Sunday, December 04, 2011

Visiting Rumah Singgah Bina Tulus Hati

I want to share my story about my visiting to rumah singgah Bina Tulus Hati. I visited it with my other friends, the following picture is about my picture together with my friends. From the left, it's Rere, Nurul (me), Anna, Ainina, Gabby, Gina, Sari, and Tasya. Actually there is a kid, he is one of the kids who usually go to this home.


The reason why we visited that, is because we are given by HMD Dermatol (one of the divisions in department organization) an assignment to teach the kids in that place.

We visited that on Saturday, November, 12th 2011. That place is located in a housing at the back of ITC Depok mall. We left for that place together from MIPA faculty on 03.30 pm. And we arrived in that place on 4.30 pm.

The first time we visited that place, we didn't expect how enthusiastic the kids was, they directly approached us and kissed our hand (it is a habit of Indonesian people that every younger person should kiss the hand of a person that is older than them). We felt that our attendance was really expected by them. Before we taught them, we were given by our mentor, what kind of kids that we had to teach, so there was a person that taught kids that is in the first grade of elementary school, also there is a person that taught kids that is in the second grade of elementary school, and so on. 

These are the pictures when we were teaching them.
It's Gabby and Ainina when they were teaching the kids
It's Tasya and the kids
It's me together with the kids who were seriously studying

It's Gina and Rere with the kids

It's Sari and the kids
It's Anna and the kid
 When the time to study was over, before the kids went home, we gave them snacks, in order to make them happy studying together with us.

 

That's all the story about my visiting to rumah Singgah Bina Tulus Hati, I hope I can go back to that place and back to teach them again. Because if it's not us as a college student, who will make the Indonesian generation intelligent?

Thanks for reading my post ^.^

Saturday, December 03, 2011

Seminar Mahasiswa Berprestasi 2011 sesi 2

Sesi kedua ini diadakan setelah para peserta selesai ishoma, pada sesi tersebut diadakan sharing bersama dengan juara II Mapres UI 2010 yaitu Andreas Senjaya dan alumni UI yaitu Riza Perdana Kusuma (GM PT Garuda Indonesia). Luar biasa sekali mendengar cerita-cerita yang dibawakan oleh kedua pembicara tersebut.

Dulu pak Riza sangat ingin sekali masuk UGM, sebagai orang yogya, UGM memang merupakan universitas favorit. Pada saat mengikuti ujian tertulis, pak Riza gagal masuk UGM, hal ini menyebabkan dia depresi berat, hampir sebulan tidak keluar rumah karena dia malu tidak dapat masuk universitas negri. Namun setelah itu, dia bangkit, dan kemudian mencoba menjalani aktivitasnya di UII. Di universitasnya itu beliau berusaha keras agar dapat mendapatkan yang terbaik, dan akhirnya setelah lulus beliau berhasil cumlaude. Setelah kelulusannya itu, dia langsung disodorkan pekerjaan tanpa harus mencarinya terlebih dahulu, namun dia harus memilih satu dari ketiganya tersebut. Karena orang tuanya adalah orang yang religius, maka dia tidak memilih pekerjaan di bank karena menurut ayahnya bank itu banyak ribanya, haram katanya. Kemudian juga dia tidak jadi memilih salah satu pekerjaannya lagi, saya lupa alasannya, dan akhirnya dia mengikuti pilihan ayahnya untuk mengambil pekerjaan yang dari Garuda Indonesia saja. Awalnya dia bekerja di Sumatera atau di dekat daerahnya saya lupa, pokoknya setelah itu karena dia terus over target maka dia dipindahkan ke Jakarta. Dari sinilah kalau tidak salah, dia melanjutkan studinya di Universitas Indonesia, sehingga bisa menjadi alumni UI. Selama di Jakarta dia terus bekerja keras hingga akhirnya dia ditawari untuk menjadi GM (General Manager) di Jepang. Atasannya pernah bertanya pada dia apakah dia yakin bisa beradaptasi di sana, kata atasannya, "Sebagai GM, kamu seharusnya bisa main golf, gimana nanti kalo mau nego?" pak Riza mengakui kalau dia tidak senang main golf, masalah nego bisa diatur katanya. Akhirnya dia jadi berangkat ke Jepang. Pekerjaan di sana cukup berat, karena GM-GM sebelumnya mengalami kerugian terus, namun karena usahanya yang keras dia berhasil menutupi kerugian selama ini. Atasannya tidak yakin kalau dia bisa bekerja di sana dengan baik, karena minum sake saja tidak mau, ya sebagai orang muslim, pak Riza tentu menolak minum sake, walaupun merupakan kebiasaan apabila berkumpul dengan orang Jepang dengan minum sake, tidak masalah baginya, "Hanya dengan mengatakan kalau saya tidak minum sake saja sudah cukup, sebenarnya kalau kita berbicara dari hati ke hati, tentu orang lain akan menerima keadaan kita bagaimanapun kondisi kita sekarang." Begitulah yang dikatakan oleh pak Riza. Setelah berhasil menutup kerugian di Jepang. Pak Riza sekarang bekerja di Hongkong.

Kunci kesuksesan menurut pak Riza adalah berusaha keras dan selalu bertawakal kepada Allah, dan jangan pernah malas untuk mengangkat tangan dan berdoa. "Sama halnya seperti sebuah sedotan, air dari ujung atas sedotan akan turun ke bawah dengan lancar apabila tidak ada hambatan, Allah akan memberikan rizki kepada kita apabila kita tidak melakukan hal-hal maksiat yang bisa menyebabkan rizki dari Allah tersebut terhalang sehingga tidak turun ke kita. Mengenai bagaimana caranya mengatasi depresi yang hampir sebulan lamanya itu ketika dia tidak berhasil masuk UGM adalah sama halnya dengan menekan sebuah bola dalam air, kalau tidak ditekan terus, pastilah bola itu akan mengapung, kalau kita terus memikirkan hal itu, maka sakit yang akan kita rasakan terus, oleh karena itu, lupakanlah dan berusaha untuk ikhlas menghadapinya." Begitulah yang pak Riza katakan.

Kemudian Andreas Senjaya atau yang biasa dipanggil bang Jay, mahasiswa Fasilkom UI angkatan 2007 dan merupakan bagian dari MWA UI sebagai anggota unsur mahasiswa, berbagi pula mengenai perjalanannya bagaimana dia bisa menjadi juara II Mapres UI. Pada saat dia SMA, dia menyadari bahwa dia adalah orang yang biasa-biasa saja, lebih banyak melakukan hal-hal yang berhubungan dengan akademis tidak terlalu memikirkan organisasi. Namun setelah dia menjadi seorang mahasiswa UI, dia menyadari betapa organisasi itu sangat penting, kemudian dia mulai mengikuti organisasi-organisasi di UI, untuk menjadi seorang mapres tentulah tidak hanya pandai berorganisasi namun diperlukan pula IP yang lebih dari 3, oleh karena itu dia berusaha keras agar kuliah dan organisasi dapat berjalan dengan lancar. Memang apabila kita ingin sukses di kedua hal itu waktu untuk tidur perlu dikorbankan, biasanya dia hanya tidur 4 jam. Dia juga menyadari betapa pentingnya waktu yang dimili, oleh karena itu dia berpesan untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Ketika tahun kedua atau ketiga, saya lupa, dia mengatakan bahwa pada saat itu, adalah kegiatan organisasi yang paling banyak dia lakukan namun dia juga sudah mengantisipasi kuliahnya, dia berusaha supaya walaupun organisasi yang dia lakukan itu banyak jangan sampai kuliahnya menjadi keteteran. Namun ternyata nilai yang ia dapatkan kurang memuaskan, dia merasa malu karena IPnya rendah (menurutnya) namun pada tahun berikutnya dia memiliki IP yang cukup bagus, dan alhamdulillah katanya dia bisa mewakili fakultasnya untuk maju di pemilihan mapres UI. Dia juga menyadari bahwa saingan-saingannya dari fakultas lain adalah orang-orang yang hebat, oleh karena itu dia berusaha lebih dari mereka. Dan akhirnya dia berhasil menjadi juara II Mapres UI 2010.

Bang Jay bisa begitu hebatnya karena sejak kecil dia sudah diajarkan oleh orang tuanya untuk bekerja keras. Dia berpesan kepada para peserta untuk selalu merasa lebih rendah dari orang lain, karena dengan begitu kita bisa mendapatkan informasi dari orang yang kita ajak bicara itu. Kerja keras dan berusaha lebih dari orang lain memang merupakan hal yang utama.

Begitulah sharing luar biasa yang diberikan oleh dua orang yang luar biasa pula. Sungguh saya merasa sangat termotivasi mendengar cerita-cerita dari mereka dan sungguh sangat berterima kasih pula kepada mereka yang dengan senang hatinya berbagi cerita dengan kami. Sangat menyenangkan bisa hadir di Seminar Mahasiswa Berprestasi 2011 tersebut. Semoga kelak saya dapat menjadi pribadi seperti mereka, setidaknya saya berguna bagi keluarga.

Berikut adalah foto bang Jay (kiri) dan pak Riza (kanan)

Posted on by Nurul Fajry Maulida | No comments

Saturday, November 12, 2011