Tuesday, November 27, 2012

Friday, November 23, 2012

Cheer Up!

There's still friendly people
...

Don't be afraid,
you're not alone


 Cheer Up!
and you'll get better life




Posted on by Nurul Fajry Maulida | No comments

Thursday, November 15, 2012

Ilmu Farmasi dan Prospek Kerja





Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara penyediaan bahan aktif menjadi bentuk tertentu (meracik) hingga siap digunakan sebagai obat yang digunakan untuk menjaga kondisi tubuh manusia agar tetap dalam kondisi optimal. Sediaan farmasi dapat berupa obat, bahan obat, obat tradisional, kosmetika, vitamin, sabun, shampoo, dan lain sebagainya.

Dalam bidang farmasi, ilmu yang dipelajari berupa ilmu untuk membuat sediaan farmasi yang baik (Farmasetika, Bioteknologi Farmasi, Teknologi Sediaan Padat, Analisis Sediaan Farmasi, dll). Tidak sekedar itu, farmasi juga mempelajari ilmu yang berkaitan dengan tubuh manusia baik anatomi, fisiologi, patofisiologi, dll seperti ilmu biomedik, biologi sel dan molekuler, biokimia, patobiokimia, dll. Beberapa ilmu lain yang dipelajari antara lain farmakologi, farmasi fisika, mikrobiologi, dll.

Prospek kerja:
Seorang lulusan farmasi dapat bekerja di berbagai bidang antara lain: (1) instansi pemerintah seperti Dinas Kesehatan, Departemen Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan; (2) Bidang layanan kesehatan seperti rumah sakit, apotek, klinik, Puskesmas, dll; (3) Bidang industri obat-obatan dan produk biologi seperti Kalbe Farma, Mead Johnson, Bayer, dll; (4) Bidang industri makanan seperti Nestle, Wingsfood, Indofood, Orang Tua Group, dll; (5) Bidang industri kosmetik seperti Martha Tilaar, Mustika Ratu, dll; (6) Bidang industri perbekalan rumah tangga dan kesehatan seperti Unilever, P&G, dll; (7) Bidang industri jamu dan obat tradisional seperti Air mancur, Jamu, Jago, Sido Muncul, Nyonya Meneer, dll; (8) Bidang riset dan pendidikan seperti perguruan tinggi dan lembaga penelitian; dan (9) bidang perdagangan seperti menjadi penjamin mutu standar keamanan, kualitas obat-obatan, dan alat kesehatan.

Catatan:
Beberapa informasi di atas saya dapatkan dari blog yang saya lupa linknya. Terkait dengan hal ini, link ini mungkin berguna karena menceritakan perjalanan saya ke perusahaan, pabrik, dan institusi-institusi di mana apoteker dapat bekerja. 

Bagi pembaca yang akan menghadapi ujian seleksi masuk PTN, tidak ada salahnya membaca tulisan saya mengenai hal tersebut di sini --> "Telitilah Dalam Mengerjakan Ujian Seleksi Masuk PTN". Tulisan tersebut adalah opini saya setelah saya sudah dua kali berpengalaman sebagai data controller untuk salah satu sistem seleksi masuk PTN. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung :D
Posted on by Nurul Fajry Maulida | 92 comments

Kontradiksi Phenilpropanolamin




Musim pancaroba atau musim peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau dan sebaliknya, merupakan suatu kondisi yang sangat baik bagi perkembangan virus dan bakteri sehingga penyakit-penyakit seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), diare, flu, batuk, disentri, tifus, demam berdarah, dan hepatitis A dapat menjangkit dengan mudah. Penyakit yang paling sering dan  utama menjangkit masyarakat Indonesia pada musim tersebut adalah flu dan batuk. 

Namun sayangnya, kebanyakan produk obat flu dan batuk yang beredar di Indonesia kontradiktif dengan penyakit diabetes. Oleh sebab itu, kita  sebagai seorang farmasis yang sudah terbiasa bergelut dengan obat-obatan, sudah saatnya tidak hanya berusaha untuk membuat suatu obat-obatan yang berguna untuk orang “normal” saja melainkan juga untuk orang yang memiliki metabolisme yang tidak normal seperti penderita diabetes.

Kebanyakan produk obat flu dan batuk yang beredar di Indonesia mengandung suatu zat yang kontradiktif dengan penyakit diabetes, bernama PPA (Phenil Propanolamin) yang sebenarnya bekerja sebagai pelega hidung. Sementara obat diabetes yang dikonsumsi untuk menurunkan kadar gula darah penderita diabetes apabila berinteraksi dengan pelega hidung tersebut bukannya menurunkan kadar gula darah, justru menyebabkan kadar gula darah tersebut tetap terlalu tinggi sehingga menimbulkan adanya suatu kontraindikasi. Gejala-gejala yang sudah dilaporkan sebagai akibat dari adanya interaksi obat tersebut antara lain adalah haus dan lapar berlebihan, pengeluaran urin bertambah, mengantuk, nanar (terasa pusing), dan berat badan menurun. 

Saya percaya bahwa semua orang pasti pernah mengalami gangguaan flu dan batuk terutama para penderita diabetes, saya juga mengerti bagaimana rasanya berada pada kondisi yang tidak menyenangkan dan sangat mengganggu aktivitas tersebut. Apabila sebagian orang yang “normal” dapat segera mengembalikan vitalitas kesehatannya tersebut, tidak demikian dengan penderita diabetes yang mana kebanyakan produk obat flu dan batuk yang beredar di Indonesia mengandung pelega hidung yang kontradiktif tersebut, sehingga sulit sekali menemukan produk obat flu dan batuk yang aman bagi mereka.  

Seorang farmasis yang akan membaktikan hidupnya guna kepentingan perikemanusiaan terutama dalam bidang kesehatan tidak akan membiarkan ada orang yang kesulitan dalam mendapatkan kebutuhan obat-obatannya terutama penderita diabetes. Oleh karena itu, sudah waktunya bagi seorang farmasis untuk berusaha atau berinovasi membuat obat-obatan terutama obat flu dan batuk yang aman dikonsumsi oleh penderita diabetes.
Posted on by Nurul Fajry Maulida | No comments