Thursday, February 28, 2013

Catatan Farmakognosi #2

Minggu yang lalu, pada hari Rabu, 20 Februari 2013, saya mendapatkan mata kuliah farmakognosi II untuk pertemuan kedua. Tidak banyak yang dapat saya sampaikan pada catatan ini karena jujur, saya kurang konsentrasi pada saat itu.

Dosen memulai pengajaran seperti biasa, mencoba mengajak aktif mahasiswanya dengan memanggil satu per satu mahasiswanya dan bertanya. 

Masih seputar antibiotik, beliau mengatakan bahwa amoeba tidak cocok diberikan antibiotik. Saya hanya mencatat itu dan tidak tahu alasannya. Di saat membahas mengenai itu, beliau bertanya, definisi dari penggunaan obat 3 kali sehari itu bagaimana. Mahasiswa yang ia tanya kemudian menjawab, "Ya, artinya kalau sehari itu 24 jam, berarti harus diminum setiap 8 jam."

Ternyata, jawabannya tidak tepat. Pada intinya, beliau memberi tahu kepada kami bahwa meskipun pada saat kita tidur tubuh melakukan metabolisme, namun lama proses metabolismenya itu tidak sama dengan saat kita sedang tidak tidur. Jadi dalam hal ini, dalam sehari dihitung 16 jam, kurang lebih kita harus minum obat setiap 5 jam. "Kalau mesti minum obat setiap 8 jam, itu menyiksa diri sendiri jadinya, masa kalau terakhir minum obat jam 6 sore, mesti bangun jam 2 malam untuk minum obat berikutnya?" Begitulah yang diterangkan oleh beliau.

Untuk jamur, kita tidak bisa menggunakan antibiotik untuk membunuh atau menghambat pertumbuhannya. Karena memang dinding sel antara bakteri dan jamur itu berbeda. Dinding sel bakteri terbuat dari peptidoglikan yang bersifat relatif polar, sementara dinding sel jamur terbuat dari steroid yang bersifat nonpolar. Dengan alasan tersebutlah antibiotik tidak dapat digunakan untuk jamur karena antibiotik yang ada itu juga relatif polar yang mana dapat melarutkan dinding sel bakteri tetapi tidak untuk jamur.

Obat-obatan yang dapat kita gunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan jamur haruslah yang mengandung beberapa zat aktif seperti mikonazol, ketokonazol, dan lain sebagainya.


Macam-macam antijamur lainnya antara lain, Griseofulvin, Penicillium (bukan Penicillin), Epidermophyton, Microsporum, dan Trichophyton.

Selain antibiotik dan antijamur, kita juga perlu mengetahui adanya obat antikanker. Obat-obatan yang termasuk ke dalam obat antikanker antara lain Dactinomycin, Bleomycin, Doxorubicin, Daunorubicin, dan Mitomycin C.

Mengenai antikanker, biasanya dosis yang diberikan itu disesuaikan dengan luas tubuh. Untuk Dactinomycin, beliau mengatakan bahwa tidak hanya digunakan sebagai obat antikanker tetapi juga dapat digunakan untuk mengatasi efek sampingnya.

"Lalu apa saja efek samping dari obat antikanker pada umumnya yang kalian ketahui?" Begitulah yang beliau tanyakan kepada kami. Beberapa mahasiswa dapat menjawab dengan tepat seperti mual dan rambut rontok. Namun, efek samping yang lainnya tidak ada yang bisa menyebutkan.

Kemudian beliau menambahkan bahwa tidak hanya itu saja efek sampingnya, melainkan bisa juga menyebabkan mata kering akibat tidak bisa ditutup dan merasakan nyeri yang tidak tertahankan. Rasa nyeri yang tidak tertahankan inilah yang terkadang menyebabkan penderita kanker meminta untuk disuntik mati. Meskipun begitu, biasanya untuk nyeri yang tidak tertahankan ini, oleh dokter diberikan morfin, apabila tidak mempan juga maka diputus saraf rasa nyerinya.

Setelah membahas mengenai antibiotik, antijamur, dan antikanker, pelajaran dilanjutkan dengan membahas peptida. Saat itu saya belum mengerti kenapa kami mesti mempelajari peptida di mata kuliah farmakognosi.

Ternyata setelah diberi tahu bahwa peptida itu berguna selain untuk memenuhi gizi, berperan sebagai enzim, dan ada yang bersifat racun, beberapa macam peptida juga ada yang berfungsi sebagai obat dan peptida-peptida tersebut selain berasal dari manusia, hewan, dan mineral juga banyak dikandung oleh tumbuhan. Sekiranya dengan begitu saya sudah mengerti hubungan antara peptida dan farmakognosi tersebut. Mengenai hal ini, bukan berarti farmakognosi hanya mempelajari sekitar tumbuhan saja, melainkan juga hewan dan mineral, namun berdasarkan pengalaman saya mendapatkan mata kuliah farmakognosi I, yang lebih banyak dipelajari adalah yang berkaitan dengan tumbuhan.

Pembahasan lebih lanjutnya mengenai peptida baru akan dijelaskan pada pertemuan berikutnya.

Demikan yang bisa saya sampaikan, mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat, terima kasih banyak atas kunjungannya :D

Tuesday, February 26, 2013

Catatan Praktikum ABBF #1

Praktikum ABBF (Analisis Bahan Baku Farmasi) merupakan praktikum pertama saya yang jumlahnya 3 SKS saat di semester 4 ini. Beberapa praktikum sebelumnya saat di semester 1, 2, dan 3 rata-rata hanya berjumlah 1 SKS. Meskipun hanya 1 SKS, lelahnya seperti 6 SKS, lalu bagaimana dengan 3 SKS? Tidak kebayang lelahnya seperti apa -_-

Minggu pertama kuliah, kelas praktikum ABBF belum diadakan, baru diadakannya pada minggu depannya yang mana pada hari Senin, 18 Februarinya langsung ada pretestnya. 

Pretest pertama tersebut mengenai analisis unsur dan gugusan. Sebelum pretest, kami masuk laboraturium kuantitatif terlebih dahulu untuk mendapatkan pengarahan praktikum ABBF bagian kuantitatifnya. Setelah itu baru masuk ke laboraturium kualitatif untuk mengerjakan pretest dan mendapatkan pengarahan dari dosen terkait analisis kualitatif.

Jadi, perlu diketahui bahwa pada praktikum ABBF ini, dibagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Perbedaannya, selain laboraturiumnya berbeda, sejauh yang saya ketahui, kalau analisis kualititatif lebih menekankan analisis terhadap adanya perubahan warna, bentuk, rasa atau yang lainnya yang menunjukkan adanya makna tertentu, sementara analisis kuantitatif lebih menekankan terhadap adanya perubahan bisa juga pada warna, suhu, pH, atau lainnya yang menunjukkan adanya suatu nilai yang dapat terukur.

Pada intinya, dalam satu semester ini, pada praktikum ABBF, saya diharapkan dapat melakukan analisis kimia baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Pertemuan pertama praktikum ABBF bagian kuantitatif, kami diinformasikan terkait peraturan dan ketentuan selama di laboraturium kuantitatif dan selama mengerjakan praktikum maupun laporannya.

Beberapa peraturan yang harus ditaati selama di laboraturium kuantitatif antara lain:
  1. Laboraturium dibuka setiap hari kecuali tanggal merah, tetapi hanya dapat digunakan sesuai dengan jadwalnya saja. Untuk catatan, di luar jadwal boleh saja digunakan, dengan syarat harus ada izinnya terlebih dahulu.
  2. Sebelum responsi, selalu akan diawali dengan pretest.
  3. Bagi yang tidak dapat hadir, wajib menyerahkan surat dari dokter apabila sakit atau surat pemberitahuan dari yang bersangkutan apabila ada urusan.
  4. Wajib menggunakan alas kaki yang menutup seluruh bagian kaki.
  5. Apabila terdapat peralatan yang rusak atau pecah, selambat-lambatnya diganti dalam 2 minggu.
Setelah memberitahukan peraturan tersebut di atas, Pak Hayun menjelaskan beberapa hal lain terkait praktikum ABBF bagian kuantitatif yang perlu diperhatikan.

Untuk setiap pembakuan, satuan konsentrasi dapat menggunakan Normalitas (N) atau Molaritas (M) serta selalu dipastikan ada 3 angka di belakang koma untuk setiap nilainya. Sementara untuk nilai akhir, ketentuannya adalah terdapat 2 angka di belakang koma, misal: persenan kadar.

Setiap akan melakukan titrasi, ada 2 hal yang perlu dilakukan, yaitu (1) pembakuan larutan titran standar sekunder dan (2) penetapan kadar sampel.

Nilai akhir kadarnya haruslah merupakan hasil dari percobaan yang dilakukan secara triplo. 

Apabila misalnya diminta untuk menimbang sampel 50 - 60 mg, maka tidak perlu bersusah payah untuk menyesuaikan dengan yang diminta. Kalau memang bisanya 52,3 mg maka digunakan saja. Karena apabila ada pengurangan massa sampel dengan cara mengambil langsung mengenai timbangan, hasil pengukurannya bisa jadi tidak tepat.

Percobaan dilakukan dengan cara triplo, dengan maksud misalnya pada percobaan pertama mendapatkan hasil tertentu, maka dilakukan lagi percobaan yang kedua untuk memastikan bisa didapatkan hasil yang sama, begitu pula percobaan yang ketiga. Apabila hasilnya tidak jauh berbeda, maka nilai akhir merupakan rata-rata dari ketiganya. Tetapi, apabila salah satu dari ketiganya memiliki nilai yang simpangannya besar sekali, maka sebaiknya dibuang, tidak dimasukkan ke dalam perhitungan rata-rata.

Pak Hayun juga menyebutkan beberapa hal yang dapat menyebabkan adanya kesalahan antara lain terjadi kesalahan pada penimbangan--untuk kesalahan jenis ini sebenarnya tidak boleh terjadi, sejak awal untuk penimbangan tidak boleh ada kesalahan--dan persepsi pengamatan yang berbeda.

Pak Hayun juga menjelaskan bahwa nilai praktikum ABBF, 35% nya dari kualitatif, 35% berikutnya dari kuantitatif, 10% dari uji kemurnian dan pencemaran, serta sisanya 20% dari tugas khusus.

Setelah mendapatkan pengarahan dari Pak Hayun, kemudian kami menuju laboraturium kualitatif untuk mengerjakan pretest lalu responsi dengan Ibu Maryati.

Saat responsi, Ibu Maryati menjelaskan detail pekerjaan yang harus kita lakukan saat praktikum nanti, untuk pertemuan berikutnya yang akan dilakukan hanyalah analisis unsur, sementara untuk analisis gugusan belum. 

Saat responsi selesai, kelas dilanjutkan oleh Pak Rezi untuk dijelaskan mengenai K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). 

Di laboraturium ada berbagai senyawa kimia, mulai dari yang tidak berbahaya sampai yang berbahaya. Ada empat jenis senyawa kimia yang dikategorikan ke dalam blue, yellow, red, and white. Contoh yang termasuk ke dalam blue antara lain asam asetat glasial (bisa menyebabkan kulit merah), yang termasuk yellow misalnya Na, amonium nitrat, dan nitrogliserin (saya tidak tahu efeknya apa), yang termasuk red antara lain senyawa minyak-minyakan dan asetilen, dan yang termasuk white antara lain senyawa pengoksidasi (akan menyebabkan gatal apabila terkena kulit) dan gas helium (dapat mengurangi volume oksigen).

Pak Rezi menjelaskan, apabila merasa ingin pingsan segera duduk, jangan berdiri, agar misalnya jatuh tidak lebih berbahaya. Apabila terkena luka bakar segera berikan air lalu salep. Apabila terkena asam berikan air sampai encer lalu tambahkan amonium sedikit. Dan apabila terkena mata segera tetesi dengan air.

Ketika mengerjakan praktikum lalu menggunakan asam atau basa pekat, sebelum dibuang perlu untuk diencerkan terlebih dahulu.

Besoknya, Selasa, 19 Februari 2013, kami mengerjakan praktikum analisis unsur dari pukul 08.00 sampai 11.00. Jadi pada hari itu, masing-masing kelompok diberikan sebuah sampel yang tidak diketahui kandungan unsurnya yang oleh karena itulah kami diharapkan dapat menganalisis unsur tersebut.

Saat itu, saya mengerjakannya bersama Putri, untuk menghemat waktu kami melakukan pembagian tugas. Putri bertugas untuk membuat filtrat lassaigne dan uji beilstein. Sementara saya melakukan uji reaksi nyala untuk menganalisis beberapa unsur logam tertentu, lalu uji Hg/Bi, percobaan gutzeit, beberapa percobaan untuk sisa pijar, dan percobaan faraday.

Membuat filtrat lassaigne yang dilakukan oleh Putri tidak semudah yang dibayangkan, setelah membuat filtratnya tersebut, Putri lalu melakukan uji berikutnya untuk beberapa unsur tertentu. Pembuatan filtratnya saja cukup memakan waktu, apalagi ditambah dengan percobaan terusannya. Oleh karena itulah, meskipun tulisannya cuma membuat filtrat lassaigne dan uji beisltein, tapi tingkat kesulitannya justru lebih tinggi dibandingkan dengan yang saya lakukan.

Pertama kali yang saya lakukan sebelum melakukan beberapa uji yang sudah saya sebutkan sebelumnya adalah melakukan percobaan pengarangan/pirolisis untuk mengetahui adanya unsur C. Namun Ibu Maryati mengatakan bahwa kita tidak perlu melakukan itu, karena sampel tersebut pasti mengandung unsur C.

Namun saya tetap melakukannya karena ingin mengamati bagaimana hasil positif yang ditunjukkan apabila sampel tersebut mengandung unsur C. Berikut gambarnya, awalnya sampel berwarna putih, ketika dipirolisis tidak begitu lama langsung mengarang. Dan warna hitamnya tersebut, dengan menggunakan HNO3 ternyata dapat menghilang.


Kemudian saya melakukan uji reaksi nyala pada unsur tersebut, setelah bertanya kepada asisten laboraturiumnya (aslab), cara melakukan uji reaksi nyala adalah dengan melarutkan sampel terlebih dahulu menggunakan aquades, jangan terlalu encer, baru kemudian langsung saja menggunakan kawat tembaga, ujungnya dicelupkan ke larutan lalu dipijarkan ke nyala spiritus. Ternyata hasilnya negatif untuk semua unsur logam karena yang saya amati ketika dipijarkan, tidak ada warna nyala sama sekali. Itu artinya, sampel tersebut tidak mengandung unsur Ba (warna nyala hijau biru), Na (kuning), K (ungu), dan Sr (merah jingga).

Lalu saya melakukan uji Hg/Bi, hasil yang didapatkan juga negatif, karena saat dipanaskan dengan api secara langsung, kawat tembaganya tidak mengkilat melainkan menghitam. Selain uji Hg/Bi, lalu saya juga melakukan uji Gutzeit untuk mengidentifikasi adanya unsur As.

Berdasarkan prosedur seharusnya di dalam erlenmeyer diisi sampel dan CaO, lalu di bagian leher diselipkan kapas yang telah basahi dengan Pb asetat kemudian bagian atas ditutup dengan kertas saring yang telah dibasahi dengan AgNO3.

Namun yang saya lakukan setelah bertanya dulu, katanya tidak perlu menggunakan kapas, jadi langsung saja erlenmeyer diisi dengan sampel dan CaO lalu bagian atas ditutup dengan kertas saring yang telah dibasahi oleh Pb asetat, hasil positif apabila tampak warna hitam pada kertas saring.

Sebenarnya kalau mengikuti prosedur yang sebenarnya, hasil yang positif apabila terjadi perubahan warna menjadi kuning dan tercium bau bawang.

Hasil yang saya dapatkan pada percobaan tersebut adalah sebagai berikut:


Saat di awal kelas praktikum, kami menyempatkan untuk memijarkan sampel di oven untuk melihat ada atau tidaknya sisa pemijaran. Suhunya kalau tidak salah antara 400-600 derajat celcius. Setelah beberapa lama di oven tersebut, akhirnya sampel yang kami miliki terdapat sisa pijar yang berwarna putih kekuningan.

Sampel kami meninggalkan sisa pijar. Hasil pengamatan ini bertolak belakang sekali dengan percobaan Gutzeit. Unsur As merupakan unsur yang tidak meninggalkan sisa pijar. Percobaan dengan melihat ada atau tidaknya sisa pijar lebih meyakinkan bahwa sampel tidak mengandung unsur As. Hasil positif pada percobaan Gutzeit bisa kami pahami akibat tidak sesuainya pengerjaan kami dengan prosedur.

Dengan adanya sisa pemijaran, kemudian saya melanjutkan analisis dengan melihat warna sisa pijarnya, berdasarkan literatur yang diketahui, saya tidak dapat mengidentifikasi unsur apa yang memiliki warna sisa pijar demikian.

Selain melihat dari warnanya, saya juga melakukan percobaan dengan mereaksikan sisa pijar dengan beberapa reaksi tertentu. Dan hasilnya pun negatif juga. Jadi, hingga saat tersebut, saya belum dapat menyimpulkan unsur apa yang dikandung sampel tersebut selain unsur C.

Setelah sisa pijar, saya melakukan percobaan Faraday untuk mengidentifikasi adanya unsur N. Dan hasil yang ditunjukkan positif, karena lakmus merah yang diletakkan di atas tabung reaksi berubah warnanya menjadi biru.

Hasil pengamatan yang dilakukan oleh Putri terkait percobaan Lassaigne dan Beilstein, negatif semua. Putri mengatakan bahwa sampel tersebut berdasarkan hasil pengamatan tidak mengandung unsur N, P, S, dan unsur halogen.

Hasil pengamatan Putri tersebut membuat saya cukup bingung, karena berdasarkan percobaan Faraday tersebut, saya menemukan adanya unsur N pada sampel tersebut, tetapi hasil pengamatan Putri melalui percobaan Lassaigne mengatakan hal yang berbeda. Sepertinya terdapat kesalahan pada pembuatan filtrat lassaignenya atau kurang baiknya kondisi pereaksi yang digunakan oleh Putri.

Saat pukul 14.00 kami mendapatkan evaluasi dari responser. Ibu Maryati mengatakan bahwa sebenarnya sampel kami mengandung unsur C, N, S, dan Pb. Sementara yang berhasil kami temukan hanya unsur C dan S.

Untuk pengidentifikasian unsur Pb tidak saya lakukan, karena penganalisaannya membutuhkan mikroskop bahwa apabila sampel dilarutkan dengan larutan KI lalu hasilnya diamati di bawah mikroskop. Hasil positif apabila terdapat lempengan berwarna kuning. Kami tidak melakukannya karena mikroskop baru disediakan di akhir praktikum. Namun setelah kami dievaluasi dan masih ada waktu, kami mencoba percobaan tersebut dan benar ternyata hasilnya positif.

Sebenarnya ada cara lain untuk pengujian Pb yaitu dengan melarutkan sampel menggunakan CH3COOH lalu menambahkannya dengan (NH4)2S, hasil positif apabila terjadi perubahan warna menjadi hitam. Namun karena tidak tersedia (NH4)2S-nya maka kami tidak bisa melakukannya.

Untuk menguji lagi ada atau tidaknya unsur S, kami tidak sempat lagi melakukannya, karena filtrat lassaigne yang kami buat sudah terlanjur kami buang sebelum evaluasi. Dan pembuatan filtratnya lagi itu membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga kami tidak sempat.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat. Terima kasih banyak atas kunjungannya :D

Monday, February 25, 2013

Titrasi Asam Basa

Walaupun sudah berkali-kali sering mendengar kata "Titrasi Asam Basa", saya sendiri masih belum bisa mendefinisikannya dengan baik. Setelah merangkumnya dari berbagai sumber, akhirnya saya dapat mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan titrasi asam basa adalah suatu metode penetapan kadar yang mana menggunakan titrannya asam dan titratnya basa atau sebaliknya titrannya basa dan titratnya asam yang mana konsentrasi dari titrannya itu sudah diketahui, dan dalam hal ini reaksi netralisasi merupakan reaksi yang mendasari penetapan kadar tersebut.

Yang dimaksud dengan laruan titran adalah larutan yang pada umumnya berada di dalam buret dan sudah diketahui konsentrasinya serta biasanya merupakan larutan baku (baik primer maupun sekunder). Sementara yang dimaksud dengan larutan titrat adalah larutan yang akan diketahui kadarnya dan biasanya berada di dalam erlenmeyer. 

Larutan baku atau disebut juga dengan larutan standar ada dua macam, yaitu larutan baku primer dan larutan baku sekunder. Bedanya, larutan baku primer merupakan larutan yang mengandung zat baku yang memiliki tingkat kemurniannya tinggi (pengotoran kurang dari 0,01%) sehingga nilai konsentrasi yang dimilikinya sudah dapat digunakan. Sementara larutan baku sekunder merupakan larutan yang mengandung zat baku yang pengotorannya lebih dari 0,01% sehingga untuk mengetahui besar nilai konsentrasinya perlu dibakukan terlebih dahulu dengan larutan baku primer.

Reaksi netralisasi merupakan reaksi penetralan  yang terjadi antara asam dengan basa yang mana akan didapatkan jumlah mol asam dan basa yang sama, kemudian dengan adanya hal itu kita dapat mengetahui konsentrasi larutan yang ingin diketahui kadarnya karena juga sebelumnya kita telah mengetahui konsentrasi dan volume dari larutan standar.

Sebagaimana menurut persamaan berikut:


Sudah sejauh ini seharusnya kita sudah memahami apa yang dimaksud dengan asam dan apa yang dimaksud dengan basa. Untuk lebih mengingatkan lagi bahwa pengertian asam dan basa dijelaskan melalui 3 teori asam basa antara lain teori asam basa Arrhenius, asam basa Bronsted Lowry, dan asam basa Lewis. Menurut saya, mungkin yang lain juga memahami bahwa teori asam basa Bronsted Lowry merupakan perbaikan dari teori asam basa Arrhenius, dan teori asam basa Lewis merupakan perbaikan dari teori asam basa Bronsted Lowry.

Pada asam basa Arrhenius disebutkan bahwa yang dimaksud dengan asam ialah suatu senyawa yang apabila dilarutkan dalam air dapat menghasilkan ion H+ sementara yang dimaksud dengan basa ialah senyawa yang apabila dilarutkan dalam air dapat terionisasi menjadi ion OH-. Contoh asam, HCl dan contoh basa, NaOH. 
Berdasarkan definisi tersebut kita tidak dapat mengidentifikasi senyawa seperti NH4+ dan CH3COO- ke golongan asam atau basa. Oleh karena itu diperbaiki oleh teori asam basa Bronsted Lowry bahwa yang dimaksud dengan asam adalah senyawa yang dapat memberikan proton, sementara basa adalah senyawa yang dapat menerima proton. Contoh asam, NH4+ dan contoh basa, CH3COO-.
Lalu bagaimana dengan NH3? Tergolong asam atau basa? Teori asam basa Bronsted Lowry tidak dapat menjelaskannya. Oleh karena itu disempurnakan oleh teori asam basa Lewis bahwa yang dimaksud dengan asam adalah senyawa yang dapat menerima sepasangan elektron bebas, sementara yang dimaksud dengan basa adalah senyawa yang memberikan sepasang elektron bebas.
Kita sudah mengetahui bahwa kita dapat mengetahui konsentrasi titrat ketika jumlah mol asam yang bereaksi dengan basa sama jumlahnya. Apakah kita tahu pada saat kapan jumlah mol keduanya dapat sama? Tanpa adanya indikator, kita tidak dapat mengetahuinya.

Indikator merupakan zat yang ditambahkan pada larutan titrat atau larutan yang adanya di erlenmeyer yang mana memiliki warna tertentu pada rentang pH tertentu juga. 

Misalnya saja kita ingin mengetahui konsentrasi suatu basa kuat yang mana titrannya tentunya asam kuat. pH yang dihasilkan pasti netral, yaitu sekitar 7. Dalam hal ini, kita perlu menambahkan zat tertentu yang dapat menandakan bahwa pH sudah 7. Biasanya untuk yang kisaran pHnya 7, digunakan indikator fenolftalein. Indikator ini akan segera berubah warnanya menjadi merah apabila adanya penambahan atas kelebihan sedikit ion OH- dari larutan titran. Adanya kelebihan sedikit ion tersebut kemudian segera berubah warnanya akibat jumlah ion asam dan basanya sudah sama. 

Mungkin ada pertanyaan, kenapa indikator pada pH tertentu dapat memiliki warna yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan bentuk dalam kesetimbangannya. Kita perlu mengetahui bahwa indikator dalam bentuk ion memiliki warna tertentu dan juga dalam bentuk molekulnya akan memiliki warna tertentu juga.


Pada fenolftalein, ketika berada dalam bentuk molekulnya, larutan menjadi berwarna merah sementara dalam bentuk ionnya menjadi tidak berwarna. Pada kesetimbangan ketika H+ dari asam masih bereaksi dengan OH-, senyawa indikator berada dalam kesetimbangan antara bentuk molekul dan bentuk ionnya. Namun ketika jumlah OH- yang diberikan sudah cukup menetralkan seluruh ion H+ larutan titrat, maka kelebihan satu ion OH- yang ada akan bereaksi dengan indikator sehingga adanya penambahan ion OH- tersebut dapat mempengaruhi kesetimbangan sehingga senyawa indikator bergesar ke arah kiri, yaitu ke bentuk molekulnya yang berwarna merah dan mengindikasikan bahwa larutan telah mencapai titik akhir titrasi.

Kita perlu membedakan titik akhir titrasi (TA) dengan titik ekivalen (TE). Titik akhir titrasi terjadi saat pertama kali segera mengalami perubahan warna pada larutan, sementara titik ekivalen terjadi saat jumlah mol asam tepat sama dengan jumlah mol basa.

Berikut daftar macam-macam indikator, rentang pH, dan keterangan perubahan warnanya. 


Ada banyaknya macam indikator yang bisa digunakan karena reaksi yang terjadi pada titrasi asam basa, dapat menghasilkan pH yang berbeda-beda saat TE, tergantung dari jenis asam dan basa yang digunakan. Dalam hal ini variasi jenis asam dan basa yang biasa digunakan selain asam kuat dengan basa kuat antara lain: (1) basa kuat (titran) dengan asam lemah (titrat), akan menghasilkan rentang pH yang lebih dari 7, (2) asam kuat (titran) dengan basa lemah (titrat), akan menghasilkan rentang pH yang kurang dari 7. 

Titrasi asam basa ini tidak baik digunakan untuk variasi asam basa yang sama-sama lemah, misalnya asam lemah dengan basa lemah. Karena kita tahu bahwa larutan titran haruslah yang merupakan jenis asam atau basa yang kuat.
Dengan perkiraan rentang pH yang akan dihasilkan dari berbagai variasi pH yang sudah dilakukan, maka kita dapat menentukan indikator mana yang sesuai untuk digunakan.

Sebelumnya, saya sudah mengatakan bahwa larutan standar sekunder perlu untuk dibakukan terlebih dahulu dengan larutan standar primer, agar kita dapat menentukan reaksinya. Dalam hal ini, misalnya larutan standar yang akan digunakan NaOH, maka perlu dibakukan dengan larutan standar primer yang bersifat asam, misalnya KHP (Kalium Hidrogen Phtalat). Reaksi yang terjadi, sama seperti sebagaimana reaksi titrasi asam basa pada umumnya sehingga dengan ini diharapkan konsentrasi dari NaOH dapat diketahui. Persamaan reaksi pembakuan NaOH menggunakan KHP adalah sebagai berikut:
Dengan demikian, saya yakin kita sudah mampu memahami konsep dari titrasi asam basa. Cukup sekian. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat, terima kasih banyak atas kunjungannya :D