Monday, April 25, 2011

Study Tour Jakarta-Bali-Lombok Hari pertama

Hari Kamis, 10 Desember 2009


Kami sudah dijadwalkan akan berangkat pukul 6 pagi dari sekolah. Tapi kemudian, dua orang teman kami telat datang, sehingga bus 1 yang kami tumpangi berangkat belakangan. Tepatnya setengah jam kemudian kami baru berangkat. Tidak masalah bagiku, menurutku meninggalkan teman yang juga akan ikut study tour sungguh tidak berperasaan. Seharusnya kita maklum, rumah mereka jauh, coba kalau kita yang berada di posisi mereka. Pastinya juga merasa bersalah kan? Tapi mau diapakan lagi, memang sudah takdir mereka.

Selama di bus sambil menunggu mereka, beberapa temanku sibuk main rubiks, begitu juga saya. Saya sangat senang sekali memiliki rubiks yang baru, sebelumnya saya sudah menitip kepada teman saya untuk membelikannya, selagi ia sedang berada di Departement Store untuk berbelanja keperluan study tour-nya. Sedangkan beberapa lainnya sedang sibuk mengoceh akibat dua orang teman kami itu yang tidak kunjung tiba, mereka tidak sabar untuk segera berangkat. Setelah mereka datang, barulah kami berangkat. Duh senangnya, kita akan ke Bali dan Lombok!

Belum juga jauh bus-nya berjalan, teman-temanku sudah merasa bosan duduk di bangku, kebetulan salah satu temanku menyempatkan membawa kaset DVD, lumayan bagus filmnya. Film yang pertama kali di putar adalah film animasi, saya tidak tahu judulnya, yang jelas itu adalah sebuah animasi yang bercerita kehidupan manusia dan semua makanan yang besar-besar, donat juga ada, yang saya heran kok bisa terjadi hujan makanan? Sudahlah, lagi pula selama filmnya diputar, saya tidak menontonnya dengan serius, sesekali mendengarkan musik yang ada di handphone saya.

Kukira selama kami tidak berbuat hal-hal yang tidak melelahkan, kami tidak akan lapar. Ketika belum saatnya makan siang, semua sudah merasa lapar. Banyak yang sudah membuka makanan yang dibawanya. Kalau saya hanya membuka satu atau dua. Menurutku, perjalanan kita masih jauh, jadi jangan dibuka dulu semuanya, nanti kalau sudah habis kan jadi sengsara. Walaupun saya hanya membuka sedikit. Kurasa saya sudah merasa kenyang, karena bukan hanya memakan makanan dari bawaan sendiri, tapi juga diberikan oleh teman-teman yang lain. Sungguh baik mereka.

Sekitar pukul 12.00 kami berhenti sebentar di Rumah Makan Aroma Cirebon, untuk makan siang. Kemudian melanjutkan perjalanan. Beberapa temanku sudah tidur di dalam bus. Sedangkan yang lain sibuk dengan kegiatan mereka sendiri, motifnya sama, yaitu menghilangkan rasa bosan. Tak begitu lama kami berhenti lagi di Rumah Makan Sari Rasa Kendal untuk sholat zuhur dan ashar, pada saat itu waktu menunjukkan pukul 16.00.

Seperti biasa, setelah dari rumah makan kami melanjutkan perjalanan, tak terasa kami sudah memutar banyak film, tak terasa pula ternyata sudah larut malam. Hampir seluruh isi bus tertidur. Terkecuali pak sopir. Bisa bahaya kalau sopirnya tertidur. Untungnya pihak travel memberikan kenyamanan yang sangat baik bagi pesertanya. Terbukti dengan tersedianya fasilitas-fasilitas untuk memenuhi kebutuhan kami. Kata pihak travel, bus 1, bus kami merupakan bus yang paling eksklusif dibandingkan dengan bus yang lainnya. Lihat saja AC-nya, tersusun dengan baik dan ada pengaturannya. Kemudian bangkunya yang memiliki bentuk sedemikian rupa sehingga perjalanan kami nyaman, dan juga tersedia banyak stop kontak kira –kira ada 12 untuk kebutuhan kami mengisi ulang baterai. Serta dilengkapi dengan 2 LCD yang modern. Coba badingkan dengan bus yang lain. Mereka memiliki AC namun mereka tidak bisa mengaturnya sendiri, kemudian bentuk bangkunya pun datar, stop kontaknya hanya beberapa, kira-kira cuma ada 4. Dan juga untuk menonton film, mereka masih menggunakan televisi biasa. Saya sangat bersyukur berada di dalam bus 1.

Ketika tertidur lelap, kami dibangunkan. Kurasa waktu itu menunjukkan pukul 23.00. Kami bergegas turun dari bus dan segera mengerjakan ibadah sholat magrib dan isya. Ada juga beberapa yang menyempatkan untuk buang air kecil. Tour leader-nya sangat baik, mereka tidak menjadwalkan kita kapan kita harus berhenti untuk buang air kecil. Setiap ada teman kami yang ingin buang air, selalu saja tour leader-nya mengintruksikan sopirnya untuk berhenti sebentar di pom bensin terdekat. Walaupun cuma 5 menit. Itu adalah waktu yang amat penting. Tak tahulah apa jadinya kalau-kalau kami mengompol.

Setelah selesai sholat, kami kembali lagi ke dalam bus. Kami sudah sangat mengantuk. Ingin rasanya sudah sampai di hotel dan merebahkan kepala kami di atas tempat tidur yang empuk. Tapi apa daya, perjalanan masih jauh. Jadi kami terpaksa harus tidur di dalam bus, tidur dalam posisi duduk itu kurang menyenangkan. Untungnya, besok malam kami akan sudah tiba di hotel, jadi tidak perlu lagi tidur di bangku. Ada hal lain yang membuat saya kurang nyaman selama di dalam bus, yaitu teman-temanku yang senang sekali menonton film horor, tidak tahukah mereka kalau mereka menonton film horor malah jadi tidak bisa tidur? Ditambah lagi setelah selesai menonton film, beberapa temanku yang duduk di belakang bercerita tentang pengalaman mereka yang menyeramkan. Mereka tidak tahu bahwa suara mereka yang kecil itu juga terdengar ke dalam seisi bus, dan hal itu sangat menggangu saya. Saya akui saya termasuk orang yang penakut, saya tidak senang menonton film horor, apalagi mendengar cerita-cerita mereka yang menyeramkan. Pada saat mereka menonton film horror, saya masih bisa mengalihkan suasana dengan pura-pura tidur. Ya.. walaupun percakapan dalam film horornya tetap terdengar ke telinga saya, saya tidak akan merasa takut, karena saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mendapatkan nilai jelek setiap listening ternyata berguna juga pada saat seperti ini. Tapi pembicaraan mereka tentang cerita yang menyeramkan setelah filmnya usai tetap saja terdengar walau saya menutup kedua telinga saya. Saya sangat sibuk pada saat itu, mencari cara bagaimana agar tidak mendengarnya. Akhirnya saya baru menyadari kenapa tidak dari tadi saya mendengarkan musik dengan volume yang paling tinggi. Syukurlah akhirnya tidak kedengaran. Saya bisa tidur nyenyak sekarang.

Study Tour Jakarta-Bali-Lombok Hari kedua

Hari Jumat, 11 Desember 2009


Sedang asik tidur nyenyak, kami dibangunkan untuk segera sholat subuh. Bus kami berhenti di salah satu pom bensin. Saya tidak melihat pukul berapa sekarang. Langsung saja saya bergegas untuk sholat subuh. Selesai sholat, sebenarnya saya tidak yakin apakah sekarang masih waktu subuh atau belum. Karena saya lihat, matahari sudah terbit. Mungkin saya salah lihat, mungkin karena keadaan saya juga yang masih mengantuk. Di dalam rundown, seharusnya kami sudah sampai di Rumah Makan Puritama untuk sholat subuh dan juga sarapan pagi. Jadi, setelah selesai sholat subuh di pom bensin tersebut, kami menuju Rumah Makan Puritama hanya untuk sarapan pagi. Saya juga diberitahukan, kalau tadi kira-kira pukul 2 pagi, kami melintasi lumpur Lapindo. Saya sangat menyesal tidak dapat melihatnya secara langsung. Sudah terlambat, saya hanya bisa menggigit jari.

Selesai sarapan pagi, perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Ketapang. Kira-kira pukul 12.00, kami baru sampai di sana. Alangkah tidak nyamannya kapal tersebut, baru masuk saja sudah tercium bau yang tidak sedap dari kamar mandi. Tapi kami tidak mempedulikannya. Di sana, kami terlihat seperti orang yang belum pernah naik kapal. Benar-benar heboh. Hampir semuanya tidak ada yang duduk, mereka menyempatkan untuk berfoto-foto di atas kapal.

Tidak sampai satu jam kami sudah sampai di Bali. Ketika sudah sampai di Bali, kami diperintahkan untuk mengatur waktu, sesuai dengan keadaan wilayah tersebut, yaitu dengan waktu WITA. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Lombok. Kira-kira pukul 15.00, kami berhenti di Rumah Makan Soka Indah. Sekaligus untuk sholat Zuhur dan Ashar. Sesampainya di sana, kami bertemu dengan siswa-siswi dari SMAN *** Jakarta. Tidak kusangka, pakaian para siswinya sangat minim. Apa mereka tidak diajarkan mengenai batasan? Temanku yang lain juga tidak menyangka, kami sangat bersyukur bahwa di antara kami tidak ada yang seperti itu.

Untuk bisa buang air kecil di Rumah Makan Soka Indah, kami harus membayar tiket terlebih dahulu seharga dua ribu rupiah. Tiket itu bukan hanya untuk ke kamar kecil, tapi juga untuk menikmati suasana pantainya yang indah. Sayangnya kami diburu waktu, sehingga kami tidak sempat ke pantainya. Sehabis sholat, kami langsung bergegas makan siang dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Lombok. Walau kami sudah di Bali, tapi tujuan pertama kami adalah Lombok. Kami hanya sekedar melewatinya saja, dan melihat kota Bali dari jendela bus.

Kira-kira pukul 17.00, kami sudah berada di Pelabuhan Padang Bay, untuk menyeberang menuju Lombok. Kapalnya sangat berbeda dengan kapal yang kami tumpangi menuju Bali. Sangat mewah, bahkan disediakan dengan AC dan juga televisi serta kursinya yang nyaman. Saya baru tahu kenapa kualitasnya jauh berbeda. Karena bisa rugi kalau kita menaiki kapal mewah menuju Bali yang memakan waktu tidak sampai satu jam. Sedangkan kapal yang kami tumpangi sekarang wajar kalau sangat modern, karena kita akan menghabiskan waktu sekitar 4 jam di sini. Coba bayangkan kalau kita menaiki kapal yang tidak nyaman itu selama perjalanan menuju Lombok, merupakan pengalaman yang sungguh tidak menyenangkan bukan?







Tapi setelah kami menaiki kapal tersebut, kami tidak langsung berangkat. Menunggu semuanya penuh, menghabiskan waktu sekitar satu jam. Seharusnya kami akan sampai pukul sembilan malam, jadi tertunda akibat hal tersebut. Dan yang disayangkan pula yaitu, kami terpisah dengan teman-teman kami dari bus 2 dan 4. Karena bus 1 dan bus 3 yang sampai duluan, maka kami yang menaiki kapalnya terlebih dahulu. Saya tidak mengerti kenapa kami dipisah, apakah kapasitasnya yang tidak mencukupi? Atau keduluan dengan truk-truk yang juga ingin menuju Lombok? Tak tahulah, yang jelas kami tidak ingin dipisah.







Karena waktu yang dibutuhkan untuk menuju Lombok cukup lama, maka kami diberikan makan malam berupa dinner box. Jujur, saya lebih senang makan malam dengan prasmanan. Tapi... ya sudahlah, daripada tidak makan malam sama sekali. Ketika sudah memasuki waktu Magrib, suasana di sekitar kapal, sangat indah. Apalagi pada saat sudah hilang mega merah, langit dipenuhi dengan bintang. Sungguh indah. Sayang, saya lupa dengan nama-nama rasi bintang. Waktu di Jakarta, saya tidak begitu tertarik dengan rasi bintang. Karena yang saya lihat di sana, rasi bintangnya itu-itu saja. Seperti scorpion. Jadi, rasi bintang yang lainnya saya tidak tahu, karena saya belum pernah melihat langsung. Dan dari sini, kita bisa lihat langit seperti lautan bintang, berbagai macam rasi bintang ada di sini. Sekali lagi saya katakan, “Sungguh amat indah!” Sayang, saya tidak bisa mendokumentasikannya, hasilnya jadi kurang bagus, tidak tampak asli. Sepertinya, ini merupakan pengalaman indah yang tidak akan saya lupakan.

Di dalam kapal, di tengah lautan, kami menyempatkan untuk sholat magrib dan isya. Setelah itu, beberapa temanku ada yang ke ruang tv, dan ada juga yang lebih memilih menikmati pemandangan di atas kapal. Kalau saya termasuk beberapa orang yang menonton televisi. Karena di luar sangat dingin dan berangin. Di dalam, kami dimanjakan dengan kursinya yang empuk, sehingga ada juga dari temanku yang tertidur lelap. Sedangkan saya menghabiskan waktu dengan menonton televisi, dan sesekali menanyakan kabar dari teman saya yang kapalnya terpisah dengan kami. Ternyata setelah satu jam kami berlayar, mereka baru mulai berangkat. Itu berarti, kami akan sampai di hotel lebih dulu dari mereka. Sebenarnya, sejak masih di rumah, saya agak takut menaiki kapal. Karena baru-baru saja, terdengar berita tenggelamnya kapal laut akibat gelombang tinggi. Dan saya takut, hal itu akan terjadi di dalam perjalanan kami, apalagi perjalanannya itu memakan waktu yang cukup lama. Saya juga sedikit takut ketika berada di tengah laut. Benar-benar tidak nampak sebuah pulau pun. Saya sempat berpikir, bagaimana kalau memang hal itu benar terjadi. Saya bersyukur bisa berenang, tapi sampai kapan akan berenang kalau tidak juga menepi, akhir-akhirnya juga akan mati. Apalagi saat saya melihat betapa birunya warna laut, bukankah itu menandakan bahwa lautnya sangat dalam. Saya juga sempat melihat adanya pusaran kecil di laut. Sesekali saya juga meperhatikan jam, sudah berapa lama saya di sini? Saya hanya bisa pasrah dan memohon pertolongan Allah, serta yakin bahwa apapun yang terjadi itu sudah ditakdirkan.

Akhirnya, empat jam itu pun berlalu, dan kami sudah sampai di Lombok. Kira-kira pukul 23.30, kami sudah berada hotel, “Holiday inn” namanya. Sebelumnya, di dalam bus, kami sudah diberi tahu nomor kamarnya. Nomor kamar saya adalah 545. Untungnya ada teman sekamar saya yang juga sekapal dengan saya, Resti namanya. Kalau dia naik bus 2 atau 4, bisa-bisa saya sampai di hotel sendirian. Sebelumnya sudah saya katakan, kalau saya ini penakut. Bagaimana jadinya saya, jika saya berada di kamar sendirian di tengah malam dan tidak ada teman yang menemani, tamatlah riwayat saya.



Letak kamar kami dari lobi hotel lumayan jauh, kami mesti melewati pepohonan di samping kiri kanan jalan, walaupun pepohonan itu ditata dengan rapi tetap saja menyeramkan, ditambah lagi suasana malamnya yang gelap dan sedikit menyeramkan, serta suara-suara serangga yang kecil pun terdengar membuat saya makin merinding. Jalan setapak menuju kamarnya itu bercabang-cabang, awalnya kami bersama-sama dari lobi hotel menuju kamar, satu persatu dari teman saya melewati jalan setapak yang berbeda agar dapat sampai di kamarnya, dan akhirnya tinggal saya berdua dengan teman sekamar saya, jantung saya makin berdegup kencang. Tak lama akhirnya sampai juga di depan kamar.



Selama di perjalanan menuju kamar, saya baru mengerti, kamar-kamarnya diletakkan terpisah dengan yang lain, misalnya dalam satu rumah ada 4 kamar, dua di atas dan dua di bawah. Tapi antara kamar yang satu dengan yang lainnya tidak berhubungan, kamar yang di atas dihubungkan dengan tangga. Saya dan teman sekamar saya kedapatan kamar yang di atas. Kami agak kebingungan bagaimana caranya menaikkan koper kami yang berat itu ke atas, untungnya ada petugas hotel yang langsung sigap membantu kami menaikkan kopernya.





Setibanya di kamar, Resti begitu sibuk merapikan barang-barangnya. Sedangkan saya hanya mengambil beberapa pakaian yang akan saya gunakan untuk malam ini. Resti mandi duluan, saya rasa dia pasti bercanda, kalau dia berada di kamar mandi, berarti saya sendirian di kamar. Perasaan paranoid di setiap tengah malam itu sering menghantui saya, tirai yang belum tertutup saja membuat saya ketakutan. Di dalam pikiran saya hanya ada sugesti bahwa hantu datangnya pada saat tengah malam. Saya harus bisa menghilangkan itu, siapa juga yang mau jadi orang yang penakut, tapi untuk mulai memberanikan diri itu perlu tahapan. Kemudian Resti menutup tirainya dan mencoba menenangkan saya dan juga memberitahukan saya bahwa tidak akan terjadi apa-apa, serta dia juga menyarankan saya supaya menyalakan televisi, agar tidak terlalu hening.

Jendela besar itu terletak di sebelah kanan tempat tidur. Ada dua tempat tidur ukuran orang dewasa sehingga cukup untuk 4 orang. Saya lebih memilih tempat tidur yang dekat dinding kamar mandi dibandingkan dengan yang dekat jendela. Segera saya menyalakan televisi sambil berbaring di atas tempat tidur dan juga menutupi bagian kanan kepala saya agar pandangan saya ke jendela terhalangi.

Setelah Resti selesai mandi, saya memberanikan diri ke kamar mandi untuk membersihkan diri juga, awalnya saya berpikiran untuk tidak mandi, tapi daripada tidurnya nanti tidak nyaman, terpaksa saya mandi juga.

Sekitar satu jam kemudian, dua teman sekamar saya dari bus 2 datang, mereka adalah Leista dan Amel. Rasa takut di suasana tengah malam itu mulai hilang, dengan adanya mereka suasana kamar menjadi hangat, dan saya mulai menikmati fasilitas kamar hotel dengan tenang. Sesekali saya memberanikan diri untuk turun dari tempat tidur dan merapikan pakaian, mengganti channel televisi, mengobrol dengan yang lain, mengisi ulang baterai, dan sebagainya. Dan baru sekitar pukul 02.00, kami tidur.





Study Tour Jakarta-Bali-Lombok Hari ketiga

Hari Sabtu, 12 Desember 2009


Sekitar pukul 05.30 kami baru bangun. Kami langsung bergegas untuk sholat subuh, kami takut kehabisan waktu subuh. Sesudah sholat subuh kira-kira pukul enam pagi kami melanjutkan tidur kami dan bangun kembali pukul tujuh. Ketika sudah saatnya bangun, segera kami membersihkan diri. Untuk urusan mandi, Resti selalu mandi yang paling pertama. Sebenarnya tidak adil. Tapi, tak apalah, biarkan saja. Lagipula saya juga masih malas beranjak dari tempat tidur. Sambil menunggu Resti, temanku Leista sibuk membagi-bagikan makanan. Katanya banyak makanan yang tidak termakan. Bahkan ia sangat senang kalau kami mau menghabiskan makanannya.

Yang saya tidak senang dengan kamar hotelnya adalah bahwa toiletnya tidak dilengkapi dengan selang air, malahan dengan tisu. Seharusnya pihak hotel tahu bahwa turis tidak hanya dari luar negeri, tapi juga ada yang dari lokal, mereka seharusnya juga memperhatikan kebiasaan orang lokal, kami tidak terbiasa menggunakan tisu. Teman sekamarku juga setuju. Akhirnya kami mengatasinya dengan mengisi bathtub terlebih dahulu dan memanfaatkan gelas sebagai pengganti fungsi gayung. Selebihnya, hotel ini benar-benar nyaman, rasanya tidak ingin keluar dari hotel.

Akhirnya waktu untuk sarapan pagi tiba, kami berempat bersiap-siap menuju tempat makan. Pelayan di sana sangat baik dan ramah, bahkan ketika kami baru keluar sebentar dari kamar, mereka mengucapkan selamat pagi kepada kami. Dan kami juga membalas sapaan mereka dengan senyuman.

Makanan yang dihidangkan sangat banyak, saya lebih memilih bubur sebagai sarapan. Tetapi bahan-bahannya belum diracik, jadi kami harus mencampurnya sendiri sesuai selera. Biasanya saya makan bubur yang sudah diracik oleh tukang buburnya sendiri. Jadi, pada saat sarapan itu, saya asal mencampur semua bahan yang ada. Dan hasilnya sangat asin, jadi tidak nafsu makan. Akhirnya saya hanya minum segelas jus.



Kami baru melanjutkan perjalanan kira-kira pukul sepuluh pagi, seharusnya kami berangkat lebih awal. Tapi ada satu temanku yang belum juga siap. Dia telat bangun. Katanya teman-temannya tidak ada yang membangunkannya. Kasihan sekali dia. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Desa Banyumulek. Saya tidak tahu kenapa tidak sesuai dengan rundown yang diberikan. Seharusnya kami mengunjungi Pura Candi Narmada. Tapi, tak apalah, yang penting kami senang.

Selama kami di perjalanan kami dipandu oleh seorang tour guide, sayang saya lupa namanya. Sesuai dengan profesinya, saat busnya baru berjalan, dia sudah mulai mengoceh. Pertama dia menceritakan kami tentang Lombok. Katanya Lombok artinya lurus. Jumlah penduduk Lombok sekitar 3.020.000, dan sekitar 85% penduduknya beragama Islam. Lombok merupakan salah satu pulau terbesar yang ada di NTB. Katanya juga Lombok berasal dari Kerajaan Karang Asem yang ada di Bali, orang Bali yang ada di Lombok memiliki status lebih tinggi dibandingkan dengan suku asli Lombok, yaitu suku Sasak.

Sebelum sampai di Desa Banyumulek, tour guide-nya menceritakan tentang desa tersebut. Desa Banyumulek terkenal dengan kerajinan gerabahnya. Katanya, tanah liat yang ada di gunung diambil oleh anak lelaki, sedangkan yang membuat gerabahnya adalah anak perempuan.

Sesampainya kami di Desa Banyumulek, kami diperlihatkan bagaimana cara membuat gerabah. Melihatnya mudah, tapi saya tidak mau mencoba. Saya lebih tertarik dengan gerabah-gerabah yang sudah jadi. Sayang, harganya sangat mahal. Saya hanya membeli sebuah gerabah. Daripada tidak ada kenang-kenangan sama sekali. Katanya, harganya mahal karena sesuai dengan pembuatannya, membakarnya saja butuh suhu yang tinggi dan waktu yang lama. Di sana kami tidak terlalu lama, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Desa Suka Rare.







Seperti biasa, sebelum sampai di tempat tujuan, tour guide-nya menceritakan tentang desa tersebut terlebih dahulu. Katanya, Desa Suka Rare berasal dari dua kata Suka dan Rare. Suka artinya ikhlas dan Rare artinya sederhana. Suka Rare terkenal dengan kerajinan songketnya. Katanya, materialnya diikat terlebih dahulu sebelum diberi warna.

Setibanya di Desa Suka Rare, saya kira kami akan dibawa melihat-lihat desa tersebut. Namun kami dibawa ke sebuah galeri atau tepatnya mungkin seperti sebuah museum, yang tersedia banyak sekali koleksi kain songket, berbagai lukisan, dan yang sangat menarik adalah terdapat tempat pembuatan kain songket, di sana kami diperlihatkan betapa sulitnya membuat kain songket. Pertama, kita perlu mengikat satu persatu benang yang ada dengan kekencangan yang berbeda, ini dimaksudkan agar setelah diberi warna menghasilkan gradasi warna yang bagus. Bayangkan saja ada beribu atau mungkin ratusan ribu helai benang yang harus diikat sampai tidak ada sedikit pun rongga yang terlihat, pokoknya semua benang harus tertutupi. Baru kemudian diberi warna. Belum sampai di situ kesulitan yang ditunjukkan, kita masih harus menenunnya menjadi kain, butuh waktu yang sangat lama baru bisa menjadi kain songket. Mahal, sudah pasti karena pembuatannya sangat sulit. Saya tidak membeli satu pun di sini, saya hanya menyempatkan untuk berfoto-foto. Oh iya, kata tour guide-nya, gadis seumuran kami, kalau belum bisa menyongket, belum bisa menikah. Karena anggapan mereka gadis yang tidak bisa menyongket dan belum memiliki desain kainnya sendiri berarti dia adalah gadis yang malas, dan tidak patut dinikahi.













Setelah berkunjung ke desa Suka Rare kami akan melanjutkan tour ke Desa Sade, kata tour guide-nya di sana kita akan melihat cara hidup mereka sehari-hari. Sebelum bercerita tentang desa tersebut, dia mengatakan bahwa kita melewati sebuah makam batu layar, katanya, penduduk datang berziarah ke sana, ingin meminta sehat, rezeki, dan sebagainya. Makam tersebut merupakan makam keramat, makam seorang penyebar agama Islam di sana. Katanya juga sebelum sampai di Lombok, kapalnya hancur, dan yang ditemukan hanya serpihan kayu kapal tersebut, dan yang dikuburkan di makam tersebut adalah serpihan kapal tersebut.

Dia juga bercerita tentang penduduk Lombok yang beragama Islam wetu telu. Mereka adalah orang-orang yang baru diajarkan tiga perkara oleh seorang sunan, yaitu syahadat, sholat, dan puasa. Dan untuk menyempurnakannya menjadi lima, sunan tersebut harus kembali dulu ke daerah asalnya, di Jawa. Sunan tersebut tak kunjung kembali ke Lombok. Sampai akhirnya datang orang Bali yang membawa misi keagamaan. Dan penduduk tersebut mengira bahwa itu adalah ajaran yang akan dilengkapkan oleh sunan. Sehingga peribadatan mereka tercampur dengan ajaran Hindu. Jadilah mereka biasa sholat di Pure. Bahkan bila ada salah seorang yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, boleh menitip sholat dengan seorang kyai. Agak aneh memang, tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Rumah adat Desa Sade, atapnya terbuat dari alang-alang, sedangkan lantainya terbuat dari kotoran kerbau. Suku sasak memiliki banyak sekali kegiatan ritual. Contohnya ketika seorang ibu sedang hamil, pada usia tiga bulan, mereka melakukan acara cuci perut, kemudian ketika usia sudah enam bulan, mereka melakukan cuci perut lagi untuk yang kedua kalinya. Setelah bayinya lahir, mereka melakukan potong tali pusat, dan setelah sudah bisa berjalan, dilakukan ritual turun tanah. Kalau anak belum melakukan ritual turun tanah ini, maka anak tersebut tidak diizinkan untuk menginjak bumi. Suku sasak juga memiliki kebiasaan yang unik. Antara suami dan isri tidur terpisah. Anak yang berusia delapan tahun ke atas tidak boleh tidur di rumah. Mereka tidur dengan sebayanya, di sebuah rumah yang juga merupakan kumpulan anak-anak yang sebayanya.



Tour guide-nya juga bercerita bahwa di Lombok juga terdapat kasta-kasta yang ada di Bali namun tidak begitu detail. Kalau wanita yang berstatus rendah menikah dengan pria yang berada dalam status tinggi, status wanita tersebut tetap tidak berubah. Sedangkan anaknya ikut dengan ayahnya yang berstatus tinggi. Lain dengan seorang wanita yang berstatus tinggi menikah dengan pria yang berada dalam status rendah. Anaknya dibuang, tidak boleh bertemu dengan orang tuanya. Kalau ingin bertemu harus di jalan. Dan tidak ada pesta pernikahan dalam kondisi seperti ini.

Sampailah akhirnya kami di desa Sade. Hampir setiap penghuni rumah menjajakan hasil kerajinan tangannya di depan rumah. Kerajinan tangan tersebut berupa pahatan dari gading gajah dan juga ada yang dari kayu, rupanya pun beragam, ada yang berbentuk cicak, kadal, katak. Ada juga yang menjajakan kain buatannya. Saya hanya membeli tiga buah gantungan kunci, pahatan dari kayu dan berbentuk cicak. Di dalam bertransaksi kami agak sedikit kesulitan, karena umumnya penduduk desa Sade belum bisa membaca dan hanya bisa berbicara bahasa Indonesia sedikit-sedikit. Kata tour guide-nya, kalau kita sudah menanyakan harga berarti kita pasti akan membeli, tidak boleh dibatalkan jual beli tersebut, kalau kita tidak bisa bayar sekarang, maka ia akan tetap menunggu, sampai dibayar juga. Saya turut prihatin dengan para penduduk desa Sade, menurut saya mereka memiliki potensi yang sangat besar dalam meningkatkan kehidupan ekonomi mereka. Salah satunya yaitu pariwisata. Hanya beberapa saja yang tahu keberadaan mereka.









Tidak terasa sudah lama berjalan-jalan menyusuri desa tersebut tahu-tahunya sampai di tempat semula lagi, di mana kami tadi baru akan melakukan perjalanan menyusuri desa Sade.

Selanjutnya kami melanjutkan tour menuju Pantai Kute, seperti biasa tour guide-nya mulai bercerita. Kali ini dia becerita tentang kebiasaan lainnya dari penduduk Pulau Lombok, yaitu di dalam setiap pernikahan pasti dimulai dengan kawin lari. Jadi prosesnya begini, dua orang pasang yang sudah sepakat untuk menikah, kemudian memutuskan untuk kawin lari, yang gadis dibawa ke rumah prianya. Keluarga si gadis kemudian melapor kepada kepala desa. Akhirnya dipanggillah keluarga pria tersebut. Kemudian mereka membicarakan mengenai gantiran (ganti rugi) akibat perbuatan anak laki-lakinya itu. Dan akhirnya kedua pasang sejoli itu pun dinikahi.

Tour guide-nya juga bercerita tentang sebuah legenda asal mulanya cacing Nyale. Jadi, dahulu ada seorang putri yang dihadapkan dengan tiga orang putra mahkota yang ingin menikahinya. Putri tersebut tidak ingin ada yang sakit hati. Untuk menjawab persoalan tersebut, sang putri memutuskan untuk bersemedi. Dalam mimpinya, ia terjun ke laut. Dan keesokan harinya, ia mengajak ayahnya beserta ketiga putra mahkota dan juga rakyatnya ke tepi pantai yang curam, ia menjanjikan akan menjawab persoalannya tersebut. Akhirnya ia memutuskan bahwa dirinya bukan untuk satu orang, tapi untuk semua. Akhirnya ia terjun dari tebing pantai dan dipercaya bahwa cacing nyale merupakan perwujudan rambut putri tersebut. Oleh karena itu di setiap bulan januari, terdapat pesta bau nyale. Bau artinya mencari, disebut nyale karena warnanya yang beragam, jadi bau nyale artinya mencari cacing nyale. Karena pada bulan tersebutlah cacing-cacing tersebut keluar dari karang meninggalkan telur nyale. Kemudian cacing nyale tersebut dipepes dan diletakkan di sawah.

Tapi kami tidak langsung ke Pantai Kute, melainkan berhenti sebentar di sebuah rumah makan, yang juga tidak jauh dari Pantai Kute. Di rumah makan tersebut dindingnya bergambarkan seorang putri yang akan terjun ke laut dan dibelakangnya terdapat tiga putra mahkota, sama seperti legenda yang diceritakan oleh tour guide sebelumnya. Di sana kami juga diberi kesempatan untuk sholat Zuhur dan Ashar terlebih dahulu baru, melanjutkan perjalanana ke pantai Kute. Sebelumnya kita mengenal pantai Kute yang ada di Bali, ternyata di Lombok juga ada sebuah pantai yang namanya pantai Kute.

Sebelum sampai di Pantai Kute atau Tanjung A’an, kami di dalam bus sibuk dengan pemakaian sunblok. Semua tidak ingin jika nanti kulitnya menjadi gosong. Memang pada saat itu suasananya sangat panas dan menyengat.

Sampai di sana semuanya terpesona dengan pantainya yang begitu alami, seperti belum tersentuh oleh tangan manusia. Menurutku lebih baik kita tidak ke sana, takut kalau kedatangan kami akan merusak keasrian pantai tersebut. Tapi kalau dipikir-pikir, kapan lagi kita menikmati pantai yang begitu indah, pantai yang tidak akan kita bisa lihat di Jakarta.

Di tepi pantai terdapat batu besar. Batu tersebut memisahkan area pantai menjadi dua, yaitu pantai yang berpasir sebesar garam yang berwarna putih dan yang sebesar merica yang berwarna sedikit abu-abu. Walaupun di area pantai yang pasirnya sebesar garam, namun isinya sangat padat, jadi sangat mudah kaki ini melangkah. Berbeda dengan yang sebesar merica, hanya bentuknya saja yang besar namun isinya kurang padat, jadi agak sulit untuk melangkah. Teman sekamarku Amel sempat membawa dua botol, lalu mengisinya dengan kedua pasir tersebut, untuk kenang-kenangan katanya. Saya tidak sempat memikirkan untuk hal itu, tour guide bus 1 kami tidak memberitahukan kalau ternyata pantai kute ini terdiri dari dua pasir yang berbeda. Di sana kami sangat puas berfoto-foto. Apalagi pada saat di atas batu besar itu. Anginnya sepoi-sepoi.

Sayang sekali, ketika kami sudah harus kembali ke hotel dan membersihkan pasir-pasir yang melekat di pakaian kami di toilet, dua botol temanku yang berisi pasir itu diambil orang lain, sangat sedih rasanya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya kira dia pasrah sampai di situ. Ternyata ketika bus sudah akan berangkat, dia menyempatkan diri berlari untuk mengambil lagi pasir tersebut, padahal lumayan jauh jarak bus ke laut. Syukurlah, saya turut senang mendengarnya.





Kami makan malam tidak di hotel, melainkan di sebuah rumah makan yang luar biasa enak ikan bakarnya. Lezat sekali, rasanya ingin menambah. Rumah makan tersebut terbagi menjadi beberapa bagian, yang saya duduki adalah bagian yang menggunakan meja dan kursi sedangkan beberapa temanku ada yang lesehan. Sama saja nyamannya, cuma kalau yang lesehan, kita mesti lepas alas kaki terlebih dahulu.

Kira-kira pukul 23.00 kami baru sampai di hotel. Lantas kami sholat Magrib dan Isya. Kemudian membersihkan diri dan juga bersiap-siap untuk segera check out esoknya. Kali ini kami memutuskan untuk mengundi siapa saja yang akan mandi terlebih dahulu. Agar terasa adil, karena Amel temanku dari tadi mengeluh karena selalu kebagian waktu mandi yang terakhir.

Di sela-sela kesibukan kami membereskan barang-barang untuk check out besok, sering
terdengar telepon iseng, kadang salah sambung, kadang pula terdengar suara aneh terus menerus. Lantas kami tutup telepon tersebut. Haha, ternyata mereka itu teman-temanku dari kamar lain yang iseng menelpon. Karena untuk saling berhubungan dengan yang lain kita hanya perlu menekan nomor kamarnya saja.

Selesai beres-beres dan juga membersihkan diri, kami langsung tidur, agar besok bisa bangun lebih pagi.