Saturday, February 20, 2016

Catatan PKPA Industri #6

Berdasarkan pengalaman kami sebelumnya dalam menganalisis zat Z, kami memutuskan untuk melakukan analisis akurasi terlebih dahulu, karena parameter akurasi inilah yang paling sulit untuk  diperoleh hasilnya. Segera setelah 3 hari running HPLC-nya, kami melakukan perhitungan untuk mengetahui hasil analisis akurasinya. Benar dugaan kami, ternyata hasilnya buruk. Ya, jadi harus diulang lagi preparasi sampel dan analisisnya. Sementara untuk parameter SST (System Suitability Test), repeatability, dan linearity-nya sudah bagus. 

Mengenai akurasi, padahal sampel yang digunakan sudah sama seperti yang sebelumnya digunakan dalam menganalisis zat Z, yaitu yang sudah dibuat ulang yang pencampurannya menggunakan alat homogenizer. Sebenarnya zat Y masuk, namun zat X yang tidak masuk. Jika kedua zat tersebut dibandingkan, yang menjadi perbedaan kedua zatnya adalah bahwa zat X persentase overage (massa yang dilebihkan) lebih besar sekitar belasan kali lipat dibandingkan dengan zat Y, yang artinya memang zat X ini rentan sekali kehilangan potensinya, sehingga ketika dilakukan analisis kadarnya seringkali lebih rendah dari teoritis. 

Kemudian mba Lasti menghubungi bagian developer untuk meminta saran. Menurut mereka, preparasi sampelnya memang perlu diulang, kesalahan bisa terjadi saat preparasi sampelnya. Bagian developer saja, kata mereka, butuh 3 kali pengulangan baru bisa memperoleh hasilnya. 

Perlu diingatkan kembali bahwa yang dimaksud dengan akurasi adalah suatu parameter yang menunjukkan kedekatan hasil analisis yang diperoleh dengan data yang sebenarnya, sehingga perhitungannya tampak pada gambar di bawah ini.

(klik untuk memperbesar)

Jadi, untuk akurasi, yang menjadi kriteria penerimaan salah satunya adalah % perolehan kembalinya, cara menghitungnya adalah dengan membagi konsentrasi aktual dengan konsentrasi teoritis dikali 100%. Konsentrasi aktual adalah konsentrasi yang diperoleh dari hasil analisis, misalnya dari nilai area yang diperoleh jika menggunakan HPLC, sementara konsentrasi teoritis adalah konsentrasi yang diperoleh dari perhitungan menggunakan massa zat sebenarnya yang ditimbang kemudian dilarutkan dengan sejumlah volume pelarut tertentu. Untuk perhitungan RSD, telah dibahas sebelumnya di sini.

Selanjutnya dilakukan preparasi sampel untuk specificity, ruggedness, dan robustness. Alhamdulillah setelah analisis, hasilnya tidak ada yang bermasalah. Di bawah ini adalah contoh cara perhitungan robustness.

(klik untuk memperbesar)

Robustness adalah kemampuan metode analisis untuk tidak terpengaruh oleh perubahan kecil, seperti variasi yang sengaja dibuat dalam parameter metode analisis. Berdasarkan contoh perhitungan di atas tampak bahwa kriteria penerimaan untuk RSD gabungan (n = 12) tidak terpenuhi, karena lebih besar dari 2,0%.  Hal ini tidak mempengaruhi kegiatan validasi, asal RSD tiap kondisinya masih di bahwa 2,0%.  Namun informasi RSD gabungan yang tidak masuk ke dalam kriteria penerimaan bermanfaat untuk analis, yang artinya, dalam analisis zat ini tidak bisa digunakan pada laju alir (flow rate) 1,5 mL/menit. Jadi, secara tidak langsung, parameter robustness ini sangat bermanfaat untuk analis, untuk mengetahui seberapa valid data yang diperoleh jika ada suatu perubahan kecil dari metodenya, dalam contoh ini adalah laju alir, yang ternyata pada perubahan laju alir tidak bisa menjamin hasilnya valid, tetapi seandainya RSD gabungannya memenuhi kriteria penerimaan, maka analis bisa melakukan analisis ini baik pada laju alir 1,0 mL/menit, maupun pada 1,5 mL/menit.

Setelah selesai melakukan seluruh parameter pada validasi penuh zat X dan Y ini, kembali lagi diteruskan analisis zat Z yang kurang, yaitu robustness-nya. Setelah dianalisis, alhamdulillah masuk semua ke dalam kriteria penerimaan RSD tiap kondisinya (n = 6). Sementara RSD gabungan yang masuk hanya untuk robustness terkait sampel yang dibuat stres dan perubahan temperatur saja, sementara tidak masuk pada perubahan laju alir dan panjang gelombang. Yang penting RSD tiap kondisinya bagus, kembali lagi RSD gabungan hanya memberikan informasi tambahan saja untuk ke depannya jika analis ingin melakukan suatu perubahan kecil dan ingin mengetahui seperti apa pengaruhnya terhadap hasilnya apakah masih valid atau tidak, yang artinya untuk zat Z ini, jika perubahannya terkait sampel dan perubahan temperatur, tidak masalah, hasilnya akan tetap valid, tetapi tidak bisa digunakan atau akan memberikan hasil yang tidak valid jika ada perubahan laju alir dan/atau panjang gelombang.

Minggu-minggu terakhir diisi dengan penyusunan laporan validasi ini. Diskusi bersama pembimbing I, revisi, diskusi lagi, revisi, dan seterusnya hingga benar-benar final dan siap untuk ditanda tangani.

Di tengah penyusunan laporan ini, kami berkesempatan untuk mengunjungi departemen produksi dan warehouse. Menyenangkan sekali, melihat suasana baru di industri farmasi tersebut. Kami ditemani Pak Zaenal, beliau yang bertugas mengambil sampel dari warehouse (gudang) untuk dibawa ke laboratorium QC. Kebetulan hari itu beliau sedang bertugas untuk mengambil sampel yang dari departemen produksi, jadinya sekalian mengantar kami ke sana untuk berkunjung.

Sebelumnya, kami diberi dua baju, baju berwarna putih dan berwarna biru. Perbedaan warna baju menunjukkan perbedaan kelas kebersihannya. Sebelum masuk ke departemen produksinya, kami harus mengganti baju yang kami kenakan dengan baju putih yang disediakan. Tidak boleh menggunakan perhiasan, jam tangan, atau asesoris lainnya, apalagi gadget, tetapi diperbolehkan membawa buku catatan. Sesampainya di perbatasan kelas kebersihan antara ruang antara dengan produksi, kami gunakan pakaian khusus berwarna biru yang sudah disiapkan tadi, jadi pakaiannya lapis dua, ditambah masker dan shoes cover yang juga dobel. Jadi, ruang produksi kelas kebersihannya lebih tinggi dibandingkan ruang antara. 

Sesampainya di ruang produksi, kami disambut oleh Pak Niko, beliau salah satu penanggung jawab poduksi. Kami diperlihatkan seluruh kegiatan produksi mulai dari awal penerimaan bahan sampai pengemasan.

Ruangan penerimaan barang berhubungan dengan salah satu ruang yang ada di warehouse. Kemudian kami diperlihatkan kegiatan granulasi, pencetakan tablet, pengisian sirup ke dalam botol, hingga pengemasan. Tiap ruang kegiatan produksi, selalu disertai dengan label tanda kegiatan kebersihan, seperti "Untuk Dibersihkan", "Sedang Dalam Proses", dan lainnya. Label tanda "Untuk Dibersihkan" artinya peralatan yang ada di ruangan kotor, sehingga harus dibersihkan terlebih dahulu baru dapat digunakan untuk bets berikutnya. Sementara "Sedang Dalam Proses" artinya peralatan sedang digunakan, jadi tidak bisa digunakan untuk bets berikutnya. Sebenarnya ada label tanda lainnya yang menunjukkan bahwa kegiatan sedang ditunda dan akan dilanjutkan pada waktu tertentu, namun saya lupa nama labelnya.

Setiap operator yang bekerja dilengkapi dengan APD berupa penutup telinga, selain APD lainnya yang umum digunakan, karena penutup telinga ini sangat bermanfaat untuk mencegah pengurangan kemampuan pendengaran akibat suara alat yang cukup berisik di tiap ruang produksi. Alhamdulillah kata beliau belum pernah ada kejadian kecelakan kerja di sini.

Selanjutnya ke departemen warehouse, yang namanya gudang atau tempat penyimpanan, tentulah ruangannya amat besar dan luas. Setiap kali ke gudang, saya tertarik dengan forklift. Forklift ini merupakan kendaraan yang digunakan oleh operator untuk dapat mengangkut, menaikkan, atau menurunkan barang dari/ke rak-rak penyimpanan. Senangnya karena diperlihatkan oleh operator yang baik hati bagaimana cara kerja alat tersebut, suatu hal yang memang belum pernah saya lihat dan ingin sekali saya saksikan.

Ada versi kecil dari forklift, yaitu hand forklift yang biasa digunakan di departemen produksi untuk sekedar mengangkut barang yang dibutuhkannya. Untuk bisa diangkut, tiap barang dialasi dengan palet, sehingga bisa terhubung dengan dua sisi runcing seperti garpu yang ada pada alat pengangkut tersebut. Palet ini ada yang dari bahan kayu dan ada juga yang dari bahan plastik. Kalau di industri ini, yang bahan kayu digunakan untuk kegiatan ekspor, sementara yang untuk penyimpanan digunakan yang bahan plastik.

Forklift
[Sumber Gambar: performancepeople.com]

Hand Forklift
[Sumber Gambar: mgaforklift.com]

Palet Plastik
[Sumber Gambar: paletplastiksja.com]

Palet Kayu
[Sumber Gambar: hotfrog.co.id]

Di warehouse ini juga, sudah secara rutin dirawat, bekerja sama dengan pihak ketiga yaitu pest control, sehingga dipastikan tidak ada hewan pengerat, rayap, semut, serangga, musang, atau hewan apapun itu yang bisa mengganggu penyimpanan. Tiap barang/bahan yang masuk disimpan sesuai dengan kondisi penyimpanannya. Untuk bahan-bahan yang harus disimpan pada suhu rendah, ada ruangan khususnya, seperti freezer dengan ruangan yang besar. Petugas yang masuk ke dalamnya, harus menggunakan pakaian khusus.

Setiap barang atau bahan yang diterima oleh departemen warehouse dari pihak/perusahaan lain, di-sampling atau diambil contoh/sampel bahannya terlebih dahulu oleh bagian QC untuk diperiksa, apakah sesuai dengan CoA, apakah ada kecacatan, atau kesalahan pengiriman barang/bahan. Jika sudah oke, maka boleh digunakan oleh bagian produksi. Setiap produk yang sudah dikemas dan siap dikirim ke distributor juga disimpan di bagian warehouse ini, bagian QC juga akan memastikan terlebih dahulu produk yang akan dikirim dapat di-release atau tidak melalui serangkaian analisis.

Setiap bahan yang akan di-sampling, harus diterima oleh petugas QC melalui suatu airlock, yang merupakan batas kelas kebersihan. Hal ini penting untuk mengurangi risiko bahan terkontaminasi. Adanya sistem airlock ini akan membuat hanya satu pintu saja yang bisa terbuka. Jika satu pintu terbuka, maka pintu yang lainnya tidak bisa dibuka.

Sekian catatan dari saya. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung :D

Thursday, February 11, 2016

Catatan PKPA Industri #5

[Sumber Gambar: corealispharma.com]

Memasuki bulan kedua PKPA di industri farmasi ini, seharusnya  kami harus sudah dapat melihat data hasil analisis akurasi (yang diulang), specificity, dan robustness. Namun, berhubung mba Lasti mengambil cuti, kami tidak bisa mengerjakannya karena hanya analis yang sudah di-training yang diperbolehkan mengoperasikan alat HPLC. Jadi, selama kami di sini, yang membantu kami mengoperasikan alat HPLC adalah mba Lasti. Kami hanya mengamati saja ketika mba Lasti mengoperasikannya.  

Sebetulnya untuk bisa melihat hasil analisis saja, kami sudah diajari sebelumnya sebagai antisipasi ketika mba Lasti cuti. Namun tetap saja, ternyata setelah dipraktikan, tidak semudah yang diajari mba Lasti secara lisan. Untuk berikutnya, sepertinya kami harus mempraktikannya terlebih dahulu baru benar-benar bisa ditinggal oleh mba Lasti. 

Jadilah kami pada hari itu, mengerjakan hal lain yang bisa dilakukan, yaitu menyusun protokol full validasi dan report hasil analisis yang sudah ada datanya, seperti parameter presisi, linearity, dan robustness (terkait perubahan waktu analisis).

Esoknya, bersama mba Lasti, akhirnya kami dapat melihat hasil analisisnya. Parameter specificity-nya sudah bagus, tidak ada % interference sama sekali pada tiap macam sampel. Parameter robustness, hanya bagus pada robustness (terkait perubahan perlakuan sampel), sementara pada robustness lainnya tidak bagus sama sekali karena nilai RSD-nya sekitar 4an% yang seharusnya tidak lebih dari 2,0%. Sementara pada parameter akurasi, untuk konsentrasi 100% intake dan 150% intake sudah memenuhi syarat, namun untuk konsentrasi 50% lable claim dan 50% intake, tidak memenuhi syarat karena kadarnya kurang dari 97%.

Setelah berdiskusi dengan pembimbing I, akhirnya kami mendapat pencerahan mengenai parameter akurasi. Awalnya kami mengira bahwa analisis akurasi tiap konsentrasinya harus dilakukan pada waktu/hari yang sama (pada satu kali running yang sama) sehingga akurasi yang bagus adalah yang hasil analisis tiap konsentrasi pada waktu/hari tersebut semuanya bagus atau masuk ke kriteria penerimaannya. Jadi selama ini kami selalu mengulang keseluruhan konsentrasi hingga kami benar-benar bisa memperoleh hasil analisis yang bagus pada semua konsentrasi pada waktu/hari yang sama. Namun ternyata, beliau mengatakan bahwa tidak mesti dilakukan pada waktu yang sama, jadi kalau pada kasus kami hanya bagus konsentrasi 100% dan 150%, hanya perlu mengulang konsentrasi 50% lable claim dan 50% intake-nya saja. Tidak harus mengulang semuanya.

Kebetulan sebelum memperoleh hasil yang bagus pada konsentrasi 100% intake dan 150% intake ini, kami sempat memperoleh hasil analisis yang bagus pada konsentrasi 50% intake. Jadi, kami tidak perlu mengulang. Untuk konsentrasi 50% lable claim, kami tidak juga bisa memperoleh hasil yang bagus.

Parameter akurasi merupakan parameter yang sangat perlu diberikan perhatian yang lebih. Dibandingkan dengan parameter yang lain, menyelesaikan pengujian parameter akurasi ini benar-benar membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang tinggi. Butuh mengulang preparasi sampel beberapa kali baru bisa memperoleh data yang bagus yang artinya juga butuh waktu yang lama hingga akhirnya berhasil memperolehnya. Tiap zat aktif berbeda-beda karakteristik pengujiannya. Bersyukurlah bila ketika menguji parameter akurasi langsung bisa diperoleh data yang bagusnya hanya dalam 1 kali pengujian.

Masih mengenai akurasi, pada dasarnya parameter akurasi hanya dibutuhkan 3 tingkat/level konsentrasi yang berbeda dengan kriteria penerimaan kadar antara 97,0-103,0% serta RSD tidak lebih dari 2,0%. Namun pada project kami, pembimbing kami meminta kami untuk menganalisis 4 tingkat konsentrasi, yaitu 50% lable claim, 50% intake, 100% intake, dan 150% intake.

Yang dimaksud dengan 50% lable claim adalah konsentrasi 50% dari kadar yang ada pada label, misalnya suatu zat aktif kadarnya 50 mg pada komposisi yang tertera pada label, maka konsentrasi 50% lable claim adalah yang mengandung zat aktif 50% dari 50 mg itu, yaitu 25 mg. Sementara istilah "intake" menunjukkan kadarnya (bukan lagi lable claim) yang sudah ditambah dengan massanya yang telah dilebihkan selama proses produksi dalam rangka mencegah kehilangan potensi zat aktif selama proses produksi tersebut. Contohnya, zat aktif tersebut yang kadarnya 50 mg pada label, pada proses produksi dilebihkan sebanyak 50%, maka yang ditimbang untuk proses produksi adalah 50 mg ditambah 50% dari 50 mg, yaitu 75 mg. Artinya untuk membuat konsentrasi 50% intake, massa zat aktif yang dibutuhkan adalah 50% dari 75 mg, yaitu 37,5 mg, dan seterusnya untuk perhitungan konsentrasi 100% intake dan 150% intake.

Tujuan dimintanya kami untuk menganalisis empat tingkat konsentrasi tersebut adalah untuk melihat pada konsentrasi berapa analisis yang dilakukan masih bisa dilakukan dan menghasilkan data yang valid. Jika pada 50% lable claim (tingkat konsentrasi paling rendah) masih masuk datanya (memenuhi kriteria penerimaan), maka masih bisa dilakukan analisisnya pada tingkat konsentrasi tersebut, lalu ditetapkan 3 tingkat konsentrasi tersebut adalah 50% lable claim, 100% intake, dan 150% intake.

Namun pada pengerjaannya, berulang kali kami menganalisis, tingkat konsentrasi 50% lable claim tidak ada juga yang masuk ke dalam kriteria penerimaannya. Artinya memang pada tingkat konsentrasi tersebut, tidak bisa dilakukan analisis karena data yang dihasilkan bisa tidak valid. Sementara yang 50% intake-nya bisa masuk kriteria penerimaan, jadilah yang digunakan tingkat konsentrasinya pada parameter akurasi ini yaitu 50% intake, 100% intake, dan 150% intake.

Tidak mudah kami untuk pada akhirnya bisa memperoleh data yang masuk pada kriteria penerimaan. Pertama, kami mengulang preparasi sampel dengan cara yang sama, yaitu sampel placebo dan zat aktifnya dicampur dengan cara digerus menggunakan lumpang dan alu.  Namun ternyata hasilnya tetap sama, masih buruk. Lalu kami mencoba mengubah metode pengadukannya, yaitu dicampur dengan menggunakan alat homogenizer, barulah pada akhirnya kami bisa memperolehnya. Kesimpulan dari kami, penyebab parameter akurasinya tidak juga dapat diperoleh pada percobaan yang pertama adalah kurang homogennya pencampuran bahannya tersebut dan adanya penggunakan alat homogenizer lebih meyakinkan untuk digunakan dalam memastikan campuran bahan benar-benar homogen sehingga siap untuk dianalisis.

Berangkat dari pengalaman kami, saya menganjurkan kepada Anda yang sedang melakukan pengujian parameter akurasi untuk benar-benar memastikan terlebih dahulu bahan-bahan yang dicampurkan telah tercampur dengan benar-benar homogen. Gunakan alat homogenizer jika tidak yakin dengan metode penggerusan.

Dengan demikian, semua parameter yang dibutuhkan dalam rangka full validasi zat ini telah terlaksana dengan baik kecuali parameter robustness (terkait perubahan laju alir, temperatur, dan detektor). Namum pengerjaan parameter robustness ini tidak dilakukan dalam minggu ini. Kami memutuskan untuk mengerjakannya di lain hari, karena kami berfikir hari Jum'atnya lebih bermanfaat untuk digunakan dalam analisis zat X dan Y menggunakan metode A. Karena dengan mengerjakan preparasi sampel seharian di hari Jum'at, HPLC-nya bisa running (dijalankan) pada hari Sabtu hingga Senin (hari libur) yang mana ketika kami masuk di hari Selasa, seluruh data analisis sudah ada. Preparasi sampel yang kami lakukan pada hari Jum'at tersebut antara lain parameter SST, linearity, repeatability, robustness (stability), dan akurasi.

Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga hasil analisisnya bagus sehingga kami tidak perlu mengulang preparasi sampelnya. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Terima kasih sudah berkunjung :D

Saturday, February 6, 2016

Just Random Morning

[Picture Source: huffingtonpost.com]

"Hi, how are you? How is your study?"

Sometimes, I'd like to ask him simple questions like that. I really want to know his recent news. But, I couldn't do that. 

My father always ask me to do that, "It's okay, just want to know his recent news, it's a good step to keep the communication". Then, I replied, "Father, it's not as easy as you said. I'm not his close friend." Not only my father, my best friends also always push me to do that, "So how is it? Have you asked him about his recent news?". "Nope," I said. "Nuri, how many times we insist you to ask him like that, just be brave to start the communication."

I don't know. I'm just afraid. I don't have the courage. 

I still remember the first and the second times I started the communication. The first time was when my father firstly said to me to start searching my future partner and if I want to be with him, he asked me to start the communication. "If there is no communication, how could you be with him in the end?". Being frustrated, I directly connected him via faceb**k and ask him unimportant thing. I never imagined for what I did. Luckily, he was nice to me. But, I swore, not to do it again because I'm embarrassed. I didn't know what he thought about me after that. 

The second times was because my best friends, every time we meet they always ask me same question, "Nurii, how is the progress?". I said, "There is no progression as usual". "How could you be like that, remember what your father and your mother asked to you? You need to communicate with him or never be with him at all". I kept quite, then I said, "Okay, so how do I start the communication?". They dictated for what I should write word by word. His response was nice. But, I was afraid if I bothered him.

Ah, it's really difficult to start communication with him, even with the first and the second times I've started the communication, it didn't give me another courage to do it again for the third times. Really, I was still too afraid and embarrassed.

One day, there was an event that indirectly like a reunion. I never expected he would come, so I said yes when my friend asked me to come. How surprised I was when I noticed he came. If I knew that, I would say no and search a reason so I wouldn't come. I sill couldn't manage my feeling well. I couldn't make an eye contact with him. I was too embarrassed. When he called my name, I turned around to the source of the voice, I knew it was him, I just could say, "Yes...". Then, I directly ran away. I didn't intend to avoid him, I was just too embarrassed so I ran away from him after that. I was not too focus during the event, I just wanted to go home. I was not ready to meet him.

I'm embarrassed, because he is the one that make me couldn't fall in love to others and he is the one who makes me could understand what love is. I couldn't cover my feeling, that's why it's better for me to run away from him. It's my natural. Maybe for some people, they wouldn't be like me, they could stay cool every time they meet a person they love. But for me, I couldn't. Again, it's my natural. Despite from all of that, I try to be ready when there is a chance to meet him again.

Sometimes I'm afraid. I'm afraid for what his response next time. I'm afraid his response to me previously just only to be nice to me. I'm afraid if I communicate again for several times will really bother him. I'm afraid if in the end I know his true feeling that he never loves me. I'm afraid of having broken heart. I'm afraid. I'm afraid. I'm afraid.

They never know how I feel when what I'm afraid of really happens. I would be really really hurt. It's not like loving someone for an instant and in a week when you know he never loves you, you can easily erase him for an instant too. I'm not like that. I love him for 10 years and I really really need a big amount of times to really really erase him from my mind.

They can easily said that it's better for me to know the truth faster so I can move on faster too. I know they care about me but I give up if they keep pushing me to communicate with him. Once again, I'm afraid and I'm not ready yet to be hurt. After all, like the two sides of a knife, the end of the sides was the same. If I communicate with him, the worst case is knowing that he never loves me or if I never communicate with him, I will be waiting for nothing. Both choices have the same results, I would be hurt in the end.

So I decided to avoid both choices. I just let every things to happen and undergo what God has decided for me and I will prepare myself to be ready for it. So it's just my random morning. If you were me, what is your choice?
Posted on by Nurul Fajry Maulida | 4 comments

Monday, February 1, 2016

For The First Time Ordering Gojek

[Picture Source: go-jek.com]

I asked my father and my brother how to reach that place. It came to a conclusion that it's better for me to ride motorcycle by my own self. The problem was, I never go there, I hadn't surveyed that place before. My father had no idea because he also didn't know the location and how to get there. While my brother showed me the map. It spent about 15 minutes for me to understand the track. 

My friend said to me, "Why don't you use Gojek?". I answered, "It's too expensive, about 38K IDR from my home to that place". "How about if you take the train to Cawang Station first, then you can order Gojek from there, it will be cheaper," said my friend again. I immediately checked the apps, and ya, it's affordable, it would spend only 12K IDR, "It's a great idea! I don't need to worry about getting lost." My brother lent me his train card, and without even thinking, I hastily went toward train station, because I didn't want to be late. 

It was my first time ordering Gojek. A litle bit nervous, just wondering how if Gojek came late and in the end, I would also come late to the event. My friend said, "Order gojek, when you almost arrive in Cawang Station. Don't worry, Gojek will come quickly and on time".

I had charged my handphone before, so I could make sure I could make an order through the Gojek apps. Arriving in Cawang Station, I opened the apps and made the order. It said that the driver would come for 8 minutes. In a minute, the driver called me and asked me to wait him in the position he directed, so he could catch me easier. 

Not too long, as what the apps said, it spent around 8 minutes to finally meet the driver. 

***

Yay, even I came really early. One hour before the registration session opened. If I decided to go there by riding motorcycle by my own self, I wonder whether I could come on time or not, because I might get lost and it's a wasting times to find the path. I saved my handphone battery by turning it off so I could make another order to go back to Cawang Station. 

What a fantastic event! I met amazing professors, seniors, and also my other friends. As the event had finished, it's time to go home. Directly I ordered Gojek. In a minute, the driver called me and he confused how to reach the place. I also didn't really understand the location, that's why I ordered Gojek, because I believed, Gojek had known the track before.

I handed over my handphone to my friend. She said to the driver, "If you don't know the track, it's okay, I ask you to cancel the order." She said to me, "It's okay Nuri. You just need to make another order, if you waited him, it would be a wasting times. Order Gojek, if the driver knows the track."

Oh my, my handphone battery became low. I didn't expect it to happen, though I had turned it off before, because I hope I could still use it well. I needed the handphone to order Gojek. Until that time, I didn't successfully ordering Gojek. One by one had gone home. It's only my friend and I who were still stayed.

As her grabbike driver came means, it's me, the only one who was still stayed. However, she didn't let me be alone, she helped me ordering Gojek from her handphone. She said to me not to go anywhere, just stood still until Gojek driver came. She asked me to write down Gojek driver's number. The apps said, the driver would come in 10 minutes. After that, she left me because the driver seemed in a hurry.

I did what she asked me to do. Just stood still until the driver came. Actually, I doubt he would came as the first driver didn't know the track to reach the place. I would like to call him and ask him whether he knew the track or not. But, unfortunately, my handphone battery really died. I couldn't do anything to make sure me that he would come. It's like a gambling games. The driver might know the track and was on the way to reach the place or the driver didn't know the place and would like to cancel the order while my friend couldn't contact me to tell me about that, because my handphone was off.

I decided to wait for about 15-20 minutes. If the driver didn't come, I would like to use another public transportation. The security said that, at the end of the road, I could use public transportation to Cawang Station.

It could be like, waiting for something or waiting for nothing.

***

Luckily, thanks to God. The most awaited Gojek driver came for around 10 minutes. I was happy because I waited for something not nothing and because the timing I needed to wait was proper to what the apps promised.

***

Next time, it's really important for me to make sure the handphone is active so the communication with the Gojek driver can run well. If my handphone is getting low, I will never try to make an order any more. Because when the handphone is off, means miscommunication and miscommunication will ruin everything. But, overall, I give 5 stars for the excellent services. They give what they promise. 
Posted on by Nurul Fajry Maulida | No comments