Monday, March 04, 2013

Analisis Asam

Sudah sering saya mempelajari mengenai asam, namun untuk menganalisis suatu sampel apakah merupakan senyawa asam ataupun karbohidrat, belum dapat saya mengerti. Sebenarnya teori analisis kedua senyawa tersebut sudah saya dapatkan di semester 3 yang lalu, di ABBF (Analisis Bahan Baku Farmasi), pernah saya mengingat dan memahaminya dengan benar, hingga ujian usai, ingatan dan pemahaman itu ikut usai juga. Oleh karena begitu berharganya materi ini, maka saya mencoba untuk mengulang dan mengingat kembali materi tersebut melalui tulisan ini.

Pembahasan saya awali seputar asam. 

"Apakah yang dimaksud dengan asam?" merupakan suatu pertanyaan yang sederhana tetapi seringkali mahasiswa memutar otak untuk mendefinisikannya. 

"Definisinya berdasarkan teori apa ya?" 
"Kalau teori ini definisinya bagaimana ya?" 
"Aduh, terlalu banyak pendefinisian, jadi bingung sendiri apa ya yang dimaksud dengan asam?"

Saya sendiri seringkali berpikir demikian, terlalu banyaknya teori yang dihapal, karena orientasi hapal untuk ujian saja, akhirnya setelah ujian, saya tidak ingat lagi sederetan kalimat definisinya tersebut. Dalam hal ini, sudah seharusnya kita tidak lagi hanya sekedar menghapal, tetapi mencoba untuk mendapatkan maknanya, mungkin dengan begitu, ingatan tersebut akan dapat selalu tersimpan.

Kalau mengingat kembali definisi asam, kita bisa mendefinisikannya melalui 3 teori yang sudah sering kita dengar, yaitu teori Arrhenius, teori Bronsted Lowry, dan teori Lewis. Berdasarkan pemahaman saya, ketiga teori tersebut saling memperbaiki. 

Bisa dibilang teori Arrhenius merupakan teori mengenai asam yang pertama di antara ketiganya, yang kemudian berdasarkan teori tersebut yang dimaksud dengan asam adalah suatu senyawa yang apabila dilarutkan dapat terionisasi menjadi H+. Definisi berdasarkan teori Arrhenius ini memiliki keterbatasan, yang mana hanya dapat menggolongkan asam untuk senyawa-senyawa yang hanya dapat terlarut di dalam air, lalu bagaimana dengan senyawa yang tidak dapat larut dalam air?

Kemudian teori mengenai asam dilengkapi oleh Bronsted Lowry yang mendefinisikan bahwa asam merupakan senyawa yang memberikan proton. Pada akhirnya untuk berikutnya dilengkapi lagi oleh Lewis bahwa yang dimaksud dengan asam adalah senyawa yang menerima elektron sehingga senyawa BF3--dengan jelas tidak memiliki atom H sama sekali--bisa kita katakan juga sebagai asam. Karena apabila BF3 ini bereaksi dengan NH3, maka atom B akan menerima pasangan elektron bebas dari atom N tersebut sehingga dengan begitu BF3 disebut sebagai asam. 


Tetapi dalam analisis kimia ini, kita hanya perlu mengetahui bahwa yang dimaksud dengan asam adalah senyawa yang dapat menunjukkan keasamannya dengan merubah kertas lakmus biru menjadi merah.

Lalu bagaimanakah caranya kita dapat mengidentifikasi adanya asam dalam suatu sampel. Caranya adalah dengan melakukan analisis pendahuluan pada suatu sampel yang terdiri dari:
  1. Pengamatan secara organoleptik
  2. Mereaksikannya dengan kertas lakmus
  3. Menggunakan indikator pH universal
  4. Sublimasi
  5. Pirolisis
Secara organoleptik dapat dilihat berdasarkan bentuk, bau, dan rasanya bahwa asam biasanya berbentuk cair, kristal, dan padat, berbau menusuk, dan berasa asam (karena memang senyawa asam) atau asin (senyawa asam dalam bentuk garam berasa asin).

Dengan kertas lakmus biru tentunya dapat merubahnya menjadi merah. Penggunaan indikator pH universal hanya untuk mengetahui derajat keasamannya saja. Reaksi sublimasi dilakukan karena pada umumnya senyawa asam mudah menyublim. Pirolisis dilakukan atas dasar pengetahuan bahwa apabila meninggalkan sisa maka garam dan apabila memberikan warna hitam menandakan adanya asam.

Dalam hal ini, analisis pendahuluan saja tidak cukup untuk meyakinkan kita bahwa sampel yang kita analisis mengandung senyawa asam, perlu adanya reaksi umum berikutnya yang benar-benar dengan begitu kita pastikan bahwa sampel yang kita analisis mengandung senyawa asam. Reaksi-reaksi umum tersebut salah satunya adalah reaksi reaksi Cuprifil.

Reaksi Cuprifil ini menggunakan pereaksi NaOH dan CuSO4, hasil positif apabila terbentuk warna larutan biru jernih.

Selain itu, kita juga dapat mengetahui reaksi-reaksi umum tertentu untuk segolongan jenis asam tertentu, ada sekitar 14 reaksi, antara lain: (1) reaksi dengan FeCl3, (2) reaksi iodoform, (3) reaksi beilstein, (4) reaksi marquis, (5) reaksi fehling, (6) reaksi dengan AgNO3, (7) reaksi dengan p. DAB, (8) reaksi nessler, (9) reaksi dengan NaOH, (10) reaksi Umbelliferon, (11) reaksi murexide, (12) reaksi frohde, (13) reaksi parri, dan (14) reaksi dengan KMnO4.

Reaksi dengan FeCl3, menggunakan pereaksi FeCl3 beberapa tetes, hasil positif pada segolongan asam tertentu, apabila berwarna ungu/merah ungu maka derivat salisilat, apabila berwarna merah maka asam melonat, apabila berwarna coklat maka asam benzoat atau asam asparagin, apabila berwarna coklat merah maka asam asetat, apabila berwarna kuning maka asam laktat atau asam malat, apabila jingga maka asam indhosinolinsulfonat, dan apabila berwarna biru hitam maka asam gallat.

Reaksi Iodoform menggunakan pereaksi NaOH/NH4OH dan sol iodii, hasil positif apabila terbentuk endapan kuning muda yang berkilat, hasil positif untuk asam piruvat, asam laktat, dan asam sulfosalisilat.

Reaksi beilstein menggunakan kawat Cu yang dibersihkan lalu dibakar, dicelup ke dalam larutan zat, dibakar lagi dengan nyala bunsen. Suatu reaksi umum pada halogen maka hasil positif untuk asam yang mengandung halogen seperti asam trikloroasetat.

Reaksi fehling menggunakan pereaksi fehling A dan fehling B, hasil positif apabila terdapat endapan merah bata Cu2O, hasil positif untuk asam gallat, asam glukonat, asam formiat, tanin, dan nikotamid.

Reaksi dengan AgNO3, apabila reaksi berjalan dengan dingin maka bisa jadi asam gallat, sementara apabila reaksi berjalan dengan panas bisa jadi asam formiat.

Reaksi dengan p DAB akan menghasilkan warna jingga, hasi positif untuk asam sulfanilat dan asam antranilat.

Reaksi nessler menggunakan pereaksi KI dan HgI2 (1:20), hasil akan mengendap, positif untuk asam formiat dan asam tartrat.

Reaksi umbelliferon menggunakan pereaksi resorsin dan H2SO4 apabila dipanaskan lalu diencerkan dengan air kemudian ditambah dengan NaOH maka bisa diamati menggunakan sinar biasa atau sinar UV maka beberapa golongan asam tertentu akan memberikan warna yang berbeda, misalnya dengan sinar biasa, asam sitrat kuning, asam tartrat coklat merah, asam phtalat kuning/coklat, asam malonat kuning, dan asam suksinat kuning.

Reaksi murexide menggunakan KClO3 dan HCl sebagai pereaksi, zat ditambah pereaksi lalu dipanaskan di penangas air maka akan dihasilkan warna kuning jingga, setelah dingin, tiupkan uap NH4OH encer maka akan menjadi ungu.

Reaksi frohde menggunakan pereaksi larutan amonii molibdat dan H2SO4 maka akan menjadi ungu, positif untuk asam salisilat.

Reaksi parri menggunakan pereaksi Co(NH3), zat tambah pereaksi tiup dengan ammonia maka akan berwarna ungu, positif untuk asam phtalat dan asam champironat.

Reaksi dengan KMnO4, lalu ditambah dengan H2SO4 kemudian dipanaskan maka apabila berbau asetaldehid berarti asam laktat dan derivatnya, sementara apabila bau benzaldehid maka asam sinamat dan derivatnya.

Sunday, March 03, 2013

Catatan Praktikum Farmakognosi #3

Senin yang lalu, 25 Februari 2013, saya kembali hadir di pertemuan ketiga kelas Praktikum Farmakogosi. Kali ini tidak lagi Ibu Katrin yang menjelaskan materinya, namun disampaikan oleh dua orang teman kami yang bertugas yaitu Tyas dan Ainina.

Tyas menjelaskan karakteristik secara makroskopik dan mikroskopik dari Datura Stramonii Folium (Daun Kecubung), Digitalis Folium, dan Nerii Folium (Daun Oleander). Sementara Ainina menjelaskan karakteristik secara makroskopik dan mikroskopik dari Orthosiphonis Folium (Daun Kumis Kucing) dan Piperis Betle Folium (Daun Sirih).

Pertama, Datura Stramonii Folium.

Berasal dari tanaman Datura stramonium L. dan berasal dari famili Solanaceae. Secara makroskopik, jelas terlihat dari gambar, daun ini terdiri dari daun tunggal yang bertangkai, tepi daunnya berlekuk atau bergerigi tidak beraturan, ujung daunnya runcing, pangkalnya bulat, dan warnanya hijau tua keabu-abuan. Selain itu, dari rasa dan baunya, daun ini berasa pahit dan tidak enak, serta berbau membius.

Secara Mikroskopik. Ada sekitar 6 hal yang menjadi karakteristik spesifik dari Datura Stramonii Folium, antara lain: (1) Tipe stomatanya adalah anisositik, dengan seperti tipe daun pada umumnya, stomata tersebut lebih banyak jumlahnya di bagian epidermis bawah dibandingkan dengan epidermis atas. (2) Jaringan palisade hanya tersusun dari satu lapis sel. (3) Ada banyak kristal kalsium oksalat berbentuk roset pada jaringan bunga karang. (4) Rambut penutupnya berbentuk kerucut. (5) Rambut kelenjarnya terdiri dari 1-2 sel tangkai dengan 2-4 sel kepala. (6) Di sekitar tulang daunnya, satu lapis sel yang berdekatan tidak dapat ditemukan kristal kalsium oksalat, tetapi pada beberapa lapisan setelahnya banyak ditemukan lapisan kalsium oksalat berbentuk prisma dan pasir. 

Pada praktikum yang lalu, saya hanya benar-benar dapat mengamati bentuk daunnya yang khas, serabut berkas pembuluh, dan kristal kalsium oksalat berbentuk prisma, sementara fragmen-fragmen lainnya tidak dapat dengan jelas dapat saya amati. Jadilah yang dapat saya gambar selama praktikum hanya begini:


Bagian spesifik yang seharusnya dapat diamati juga antara lain:


Kedua, Digitalis Folium.



Berasal dari tanaman Digitalis purpurea L. dan dari famili Scrophulariaeae. Secara makroskopik, daun ini merupakan daun tunggal dan bertangkai, permukaan daunnya empuk, bulu rambut daunnya agak tebal, urat daunnya seperti anyaman dan dapat terlihat dengan jelas. Selain itu, dari segi rasa, rasanya pahit. 

Secara mikroskopik, ada 4 fragmen spesifik yang perlu diketahui pada jenis daun ini, antara lain: (1) Diamati dari atas, jaringan epidermis tampak berbentuk memanjang seperti jaringan palisade; (2) Tipe stomatanya anomositik; (3) Rambut penutupnya berbentuk khas, terdapat bagian yang berkolabrasi (menyempit); Dan (5) rambut kelenjarnya terdiri dari 1-4 sel tangkai dan 1-2 sel kepala.

Yang dapat saya amati saat itu hanya bentuk rambut penutupnya saja dan satu fragmen yang saya tidak ketahui itu apa.


Seharusnya terdapat fragmen spesifik seperti ini:


Ketiga, Nerii Folium.


Berasal dari tanaman Nerium oleander, famili Apocynaceae. Secara makroskopik, daun ini berbentuk lanset, tebal, dan keras. Serta sistem pertulangan daunnya berupa daun menyirip sejajar. 

Secara mikroskopik, ada 6 fragmen spesifik yang dimilikinya, antara lain: (1) Adanya kutikula yang tebal pada bagian atas permukaan jaringan epidermisnya. (2) Terdapat hipodermis. (3) Jaringan palisade terdiri dari 3 lapisan. (4) Pada epidermis bawah terdapat lekukan yang di dalamnya terdapat lekukan. (4) Rambut penutup terdiri dari 1 sel. (5) Terdapat kristal kalsium oksalat berbentuk bintang pada urat daun dan mesofilnya. Dan (6) stomatanya memiliki 5-6 sel tetangga.

Fragmen yang dengan jelas dapat saya amati hanya bagian epidermis bawah yang terdapat lekukan dan di dalam lekukannya ada terdapat banyak rambut penutup, sementara fragmen lainnya tidak dapat saya amati dengan baik.


Seharusnya terdapat fragmen spesifik lainnya seperti di bawah ini:


Keempat, Orthosiphonis Folium.


Berasal dari tanaman Orthosiphon aristatus (Bl.) Miq. dari famili Lamiaceae. Secara makroskopik, daun ini merupakan daun tunggal bertangkai, bentuknya seperti bulat telur, lonjong, dan bisa juga seperti ujung tombak atau belah ketupat, permukaan daunnya licin, tepi daunnya bergerigi tidak beraturan, serta tulang daunnya menyirip.

Secara mikroskopik, yang saya pahami, terdapat 4 fragmen spesifik pada spesies daun ini, antara lain: (1) Memiliki kutikula yang tebal. (2) Tipe stomatanya diasitik. (3) Terdapat rambut penutup berbentuk kerucut terdiri dari 1-2 sel. (4) Rambut kelenjarnya tipe Lamiaceae yang mana terdiri dari satu sel tangkai dan 4-6 sel kepala.

Yang dapat saya amati lagi-lagi hanya bentuk rambut penutupnya dan satu fragmen yang tidak jelas (tetapi saya gambar saja karena memang itu yang saya lihat di bawah mikroskop), saya tidak begitu mengetahui bagaimana caranya dapat mengamati fragmen spesifik lainnya misalnya saja stomatanya. Mungkin saya dapat mengamatinya pada perbesaran 10x40, tetapi sayangnya, mikroskop yang saya gunakan lensa objek 40-nya dalam keadaan rusak :(


Seharusnya terdapat fragmen spesifik berikut:


Kelima, Piperis Betle Folium.


Berasal dari tanaman Piperis betle L. dari famili Piperaceae. Secara makroskopik, daun ini merupakan jenis daun tunggal bertangkai, bentuk daunnya bulat telur agak lonjong dengan ujungnya yang runcing dan agak menggulung ke bawah, pangkal daunnya sedikit berlekuk seperti jantung. Warna permukaan daun atas lebih tua dibandingkan bawahnya. Selain itu permukaan atasnya licin sedangkan bagian bawahnya agak kasar. 

Secara mikroskopik, ada 8 fragmen spesifik yang dimilikinya, antara lain: (1) Terdapat kutikula yang tebal dan licin di bagian atasnya; (2) Sel epidermis terdiri dari 1 lapis jaringan berbentuk segiempat; (3) Terdapat hipodermis yang mana bagian atas ada 2 lapis jaringan hipodermis, bagian bawah terdapat 1 lapis jaringan hipodermis; (4) Di jaringan hipodermis atas terdapat sel minyak berwarna jingga kekuningan; (5) Jaringan palisadenya tersusun dari satu lapisan; (6) Terdapat rambut penutup yang terdiri dari satu sel; (7) Terdapat rambut kelenjar yang terdiri dari satu sel kepala berbentuk bulat; Dan (8) Tipe stomatanya berupa anomositik.

Fragmen yang dapat saya amati dengan jelas hanya sel minyaknya saja.


Fragmen spesifik yang seharusnya dapat saya amati juga antara lain:


Demikian yang dapat saya sampaikan. Tentunya tidak lepas dari adanya kesalahan. Mohon maaf atas kekurangannya. Semoga bermanfaat. Terima kasih atas kunjungannya :D

Friday, March 01, 2013

Analisis Alkohol dan Fenol

Secara umum, saya rasa, semua sudah mengetahui perbedaan antara Alkohol dengan Fenol, dari struktur kimianya saja sudah jelas.


Di samping struktur kimianya, kita juga dapat membedakan keduanya dari karakteristiknya.

Pada umumnya, Alkohol bersifat mudah menguap dan mudah terbakar. Alkohol yang terdiri dari 1-4 atom C berupa cairan, 5-9 atom C berupa cairan kental seperti minyak, dan 10 atau lebih dari 10 atom C berupa zat padat. Alkohol yang terdiri dari 1-4 atom C juga dapat larut dalam air sementara yang jumlahnya lebih dari itu lebih mudah larut dalam pelarut organik. Tidak meninggalkan sisa ketika dipijarkan juga merupakan salah satu karakteristik dari Alkohol. Alkohol ada yang berasa pahit dan manis, adapula yang berbau spesifik dan harum. Untuk alkohol Monovalen, semakin bertambah atom C-nya maka semakin tinggi titik didihnya. Sementara untuk alkohol Polivalen, semakin banyak gugus hidroksilnya semakin besar titik didihnya.

Sementara karakteristik dari Fenol adalah sebagai berikut, Fenol juga dapat berupa cairan dan padatan. Fenol juga ada yang rasanya manis dan pahit, berbeda dengan alkohol, Fenol ada yang berasa asam. Mengenai kelarutannya, Fenol Monovalen lebih larut dalam pelarut organik sementara Fenol Polivalen umumnya larut dalam air.

Selain struktur, bedanya lagi antara Alkohol dan Fenol adalah reaksi umum pada kedua senyawa tersebut. Alkohol akan memberikan hasil reaksi tertentu pada reaksi umumnya yang mana tidak bisa dihasilkan oleh Fenol dan begitu juga sebaliknya, Fenol akan memberikan hasil reaksi tertentu yang mana tidak bisa dihasilkan oleh Alkohol.

Berikut adalah beberapa reaksi umum pada Alkohol yang artinya juga semua jenis Alkohol akan memberikan hasil yang sama yang menjadi tanda bahwa senyawa yang sedang kita analisis merupakan senyawa Alkohol. Reaksi umum yang dimaksud antara lain reaksi Diazo dan reaksi dengan logam aktif (misalnya logam Na).

Dengan reaksi Diazo, senyawa Alkohol akan menunjukkan warna merah pada hasil reaksinya. Sementara pada reaksi dengan logam aktif akan menghasilkan suatu senyawa Alkoksida yang hasil reaksi lainnya yang dapat diamati adalah dihasilkannya gas H2.

Mungkin muncul pertanyaan, "Sebenarnya reaksi secara kimianya bagaimana sih sehingga Alkohol dengan reaksi Diazo dapat memberikan warna merah, lalu juga dengan logam aktif dapat menghasilkan gas H2?"

Untuk reaksi Diazo, mekanisme reaksinya bisa dijelaskan melalui gambar berikut, contoh Alkohol yang direaksikan adalah Etanol. Sebelumnya, kita perlu mengetahui pereaksi yang digunakan pada reaksi Diazo ini. Reaksi Diazo ini menggunakan campuran 2 pereaksi, yaitu Diazo A dan Diazo B dengan perbandingan komposisi 4:1. Pereaksi Diazo A terdiri dari asam Sulfanilat dan HCl, sementara pereaksi Diazo B terdiri dari NaNO2 dan H2O. Mekanismenya adalah sebagai berikut.


Mekanisme yang saya terangkan tersebut saya dapatkan dari catatan senior, dan ketika teman saya mempresentasikan hal yang sama di kelas, dibenarkan oleh dosen. Mungkin agar lebih yakin, bisa dicari di pedoman lainnya.

Dan mekanisme yang terjadi pada saat reaksi dengan logam aktif misalnya dengan logam Na dan Alkoholnya adalah Etanol, contohnya adalah sebagai berikut:


Sementara beberapa reaksi umum pada fenol antara lain (1) reaksi Diazo, (2) reaksi Marquis, (3) reaksi Loco Millon, (4) reaksi dengan FeCl3, dan (5) mereaksikannya dengan CHCl3 ditambah NaOH atau KOH lalu dipanaskan maka akan memberikan warna stabil tertentu pada senyawa Fenol yang tertentu pula.

Dengan reaksi Diazo, Fenol juga dapat memberikan warna merah, tetapi setelah diberi Amil Alkohol maka akan menjadi jernih. Pereaksi yang digunakan sama dengan reaksi Diazo yang sudah saya jelaskan untuk Alkohol, hanya saja setelah memberikan warna merah setelah itu diberi Amil Alkohol, hasil positif apabila warna larutan berubah menjadi jernih.

Berikut merupakan mekanisme reaksi Diazo untuk Fenol sampai dapat memberikan warna merah.


Mekanisme reaksi yang saya tuliskan tersebut, saya buat berdasarkan pemahaman saya, mungkin terdapat kesalahan. Jangan dijadikan acuan, ambil maknanya saja dan coba cari dari literatur lain.

Dengan reaksi Marquis yang dilakukan dalam plat tetes maka akan terbentuk cincin dengan warna tertentu, bisa warna merah, coklat, jingga, ungu, dan hijau, tergantung dari senyawa Fenol yang mana. Pereaksi Marquis ini antara lain H2SO4 pekat dan formalin encer.

Dengan reaksi Loco Millon, senyawa Fenol akan bereaksi dan menghasilkan warna merah serta endapan kuning. Pereaksi yang digunakan antara lain HNO3 dan Hg(NO3).

Mekanisme reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:


Apabila direaksikan dengan FeCl3, maka akan dihasilkan senyawa kompleks berwarna, yang awalnya berwarna hijau akan berubah menjadi biru, dan yang awalnya berwarna violet (ungu) akan berubah menjadi merah.

Ketika direaksikan dengan CHCl3 ditambah NaOH lalu dipanaskan maka akan terbentuk warna stabil tertentu. (1) apabila mengandung Fenol maka berwarna kuning, (2) apabila mengandung Timol maka berwarna merah ungu, (3) apabila mengandung Naftol maka berwarna biru, (4) apabila mengandung Pirokatekol maka berwarna hijau, dan (5) apabila mengandung Resorsinol maka berwarna merah.

Berikut adalah mekanisme reaksinya:


Ketika diberikan suatu sampel, lalu kita menganalisisnya dengan reaksi-reaksi umum yang telah disebutkan sebelumnya lalu kemudian kita sudah dapat menyimpulkan apakah Alkohol yang dikandungnya atau apakah Fenol yang ternyata dikandungnya, maka untuk selanjutnya kita perlu mengetahui apabila yang terkandung adalah Alkohol, lalu jenis Alkohol yang mana yang dikandungnya tersebut dan berlaku juga sebaliknya, apabila Fenol, maka jenis Fenol yang mana yang dikandungnya.

Pada kesempatan ini, saya akan memulai pembahasan seputar Alkohol mengenai macam-macamnya dan reaksi-reaksi spesifiknya. Baru untuk selanjutnya, saya akan menjelaskan seputar Fenol.

Alkohol itu, ada banyak macamnya, tergantung berdasarkan apa mengklasifikasikannya maka jenisnya pun berbeda-beda. Ada 3 sudut pandang berbeda dalam pengklasifikasian Alkohol, (1) berdasarkan strukturnya, (2) berdasarkan jumlah gugus hidroksilnya (OH), dan (3) berdasarkan letak gugus hidroksilnya pada atom C yang mengikatnya.

Berdasarkan strukturnya, Alkohol dibedakan menjadi 3, yaitu Alkohol Alifatis, Alkohol Aromatis, dan Alkohol Siklik.


Berdasarkan jumlah gugus hidroksilnya, alkohol dibedakan menjadi dua, yaitu Alkohol Monovalen dan Alkohol Polivalen.


Berdasarkan letak gugus OH pada atom C-nya, Alkohol dibedakan menjadi 3, yaitu Alkohol Primer, Alkohol Sekunder, dan Alkohol Tersier.


Sekarang, mari kita belajar untuk menganalisis suatu senyawa Alkohol, apakah berdasarkan strukturnya termasuk Alkohol Alifatis, Aromatis, atau Siklik, apakah berdasarkan jumlah gugus hidroksilnya termasuk Alkohohol Monovalen atau Polivalen, dan apakah berdasarkan letak gugus hidroksilnya pada atom C termasuk Alkohol Primer, Sekunder, atau Tersier. Baru setelah itu kita mempelajari mengenai cara untuk menganalisis jenis-jenis Fenol tertentu.

Suatu Alkohol apabila berdasarkan strukturnya termasuk ke dalam Alkohol Alifatis maupun Siklik akan bereaksi negatif dengan pereaksi Marquis, sementara Alkohol Aromatis tidak.

Reaksi Marquis memang reaksi spesifik untuk Alkohol Aromatis, akan memberikan hasil positif apabila terbentuk cincin berwarna tertentu, bisa merah, coklat, jingga, ungu, hijau, dan sebagainya. Pereaksi yang digunakan adalah H2SO4 pekat dan larutan Formalin encer. Mekanisme reaksinya (misal contohnya adalah Benzil Alkohol) adalah sebagai berikut:


Mekanisme reaksi yang saya tuliskan tersebut, belum tentu benar, ambil maknanya saja. Cari dari literatur lain apabila ingin mengetahui lebih pastinya.

Kemudian suatu Alkohol apabila berdasarkan jumlah gugus hidroksilnya termasuk ke dalam Alkohol Monovalen dan Polivalen, kita dapat membedakannya dengan reaksi Esterifikasi dan Iodoform. Suatu Alkohol Monovalen akan memberikan hasil positif pada reaksi Esterifikasi dan Iodoform, sementara Alkohol Polivalen negatif.

Reaksi Esterifikasi merupakan suatu reaksi yang pereaksinya adalah asam-asam karboksilat (misalnya sam Asetat) dan hasil reaksinya adalah suatu senyawa ester yang dengan kata lain reaksi ini positif apabila tercium bau ester. Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut.


Reaksi Iodoform merupakan reaksi yang pereaksinya adalah larutan Iodii (I2) dan NaOH yang hasil reaksinya adalah Iodoform yang dengan kata lain hasil positif apabila terbentuk endapan berwarna kuning (jika diamati akan berbentuk kristal. Sebenarnya hasil positif ini menunjukkan adanya Alkohol Monovalen Sekunder. Alkohol Primer dan Tersier bisa menunjukkan hasil yang negatif. Jadi, agar lebih pasti membedakan antara Monovalen dan Polivalen sebaiknya menggunakan reaksi Esterifikasi.

Berikut adalah mekanisme reaksi Iodoform.


Mengenai mekanisme reaksi yang ini, sudah dibenarkan oleh dosen saya ketika ada teman saya yang presentasi. Tetapi, apabila ingin lebih pasti, silakan cari dari literatur yang lain.

Selain itu, kita juga masih bisa membedakan Alkohol Monovalen dengan Polivalen dengan reaksi-reaksi spesifik dari Alkohol Polivalen itu sendiri yang artinya apabila menghasilkan hasil yang positif artinya sampel tersebut merupakan Alkohol Polivalen, jika negatif maka Alkohol Monovalen.

Reaksi-reaksi spesifik tersebut antara lain reaksi dengan asam Borat, reaksi Cuprifil, reaksi Landwer, dan reaksi Carletti.

Reaksi dengan asam Borat artinya pereaksi yang digunakan adalah asam Borat, hasil positif apabila terdapat penurunan pH atau larutan setelah bereaksi menjadi semakin asam.

Reaksi Cuprifil, merupakan reaksi yang menggunakan NaOH dan CuSO4 sebagai pereaksinya, hasil positif apabila didapatkan suatu kompleks Cu yang jernih (larutannya jernih).

Reaksi Landwer, merupakan reaksi yang menggunakan FeCl3 sebagai pereaksi, hasil positif apabila terbentuk warna kuning tua sampai coklat jingga.

Reaksi Carletti, merupakan reaksi yang menggunakan asam Oksalat, Resorsin, dan H2SO4 pekat sebagai pereaksi, hasil positif apabila terbentuk warna ungu.

Kemudian, berdasarkan letak gugus hidroksilnya pada atom C apakah termasuk Alkohol Primer, Sekunder, atau Tersier, bisa dianalisis dengan menggunakan 5 reaksi berikut antara lain (1) reaksi Iodoform, (2) reaksi Oksidasi, (3) reaksi Beckman, (4) reaksi Deniges, dan (5)  Esterifikasi Lucas.

Reaksi Iodoform, berdasarkan yang sebelumnya sudah saya jelaskan, artinya hasil positif apabila mengadung senyawa Alkohol Sekunder, apabila negatif berarti bisa Primer atau Tersier.

Reaksi Oksidasi, menggunakan pereaksi KMnO4 dan H2SO4, untuk mengetahui apakah termasuk Primer, Sekunder, atau Tersier, bisa kita gunakan pereaksi Nessler (KI, HgI2, dan KOH), dan juga bisa gunakan pereaksi Legal Rothera (Na nitroprussid 5% dan ammonia). Apabila dengan pereaksi Nessler meghasilkan warna abu-abu maka Alkohol Primer. Lalu, apabila dengan pereaksi Legal Rothera menghasilkan warna biru kemudian ungu, dan setelah itu menghilang, maka Alkohol Sekunder. Dan apabila dengan pereaksi yang awal saja sudah tidak bereaksi maka Alkohol Tersier.

Kenapa menggunakan pereaksi Nessler? Karena pereaksi Nessler dapat mengidentifikasi adanya gugus Aldehid, dan kenapa menggunakan pereaksi Legal Rothera? Karena pereaksi tersebut dapat mengidentifikasi adanya gugus keton.

Sebagaimana kita tahu bahwa suatu senyawa Alkohol Primer apabila dioksidasi maka gugus hidroksilnya berupa menjadi aldehid, dan apabila terus dioksidasi maka akan menjadi gugus karboksil. Dan kita juga sudah mengetahui bahwa senyawa Alkohol Sekunder apabila dioksidasi maka akan membentuk gugus keton. Sementara Alkohol Tersier tidak dapat dioksidasi.

Reaksi Beckman, hampir sama seperti reaksi oksidasi, hanya saja pereaksi yang digunakan bukan KMnO4 tetapi K2Cr2O7 dan H2SO4, dan hasil positif yang diamati lebih ditunjukkan untuk keberadaan Alkohol Tersier, hasil positif apabila warna larutan orange-nya tidak mengalami perubahan warna, apabila terjadi perubahan warna maka bisa jadi Alkohol Primer atau Sekunder.

Reaksi Deniges, merupakan reaksi untuk Alkohol Tersier, pereaksinya adalah HgO, H2SO4, dan aqua, hasil positif apabila segera terbentuk endapan berwarna putih. Saya sendiri tidak begitu memahami pernyataan ini, mungkin Alkohol Primer dan Sekunder juga dapat membentuk endapan tetapi tidak secepat Alkohol Tersier.

Esterifikasi Lucas, merupakan reaksi yang menggunakan HCl dan ZnCl2 sebagai pereaksinya. Apabila warna larutan tetap jernih maka Alkohol Primer, apabila larutan berubah menjadi keruh setelah 5-10 menit maka Alkohol Sekunder, dan apabila larutan segera berubah menjadi keruh maka Alkohol Primer.

Berikut merupakan mekanisme reaksi dari Esterifikasi Lucas untuk Alkohol Tersier.


Dan sekarang saatnya kita beralih ke Fenol. Kita perlu mengetahui macam-macam Fenol. Fenol hanya diklasifikasikan berdasarkan jumlah ikatan dengan gugus hidroksilnya saja, yaitu menjadi dua antara lain (1) Fenol Monovalen, apabila hanya mengikat satu gugus hidroksil saja, dan (2) Fenol Polivalen, apabila inti fenil mengikat banyak gugus hidroksil (lebih dari satu).


Kita harus dapat membedakan sampel yang mengandung Fenol Monovalen dengan yang Polivalen. Metode membedakannya sama saja dengan Alkohol yaitu dengan mereaksikan suatu senyawa dengan reaksi yang spesifik untuk Fenol Monovalen, jadi apabila negatif berarti bukan Monovalen, artinya Polivalen, atau bisa juga dengan mereaksikannya dengan reaksi spesifik untuk Fenol Polivalen, hasil negatif berarti bukan Polivalen.

Reaksi spesifik untuk Fenol Monovalen ada 4, antara lain (1) reaksi Landolt, (2) reaksi Indofenol, (3) reaksi Spiro, dan (4) reaksi dengan Aqua Bromata.

Reaksi Landolt, merupakan reaksi yang menggunakan pereaksi aqua brom, hasil positif apabila terbentuk endapan putih yang tidak larut air.

Reaksi Indofenol, merupakan reaksi yang menggunakan pereaksi Anilin encer 0,01% dan Natrium Hipoklorit. Hasil positif apabila berwarna biru, dan akan berubah menjadi merah apabila ditambah larutan asam.

Reaksi Spiro, merupakan reaksi yang menggunakan pereaksi H2O2 dan FeSO4, hasil positif apabila berwarna hijau, dan akan berubah menjadi ungu apabila ditambah larutan NH4OH.

Reaksi dengan Aqua Bromata, artinya pereaksinya menggunakan aqua bromata, tetapi zatnya perlu dilarutkan terlebih dahulu dengan air atau HCl, apabila terbentuk endapan maka hasil positif.

Apabila dengan keempat reaksi tersebut negatif, kita bisa meyakinkan hasil analisis bahwa sampel yang sedang kita analisis mengandung Fenol Polivalen, yaitu dengan menggunakan reaksi-reaksi yang spesifik untuk Fenol Polivalen. Reaksi spesifik untuk Fenol Polivalen ada empat, (1) reaksi Fehling, (2) reaksi dengan asam Oksalat, (3) reaksi dengan Aqua Bromata, dan (4) reaksi dengan CaO.

Reaksi Fehling, menggunakan campuran pereaksi Fehling A dan Fehling B. Fehling A terdiri dari CuSO4.5H2O, H2SO4, dan H2O. Sementara Fehling B terdiri dari Kalium Natrium Tartrat, NaOH, dan aqua. Campuran dari Fehling A dan Fehling B tersebut kemudian ditambah NaOH maka hasil positif apabila terbentuk endapan berwarna merah bata kuning.

Reaksi dengan asam Oksalat, pereaksi yang digunakan tentunya asam Oksalat, kemudian dipanaskan, hasil positif akan terbentuk warna tertentu. Berwarna abu-abu artinya terdapat Pirogalol, berwarna merah artinya terdapat Fluoroglusin, berwarna kuning coklat artinya resorsin, dan berwarna merah rose artinya terdapat pirokatekol.

Reaksi dengan Aqua Bromata, pereaksinya tentu Aqua Bromata, zat dilarutkan dalam air atau HCl, hasil positif apabila memberikan warna-warna.

Reaksi dengan CaO, pereaksinya CaO, dilakukan dengan penggerusan zat bersama pereaksi, hasil positif apabila terbentuk warna.

Saya rasa, sampai di sini, kita sudah dapat menganalisis suatu sampel apakah mengandung Alkohol atau Fenol, dan apabila mengandung Alkohol kita sudah dapat mengetahui Alkohol Alifatis atau Aromatik, Alkohol Monovalen atau Polivalen, dan Alkohol Primer, Sekunder, atau Tersier. Dan juga kalau ternyata mengandung Fenol, kita sudah dapat mengetahui apakah Fenol Monovalen atau Polivalen.

Untuk informasi saja, berikut merupakan senyawa-senyawa yang tergolong ke dalam Alkohol.


Dan berikut merupakan senyawa-senyawa yang tergolong Fenol.


Demikian yang bisa saya berikan, mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga bermanfaat :D