Friday, March 15, 2013

Kompleksometri dan Argentometri

Mengenai ini, kita perlu mengetahui bahwa kompleksometri dan argentometri merupakan salah dua metode yang termasuk ke dalam metode volumetri. Jika demikian, memangnya apa yang dimaksud dengan volumetri? 

Volumetri merupakan metode analisis kuantitatif yang didasarkan atas pengukuran volume titran yang dibutuhkan untuk bereaksi secara sempurna dengan zat yang dititrasi (titrat). Lalu kalau begitu apa yang dimaksud dengan kompleksometri?

Kompleksometri merupakan metode volumetri yang didasarkan atas pembentukan suatu senyawa kompleks yang stabil. Perlu digaris bawahi bahwa hanya bisa menerapkan metode kompleksometri apabila senyawa kompleks yang terbentuk adalah senyawa kompleks yang stabil, jika tidak stabil maka tidak dapat diterapkan.

Kemudian bagaimana dengan argentometri? Apa yang dimaksud dengan argentometri? Sejauh yang saya tahu, metode argentometri merupakan metode volumetri yang menggunakan garam Ag sebagai titrannya dan akan membentuk suatu senyawa kompleks dengan titratnya atau membentuk suatu endapan sehingga dalam hal ini sekiranya argentometri bisa dibilang termasuk ke dalam metode kompleksometri apabila hasil akhir reaksinya adalah terbentuknya senyawa kompleks yang stabil, tetapi argentometri ini juga bisa dikatakan merupakan metode pengendapan apabila hasil akhirnya berupa suatu senyawa berbentuk endapan. 

Meskipun demikian, metode argentometri yang dibahas oleh saya kali ini adalah metode argentometri yang termasuk ke dalam metode kompleksometri.

Mengenai kompleksometri ini, tidak jauh-jauh pembahasannya mengenai senyawa kompleks. Lalu apa yang dimaksud dengan senyawa kompleks? Yang dimaksud dengan senyawa kompleks adalah senyawa yang terdiri dari atom pusat dan gugus ligannya. Yang dimaksud dengan gugus ligan adalah gugus yang berikatan dengan atom pusat yang dalam hal ini berdasarkan jumlahnya gugus ligannya senyawa kompleks dibagi menjadi tiga, yaitu (1) senyawa kompleks dengan ligan monodentat (1 gugus ligan), (2) senyawa kompleks dengan ligan bidentat (2 gugus ligan), dan (3) senyawa kompleks dengan ligan multidentat (lebih dari 2 gugus ligan).

Kembali mengenai kompleksometri, sebelumnya telah diketahui salah satu syarat dapat menerapkan metode kompleksometri ini adalah harusnya terbentuk suatu senyawa yang stabil. Senyawa stabil yang bagaimana yang dimaksud? Setiap senyawa kompleks memiliki nilai Kstab yang berbeda-beda, dalam hal ini, senyawa kompleks yang stabil adalah yang Kstabnya > 10 pangkat 21. Selain itu, dalam penerapannya juga, tidak boleh ada reaksi samping yang dengan kata lain agar tidak terjadi adanya reaksi samping perlu diatur pH yang sesuai. Kemudian hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah harus menggunakan indikator yang sesuai. 

Berdasarkan PPT ABBF yang dibawakan oleh dosen, diketahui bahwa ada 3 macam titrasi kompleksometri, yaitu (1) merkurimetri, (2) argentometri, dan (3) kompleksometri. 

Untuk yang pertama, jelaslah bahwa pada merkurimetri, artinya menggunakan garam merkuri (Hg2+) sebagai titrannya sementara titrannya biasanya menggunakan garam-garam halogen, ion CN-, dan ion CNS- yang mana dalam hal ini juga biasanya yang termasuk ke dalam titrat adalah yang biasanya senyawa yang akan ditetapkan kadarnya. Dalam hal ini juga, indikator yang biasa digunakan antara lain Na nitroprussid, difenil carbazon, dan difenil carbazid yang mana ketiga indikator tersebut memiliki pH antara 1,5 sampai 2.

Difenil carbazid

Pada metode merkurimetri ini, bisa dilakukan dengan cara langsung maupun dengan cara tidak langsung, sebenarnya tergantung dari titrat dan senyawa kompleks yang akan terbentuk, baru bisa memilih menggunakan dengan cara langsung atau tidak langsung. Cara tidak langsung digunakan apabila dengan cara langsung senyawa kompleks yang terbentuk sulit diamati TAnya, sehingga dengan menggunakan cara tidak langsung diharapkan pembentukan senyawa kompleks dengan titran yang lain dapat dengan mudah diamati TAnya, sebagaimana kita tahu bahwa pada titrasi tidak langsung ini digunakan 2 titran yang berbeda. 

Pada merkurimetri ini, apabila titratnya adalah garam halogen, maka dapat dilakukan dengan cara langsung, yang mana reaksi yang akan terjadi adalah sebagai berikut:


Apabila titrat yang digunakan adalah larutan garam CN-, maka yang akan terbentuk adalah senyawa kompleks AgCN2 yang sulit dilihat TAnya sehingga perlu dilakukan dengan cara tidak langsung. Dalam hal ini menggunakan titran 1-nya garam Hg2+ dan titran 2-nya berupa senyawa CNS-. Reaksi yang terjadi adalah seperti pada gambar di bawah ini. 


Sekiranya masih banyak yang tidak mengetahui bagaimana mekanisme yang terjadi saat titrasi tidak langsung ini. Mungkin bisa saya jelaskan dengan memberi contoh begini, "Misalnya senyawa yang akan diketahui kadarnya adalah senyawa yang mengandung ion CN-, dengan argentometri secara langsung tidak dapat diamati dengan baik TAnya sehingga diputuskan untuk menggunakan cara tidak langsung. Sebenarnya dengan cara langsung telah ditetapkan volume dari CN-nya adalah sebesar 5 ml, dan ketika dititrasi dengan larutan Ag, meskipun tidak terlalu tampak TAnya diperkirakan jumlah volume larutan garam Ag yang dibutuhkan adalah sekitar 10 ml. Dengan cara tidak langsung, posisinya dibalik, yang berada di erlenmeyer saat ini adalah larutan Ag dengan volume yang dilebihkan dari 10 ml, misalnya dalam contoh ini dilebihkan menjadi 15 ml. Sementara yang ada di buret adalah larutan senyawa CN- yang volumenya sesuai dengan ketetapan awal yaitu 5 ml. Reaksi dibiarkan berlangsung sampai seluruh 5 ml larutan CN- dalam buret bereaksi seluruhnya dengan larutan garam Ag. Pada reaksi pada umumnya seharusnya apabila ada indikator yang sesuai, ketika sudah bereaksi seluruhnya atau ketika jumlah Ag dan CN telah sama tampak adanya perubahan warna, karena memang sulit dilihat TAnya maka seumpamanya sejumlah Ag telah bereaksi dengan seluruh CN- dalam 5 ml tersebut. Dalam hal ini tentunya masih ada sisa Ag yang belum bereaksi bukan? Oleh karena itu menggunakan titran kedua yaitu dengan larutan yang mengandung senyawa CNS- diharapkan dapat dilihat TAnya, karena memang terdapat indikator yang sesuai untuk hasil reaksi yang ini. Ketika tampak TA artinya seluruh Ag dalam erlenmeyer telah bereaksi seluruhnya dengan larutan titran yang pada saat itu misalnya diketahui volume yang dibutuhkan untuk larutan titran 2 untuk bereaksi sempurna adalah 8 ml, maka dengan persamaan M1.V1 = M2.V2 yang mana telah diketahui molaritas dari larutan titran 2 dan molaritan dari larutan Ag dan telah diketahui volume larutan titran 2 yang dibutuhkan, maka diketahui pula volume larutan Ag yang telah bereaksi dengannya yang dalam hal ini misalnya setelah dihitung ternyata 5 ml sehingga dalam hal ini bisa kita ketahui bahwa volume yang dibutuhkan untuk bereaksi secara sempurna dengan larutan CN- adalah hasil pengurangan volume larutan Ag seluruhnya dalam erlenmeyer dengan hasil perhitungan volume larutan Ag yang dibutuhkan untuk bereaksi secara sempurna dengan larutan titran 2 yaitu 20 ml - 5 ml = 15 ml. Dengan diketahuinya volume Ag yang dibutuhkan untuk bereaksi secara sempurna dengan larutan CN- tersebut tentunya dapat diketahui molaritas dari CN- sehingga dapat pula pada akhirnya diketahui kadarnya. Mudah-mudahan dengan diberikan contoh yang demikian sudah dapat dipahami bagaimana mekanisme cara kerja dari titrasi tidak langsung tersebut. Mohon maaf apabila misalnya terdapat kesalahan pada penjelasan tersebut, karena yang saya paparkan disesuaikan dengan pemahaman saya. Apabila ingin lebih pasti penjelasannya, silakan tanya guru atau dosen yang pasti lebih memahami.

Kemudian metode kompleksometri berikutnya yaitu argentometri, sebelumnya sudah sedikit dijelaskan di awal mengenai argentometri. Singkat saja, pada argentometri yang menggunakan ion Ag+ sebagai titrannya lalu menggunakan CN- sebagai titratnya yang mana dalam hal ini hasil reaksinya termasuk ke dalam senyawa kompleks yang oleh karena itulah mengenai hal ini, yang demikian termasuk ke dalam kompleksometri bukan pengendapan. Dalam argentometri yang ini juga, indikator yang digunakan adalah KI, namun penggunaan indikator ini memiliki kelemahan, akibat Ksp AgI ternyata lebih kecil dibandingkan dengan AgCN sehingga dapat menyebabkan ion logam dapat lebih tertarik terikat dengan ion I- yang mana seharusnya bereaksi sempurna terlebih dahulu dengan ion CN- sehingga dalam hal ini menyebabkan terjadi TA sebelum TE. Pada masalah ini kemudian ditambahkanlah NH4OH sebagai solusinya, karena dengan begitu akan terbentuk senyawa Ag(NH3)+ sehingga tidak jadi terbentuk TA yang mendahului TE.

Pada argentometri juga dapat digunakan untuk menetapkan kadar Ni2+, Zn2+, dan Co2+, namun dengan cara tidak langsung yang mana titran  1-nya adalah CN- dan titran 2-nya adalah Ag+.

Dan yang ketiga adalah metode titrasi menggunakan komplekson. Apakah yang dimaksud dengan komplekson? Komplekson merupakan ligan multidentat. Ada banyak macam ligan multidentat yang biasa digunakan dalam metode titrasi ini antara lain:
  1. NTA (Nitrilo Triasetat)
  2. EDTA (Etilen Diamin Tetra Asetat)
  3. Na2 EDTA (Dinatrium Etilen Diamin Tetra Asetat)
  4. DCTA (Diamino Cikloheksan Tetra Asetat)
  5. EGTA (Etilen Glikol bis (2-amino etil eter) Tetra Asetat)
  6. TTHA (Trietilen Tetraamin Heksa Asetat)
Jadi pada titrasi menggunakan komplekson ini menggunakan titran komplekson dan titratnya ion-ion logam yang biasanya memang akan ditetapkan kadarnya. Ion-ion logam yang biasa dititrasi menggunakan metode ini antara lain Mg2+. Bi3+, dan lain sebagainya.

Meskipun ada banyak jenis komplekson, namun yang paling umum digunakan adalah komplekson nomor 3, yaitu Na2 EDTA.

Reaksi umum yang terjadi adalah sebagai berikut:
 

Sejauh ini, sekiranya sudah dapat dimengerti apa itu kompleksometri, apa saja persyaratan penerapan metode kompleksometri, dan macam-macam titrasi. Selain itu, juga sudah dipahami bahwa dalam titrasi sekiranya ada 3 komponen penting, yaitu titran, titrat, dan indikator.

Indikator menjadi penting, karena pada umumnya tanpa indikator kita tidak dapat melihat TA. "Memangnya bagaimana cara kerjanya sehingga indikator dapat memberikan warna?"  Pada dasarnya suatu indikator akan memiliki warna tertentu pada keadaan bebasnya (Ind-) dan memiliki warna tertentu pula pada keadaan terikat dengan ion logam tertentu (MInd).

Sebelumnya saya mengatakan bahwa ketika larutan titran telah bereaksi sempurna dengan larutan titrat, maka kelebihannya akan bereaksi dengan indikator sehingga dapat memberikan warna. Sementara dosen saya mengatakan begini: "Jadi ketika di dalam erlenmeyer terdapat larutan titrat dan juga indikator, di saat itu akan terbentuk ikatan antara logam dengan indikator yang mana misalnya warna dalam bentuk molekulnya adalah merah violet, kemudian dalam hal ini juga ikatan yang terbentuk antara ion logam dan indikator ternyata lebih lemah dibandingkan dengan ikatan logam larutan titrat dengan larutan titran, sehingga ketika dititrasi, ion dari larutan titran akan segera menggeser ikatan tersebut sehingga indikator tidak lagi berikatan dan segera berubah menjadi bentuk bebasnya yang dalam hal ini misalnya dalam bentuk bebas berwarna biru. Dengan adanya titrasi yang dilakukan secara terus menerus maka warna merah violet makin menghilang dan warna biru akan makin bertambah. TA dalam hal ini bukanlah terbentuk warna biru, melainkan ketika warna merah violetnya telah menghilang dengan sempurna."

Dengan demikian jelaslah bagaimana mekanisme kerja suatu indikator dapat memberikan perubahan warna.

Dengan kata lain, indikator dalam hal ini memiliki peranan yang penting, namun demikian, perlu diketahui bahwa tiap-tiap indikator memiliki karakteristik masing-masing seperti pH misalnya. Dalam metode kompleksometri ini perlu juga diketahui bahwa terbentuknya senyawa kompleks dipengaruhi salah satunya oleh pH, jadi apabila pH yang ada tidak sesuai, maka tidak akan terbentuk senyawa kompleks yang stabil. Oleh karena itu, pemilihan indikator menjadi amat penting dalam hal ini.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan indikator:
  1. Ikatan antara indikator dengan ion logam haruslah lebih lemah dari ikatan antara ion logam dengan EDTA misalnya (antara ion dalam larutan titran dan ion dalam larutan titrat).
  2. Indikator harus sensitif, misalnya dengan adanya kelebihan sedikit dari ion larutan titran maka dapat segera bereaksi.
  3. Indikator harus memberikan warna spesifik yang perubahan warna nantinya juga harus tampak tajam dan jelas, sehingga TA dapat diamati dengan baik.
  4. Reaksi substitusi juga harus berjalan dengan cepat agar TA dapat mendekati nilai TE.
Sebelumnya juga dikenalkan dengan beberapa indikator tertentu seperti Na nitroprussid, difenil carbazid, difenil carbazon, dan KI. Pada kesempatan kali ini, kenali juga indikator lainnya seperti EBT (Eriochrom Black 2) dan Calcon. Untuk calcon, calcon merupakan indikator spesifik untuk ion Ca2+. Sementara EBT merupakan indikator spesifik untuk ion Mg, Mn, Zn, Cd, Hg, dan Pb. Perlu diketahui dalam hal ini bahwa Ca tidak cocok menggunakan EBT, karena ikatannya yang terlalu lemah sehingga dapat menyebabkan TA mendahului TE. Selain itu, ion seperti Cu, Co, Ni, Al, Fe, dan Pt, juga tidak cocok menggunakan EBT karena ikatannya yang terlalu kuat sehingga dapat menyebabkan TA melampaui TE.

Sepertinya hanya sampai di sini yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat, terima kasih sudah berkunjung ^^

Emulsifikasi

Emulsifikasi tentunya berkaitan dengan emulsi, lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan emulsi? Saat SMA saya mendefinisikan emulsi sebagai salah satu sistem koloid di mana fase terdispersinya berupa cairan dan fase pendispersinya adalah cairan, jadi bisa dibilang yang dimaksud dengan emulsi adalah suatu cairan dalam cairan.

Sementara, definisi emulsi yang dijelaskan oleh dosen adalah suatu sistem dispersi di mana fase terdispersinya berupa zat cair dalam bentuk globul yang terdistribusi secara rata ke ke seluruh cairan pembawanya atau fase pendispersinya dan saling tidak bercampur. 

Oleh karena itulah, dalam hal ini, tujuan dari emulsifikasi adalah membentuk suatu emulsi yang stabil sehingga antara kedua cairan yang saling tidak bercampur tersebut dapat saling bercampur dengan adanya zat penstabil atau zat pengemulsi.

Zat pengemulsi ini biasa disebut sebagai emulgator. Mungkin dapat muncul pertanyaan begini, "Bagaimana bisa sebuah emulgator dapat menstabilkan suatu emulsi atau dengan kata lain dapat menyebabkan suatu zat cair yang tidak saling bercampur pada awalnya menjadi dapat bercampur dan dapat stabil pencampurannya?"

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dibuatlah suatu "Teori Emulsifikasi" yang dapat menjelaskan mengenai hal itu. Teori emulsifikasi ini dapat terbagi menjadi 2--berdasarkan buku panduan praktikum farmasi fisika yang saya miliki--yaitu "Teori Tegangan Permukaan" dan "Teori Oriented-Wedge".

Teori tegangan permukaan menjelaskan bahwa dalam hal ini, sebuah emulgator dapat membentuk emulsi dengan menurunkan tegangan permukaannya. Suatu emulsi dapat stabil secara termodinamika apabila energi bebasnya kecil atau sama dengan nol. Sementara kita tahu bahwa energi bebas merupakan perkalian antara tegangan permukaan dan luas permukaan. 


Sehingga apabila tegangan permukaannya yang diturunkan, maka dapat menurunkan pula energi bebasnya dan menghasilkan suatu emulsi yang stabil.

Selain itu, dengan adanya penurunan pada tegangan permukaan juga dapat mengurangi gaya tolak menolak antara kedua cairan yang saling tidak bercampur pada awalnya dan juga mengurangi gaya tarik menarik antara cairan yang sejenis sebagaimana kita tahu bahwa suatu emulsi pada awalnya merupakan campuran zat cair yang saling tidak bercampur karena kuatnya gaya kohesi (tarik menarik dengan cairan sejenis) dan juga lemahnya gaya adhesi (tarik menarik dengan zat cair yang berbeda yang dengan kata lain antara kedua zat cair, gaya tolak menolaknya besar) sehingga dengan demikian lebih mendorong kedua cairan untuk saling terpisah.

Kemudian Teori oriented wedge, berdasarkan definisi per katanya yang wedge artinya pengganjal atau penjepit maka berdasarkan pemahaman saya sendiri teori tersebut ingin menjelaskan peranan emulgator dalam pembentukan emulsi yang stabil dengan berperan sebagai suatu pengganjal atau penjepit. 

Dua cairan yang saling terpisah tersebut dengan adanya emulgator sebagai pengganjal atau penjepit akhirnya dapat saling menyatu. Kenapa emulgator tersebut bisa mengganjal atau menjepit kedua cairan yang saling berbeda sifatnya? Karena emulgator tersebut memilki kedua sifat tersebut. Sebagaimana kita tahu bahwa suatu emulsi yang terdiri dari dua cairan yang saling tidak bercampur, pada umumnya karena cairan yang satu bersifat hidrofilik sementara yang satunya lagi bersifat lipofilik. Oleh karena itulah dalam hal ini, emulgator tersebut dapat menjepit karena memiliki kedua sifat tersebut. Bagian dari emulgator yang bersifat hidrofilik akan memegang cairan yang bersifat hidrofilik sementara bagian lainnya dari emulgator yang bersifat lipofilik memengang cairan satunya lagi yang bersifat lipofilik.

Berdasarkan teori yang kedua ini, bisa diketahui bahwa suatu emulgator memiliki dua sifat yaitu hidrofilik dan lipofilik. Pada kenyataannya, distribusi kekuatan sifatnya tersebut tidak sama, hanya salah satu sifatnya saja yang akan lebih dominan. Ukuran dari keseimbangan antara sifat hidrofilik dan lipofilik ini ditetapkan dalam suatu ukuran yang disebut dengan HLB (Hidrofilik Lipofilik Balance). 

Dengan adanya HLB tersebut, oleh Griffin, diberikan suatu skala yang menetapkan bahwa nilai HLB yang kecil menunjukkan sifat emulgator yang lebih lipofilik sementara yang nilai HLBnya besar menunjukkan sifat hidrofiliknya yang lebih dominan.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa dalam emulsi ini, terdapat dua tipe, yaitu tipe A/M (Air dalam Minyak) dan tipe M/A (Minyak dalam Air). Yang menentukan suatu emulsi merupakan tipe A/M atau M/A adalah jumlah dari tiap-tiap zatnya. Untuk tipe A/M artinya jumlah air lebih sedikit dibandingkan minyak sehingga air berperan sebagai zat terdispersi (fase internalnya) dan minyak berperan sebagai zat pendispersi (fase eksternalnya), begitu juga sebaliknya, untuk tipe M/A, jumlah minyak sebagai zat terdispersi lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah air sebagai zat pendispersinya. 

Selain jumlah zatnya, HLB suatu emulgator juga dapat mempengaruhi tipe emulsi. Apabila kita menginginkan untuk membuat emulsi tipe A/M maka kita harus menggunakan HLB yang sesuai yaitu yang memiliki sifat lipofilik yang lebih dominan yaitu yang antara 3-6. Sementara apabila kita menginginkan tipe emulsi M/A maka kita harus menggunakan HLB yang memiliki sifat hidrofilik yang lebih dominan yaitu yang antara 8-18. Jadi tergantung dari sifat zat cair pendispersinya yang jumlahnya lebih banyak, apabila yang jumlah pendispersinya lebih banyak adalah minyak (yang bersifat lipofilik) maka HLB yang digunakan haruslah yang sesuai dengan yang jumlahnya lebih banyak yaitu yang HLBnya kisaran lipofilik juga (3-6) begitu pula sebaliknya. Dengan kata lain, apabila tidak sesuai maka tipe emulsi yang diinginkan mungkin tidak dapat tercapai. Sekiranya pemahaman saya terkait yang satu ini begitu, apabila ternyata salah, saya mohon maaf. 

Dalam hal ini fungsi dari mengetahui harga HLB tiap emulgator adalah untuk mengetahui seberapa banyak emulgator yang dibutuhkan sebenarnya sampai pada harga HLB berapa hingga dapat membentuk emulsi yang optimal dan stabil. Tiap jenis minyak memiliki HLB butuhnya masing-masing, misalnya saja parrafin liquid, parrafin liquid memiliki HLB butuh 12, artinya untuk dapat membentuk suatu emulsi yang stabil dengan jenis minyak ini, perlu menggunakan emulgator dengan kisaran HLB demikian. Diketahuinya HLB butuh parrafin liquid adalah sebesar 12, ditentukan berdasarkan percobaan. HLB butuh ini juga tergantung dari tipe emulsi yang diinginkan, akan berbeda apabila kita ingin membuat emulsi dengan parrafin liquid tetapi tipe emulsinya M/A maka HLB butuhnya menjadi 5.

Berikut adalah macam-macam jenis minyak beserta harga HLB butuhnya:


Jadi sudah dapat diketahui bahwa dengan mengetahui HLB butuh tersebut, artinya emulgator yang ada, diharapkan memiliki HLB sesuai dengan HLB butuhnya. Namun kenyataannya, tidak ada emulgator yang benar-benar sesuai dengan HLB butuh tiap minyak, sehingga diperlukan adanya kombinasi antar tiap emulgator, meskipun demikian, justru dengan adanya kombinasi tersebut menyebabkan emulsi menjadi lebih stabil karena akan didapatkan lapisan film yang lebih rapat.

Berikut adalah beberapa macam jenis emulgator beserta harga HLBnya:



Mungkin muncul pertanyaan, "Baiklah kalau begitu, jika memang untuk bisa mendapatkan suatu emulsi yang stabil perlu menggunakan kombinasi emulgator yang akumulasi harganya sesuai dengan HLB butuh minyak, misalnya saja emulsi tersebut merupakan campuran antara air dengan minyak seperti parrafin liquid dan minyak jagung yang berdasarkan perhitungan dan pertimbangan besar bobotnya hingga akhirnya didapatkan HLB butuh minyaknya sebesar 10, apabila menggunakan kombinasi emulgator seperti span 80 yang HLBnya 4,3 dan tween 80 yang HLBnya 15, pastinya berapa kombinasi jumlah massa dari span 80 dan tween 80 yang dibutuhkan untuk membuat emulsi stabil yang demikian?"

Jawabannya bisa dilihat pada gambar di bawah ini, untuk mengetahui jumlah massa tiap jenis emulgatornya bisa kita gunakan rumus 1 dan rumus 2 (rumus silang).


Berdasarkan tampilan soal di atas, diketahui bahwa emulgator yang dibutuhkan sebesar 2%, artinya dengan jumlah emulsi yang diinginkannya adalah 100 gram, sementara ada keterangan da 70, maka jumlah emulgator = 2% x100 x 70/100 = 1,4 gram.



Jadi berdasarkan soal, dapat disimpulkan bahwa jumlah tween 80 yang dibutuhkan adalah sebanyak 0,75 gram, sementara jumlah span 80 yang dibutuhkan adalah sebanyak 0,65 gram.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa suatu emulsi pada dasarnya merupakan sistem yang tidak stabil yang oleh karena adanya zat penstabil seperti emulgator tersebutlah pada akhirnya dapat membuat suatu emulsi yang stabil. Tetapi sebenarnya pada waktu tertentu dan pada jangka waktu yang berbeda-beda, suatu emulsi dapat kembali menjadi tidak stabil. Kenapa bisa menjadi tidak stabil? Bisa karena pengaruh dari lingkungan seperti suhu, pH, kelembapan, dan lain sebagainya yang mana dengan adanya pengaruh tersebut dapat mengakibatkan rusaknya film yang dibentuk oleh emulgator, dan apabila film tersebut rusak, tentunya emulsi stabil yang terbentuk bisa menjadi pecah atau rusak juga sehingga menjadi tidak stabil kembali.

Lalu bagaimana caranya mengetahui suatu emulsi sudah tidak stabil lagi? Dalam hal ini ada 2 fenomena yang dapat menjelaskan ketidakstabilan suatu emulsi. Kedua fenomena tersebut antara lain, fenomena ketidakstabilan yang ditujukan dengan film yang terbentuk oleh emulgator masih belum rusak dan fenomena ketidakstabilan dengan film yang sudah rusak.

Fenomena ketidakstabilan yang filmnya masih belum rusak terjadi akibat adanya energi bebas permukaan yang besar yang dengan untuk menurunkan energi bebas yang tidak diinginkan tersebut, maka emulsi berusaha untuk memperkecil luas permukaan yang mana sebelumnya telah diketahui bahwa apabila luas permukaan diturunkan, maka menurun pula energi bebas permukaannya (lihat kembali persamaan sebelumnya yang di atas). Untuk dapat menurunkan luas permukaan tersebut, maka antara globul zat terdispersi yang satu dan yang lainnya saling berdekatan hingga membentuk globul yang lebih besar. Pembentukan globul yang lebih besar ini disebut dengan flokukasi. Kemudian apabila pembentukan globul yang lebih besar tersebut terus berlanjut, maka dapat menyebabkan terbentuknya lapisan di bawah atau di atas emulsi, tergantung dengan massa jenisnya, apabila massa jenis globul besar yang membentuk lapisan tersebut lebih besar massa jenisnya dibandingkan dengan massa jenis zat pendispersinya maka lapisannya akan terbentuk di bawah, begitu juga sebaliknya. Peristiwa lanjutan dari flokulasi yang hingga dapat menyebabkan terbentuknya lapisan tersebut disebut dengan creaming. Apabila terbentuk fenomena ketidakstabilan creaming ini, ketika dikocok masih dapat membentuk emulsi yang stabil karena filmnya masih belum rusak.

Kemudian fenomena ketidakstabilan yang filmnya sudah rusak, hampir sama dengan sebelumnya, akan dapat terjadi koalesen, mirip dengan flokulasi, terbentuk pula globul-globul yang besar tetapi bedanya, koalesen ini terbentuk dengan film yang sudah rusak. Dan kelanjutan dari koalesen ini yaitu terbentuknya lapisan di bawah atau di atas permukaan disebut dengan demulsifikasi yang oleh pengocokan tidak dapat kembali membentuk emulsi karena filmnya sudah rusak.

Jadi sekali lagi, diingatkan bahwa peristiwa flokulasi, creaming, koalesen, dan demulsifikasi merupakan fenomena ketidakstabilan suatu emulsi.

Sekiranya hanya ini yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga bermanfaat, terima kasih atas kunjungannya :D

Friday, March 08, 2013

HEY! YOU'RE MY SISTER!

Halo Siti Nur Priantia.

This is me, Nuri. How are today? I hope, everything is good. 
Remember the time after Clobim? How do you feel? I really enjoy the situation which made not only you but also your other friends became very shocked and seemed dissappointed. But at final, you are my sister.  

Welcome to your new family. We greet you warmly :D


Tia, you have to remember that I'm just an ordinary college student, so I want you not to expect too much from me. Nevertheless, I will try my best to be your good sister. If there is something that you want to tell me, just call me and feel free. 

I really happy that you become my sister. I hope, in the future, we can make really good relation. We are family now, just feel free to tell and call the other family members too, they would be very happy to respon it.

For the last sentence, I just want to give you a message, although we will be 5 years in the college until become the real pharmacist, our relation will never end. We will still become family. Remember this!





From Your New Sister With Love



Nuri
Posted on by Nurul Fajry Maulida | No comments