. Terapi profilaksis (untuk mencegah penyebaran penyakit) dapat digunakan implamantable defibrillator (stimulator detak jantung). Terapi nonfarmakologinya dapat juga digunakan pacing yang bersifat sementara maupun yang permanen. 

Terapi farmakologi memiliki taget untuk automatisiti dan konduksi agar dapat mengembalikan ritme jantung ke normal, mencegah kekambuhan, memperbaiki konsekuensi hemodinamik aritmia, dan mereduksi risiko keparahan aritmia. Obat-obatan antiaritmia berdasarkan Vaughan-Williams Classification, terdiri dari beberapa kelas, yaitu:
  1. Kelas I, bloker kanal natrium (aksi membran secara langsung).
  2. Kelas II, yaitu antagonis beta adrenoseptor.
  3. Kelas III, yang dapat memperlama repolarisasi atau durasi potensial aksi.
  4. Kelas IV, yaitu bloker kanal kalsium.
  5. Selain itu antiaritmia dapat pula berupa agonis purinergik dan glikosida digitalis.  
Antiaritmia kelas I memblok kanal natrium, pada subunit alfa. Mempengaruhi aksi membran secara lansgung, efek ke fase 0 (potensial aksi) di mana terjadi reduksi laju maksimum depolarisasi.  Kelas I ini terbagi lagi menjadi 3, yaitu: (1) Kelas Ia yang memblok kanal natrium dan juga kanal kalium, sehingga terjadi prolong periode refraktrori. Contoh obat yang termasuk golongan Ia adalah quinidine, disopyramide, dan procainamide. Obat ini biasa digunakan untuk mencegah kekambuhan fibrilasi atrial; (2) Kelas Ib yang memblok kanal natrium, yang bekerja lebih efektif pada laju yang tinggi, contoh obatnya adalah lidocaine dan mexiletine. Obat ini biasa digunakan untuk pengobatan dan pencegahan takikardi ventrikular dan fibrilasi ventrikular; serta (3) Kelas Ic yang memblok kanal natrium, tanpa dipengaruhi laju, contoh obatnya adalah flecainide dan encainide. Obat ini biasa digunakan untuk mencegah fibrilasi atrial dan sindrom WPW.

Antiaritmia kelas II berperan sebagai antagonis beta adrenoseptor. Perlu diketahui bahwa adrenalin dapat menyebabkan aritmia melalui efeknya terhadap potensial pacemaker dan influks kalsium secara lambat. Aritmia terjadi pula akibat peningkatan aktivitas simpatis. Aktivitas simpatis ini mempengaruhi konduksi AV secara kritikal. Oleh karena itulah obat golongan ini berperan dalam meningkatkan periode refraktori dari nodus AV. Contoh obatnya adalah propanolol. Kegunaannya adalah untuk mencegah kekambuhan takiaritmia (fibrilasi atrial akibat aktivitas simpatis).

Antiaritmia kelas III, berperan dalam memperlama atau prolong potensi aksi miokardium melalui prolong interval QT dan periode refraktori. Mekanismenya masih belum jelas sepenuhnya. Namun, mungkin terlibat dalam penghambatan kanal kalium pada saat repolarisasi, meningkatkan influks kalsium selama prolong potensi aksi sehingga menyebabkan peningkatan fase after-depolarisation, interupsi reentrant takikardi, atau menekan aktivitas ektopik. Contoh obatnya adalah amiodarone dan satolol. Kegunaannya adalah untuk takikardi terkait sindrom WPW, efektif untuk takiaritmia supraventrikular dan ventrikular. Sotalol digunakan pada SVT dan menekan denyut ektopik ventrikular.

Antiaritmia kelas IV, berperan dalam memblok kanal kalsium. Konduksi pada nodus SA dan AV diperlambat, direduksi pula fase after depolarisation-nya sehingga menekan timbulnya denyut ektopik prematur. Contoh obatnya adalah verapamil dan diltiazem. Digunakan untuk menegah kekambuhan paroximal supraventricular tachycardia (SVT) dan mereduksi laju ventrikel pada pasien dengan fibrilasi atrial.

Selain antiaritmia di atas, terdapat adenosine yang tidak termasuk kelas antiaritmia, merupakan nukleotida purin yang dapat mengaktivasi reseptor A1 dan mempunyai efek terhadap nodus AV. Reseptor A1 ini berhubungan dengan kanal kalsium miokardium yang diaktivasi oleh asetilkolin. Konduksi nodus AV diperlambat, terhadi hiperpolarisasi dan memperlambat peningkatan potensial pacemaker, mengagntikan posisi verapamil karena lebih aman dengan waktu paruhnya yang pendek. Digunakan untuk terminasi SVT. 

Antiaritmia digoksin juga tidak termasuk ke dalam kelas antiaritmia, mekanismenya adalah memblok Na/K-ATPase pada membran sel sehingga meningkatkan natrium intrasel dan kalsium. Meningkatkan kontraksi miokardium, memperlambat konduksi AV melalui peningkatan periode refraktori nodus AV. Digunakan untuk fibrilasi atrial. 

Demikian yang bisa dituliskan. Semua materi saya peroleh dari handout kuliah dan hasil mencari dari sumber lain yang saya temukan di internet. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Jangan dijadikan sebagai referensi, gunakan untuk meningkatkan pemahaman saja. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung :)