Friday, January 15, 2016

Catatan PKPA Industri #2

[Sumber Gambar: dottikon.com]

Minggu kedua PKPA ini dimulai dengan berdiskusi bersama pembimbing I (manager QC) dan seorang analis (mba Lasti). Hasil diskusi tersebut menandai mulainya pengerjaan tugas khusus kami. Jadi, terdapat suatu formula baru yang masih dalam proses validasi. Kami diminta untuk menyelesaikan validasi formula tersebut. Sebelum memulai kegiatan di laboratorium, selama dua hari  kami melakukan tinjauan literatur. Mencari metode yang sesuai untuk validasinya. 

Untuk memudahkan tinjauan literatur, kami diminta untuk membuat tabel perbandingan metode analisis tiap produknya. Produk yang kemungkinan komposisinya sama, bisa jadi metodenya dapat diterapkan, atau perlu adanya modifikasi. Tetapi sebelum menyimpulkan bahwa metode yang sebelumnya yang dikerjakan kurang tepat, kami diminta untuk mengulang kembali pengerjaannya menggunakan metode yang sama. 

Persoalan validasi formula yang baru adalah parameter spesifisitasnya yang tidak memenuhi kriteria. Pada placebo tanpa zat aktif, diperoleh area zat aktif. Tentu seharusnya tidak boleh ada area zat aktif sama sekali. Hari pertama di laboratorium, kami melakukan preparasi placebo. Sebenarnya kami mencurigai ada kesalahan pada pembuatan placebonya. Jika placebo tidak dibuat dengan benar, misalnya dibuat sampel terlebih dahulu baru placebo,  bisa jadi sisa zat aktif pada sampel mengkontaminasi placebo, sehingga itulah yang bisa menjadi penyebab munculnya area pada kromatogram placebo. 

Namun, setelah dikonfirmasi, pihak developer, tidak membuat sampel, jadi hanya membuat placebo saja. Awalnya oleh pembimbing, kami diminta untuk membuat placebo sendiri, namun pihak developer mengatakan bahwa sesungguhnya mereka telah membuat placebo baru. Setelah berdiskusi, akhirnya pembimbing membolehkan kami mencoba menganalisis placebo yang baru. Jika hasilnya tetap sama, ada kemungkinan placebonya yang salah atau metodenya yang tidak tepat. 

Hari kamis, kami hanya dapat mengerjakan preparasi standar. Karena adanya suatu hal yang tak disangka, seluruh karyawan dipulangkan tepat setelah makan siang. Senang dan panik bercampur aduk. Manager mengatakan kepada seluruh karyawan, besok masuk atau tidaknya akan diinformasikan. Inginnya sih libur ahahaha. 

Ternyata masuk. Kami melanjutkan preparasi sampel. Berhubung sampel placebonya berupa emulsi, cukup panjang tahapannya. Emulsi harus dipastikan homogen. Tidak mudah memipet emulsi. Pipet volume dengan balon karet tidak akan bisa menarik emulsi yang begitu kental. Bobot jenisnya kira-kira 1,32. Jadi, digunakan alat lisrik yang dapat menarik emulsi ke dalam pipet volume. Kira-kira seperti ini alatnya. 

[Sumber Gambar: id.aliexpress.com]

Cara menggunakannya dengan menghubungkan bagian hitam kerucut terbalik dengan pipet volume, lalu memencet tombol hitam yang atas untuk menarik. Sementara pencet tombol hitam bagian bawah untuk mendorong. 

Sambil kami melakukan preparasi sampel, mba Lasti menyiapkan HPLC (High Performance Liquid Chromatography)-nya. Betapa bahagianya karena HPLC-nya autosampler. Kelebihan utama HPLC yang autosampler adalah tidak diperlukan penginjeksian menggunakan jarum suntik. HPLC yang ada di laboratorium kampus masih yang pakai jarum suntik. Laboran dan dosen sering mengingatkan untuk berhati-hati menggunakannya, jika bengkok sedikit, harus ganti sendiri, dan mahal harganya. Karena bukan cuma ganti jarum suntiknya saja, tetapi port injeksinya juga harus diganti. Kalau autosampler, sudah tidak perlu lagi menggunakan jarum suntik, cukup masukkan sampel, maka alat akan secara otomatis mengambil sejumlah sampel sesuai dengan volume injeksi yang dibutuhkan. 

HPLC dengan port injeksi
[Sumber Gambar: slideplayer.com]

Injeksi melalui port injeksi
[Sumber Gambar: hamiltoncompany.com]

Salah satu contoh HPLC yang dilengkapi autosampler
[Sumber Gambar: iopan.gda.pl]

Kira-kira seperti ini tampak bagian dalam autosamplernya yang ada di HPLC
[Sumber Gambar: genengnews.com]

Setelah dianalisis menggunakan HPLC standar dan juga sampelnya, ternyata hasilnya sama (>.<). Menggunakan metode yang sama, area zat aktif muncul pada placebo. Artinya perlu disiapkan metode baru yang bisa jadi metodenya salah seperti yang disebutkan sebelumnya, atau bisa juga placebonya yang salah, jadi mungkin pada akhirnya kami harus membuat placebo sendiri. Entahlah, minggu depan baru akan didiskusikan kembali dengan pembimbing. 

Meskipun cuma sedikit yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung :D

Sunday, January 10, 2016

Catatan PKPA Industri #1

[Sumber Gambar: unomaha.edu]

Setiap mahasiswa program apoteker, akan merasakan PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) pada semester kedua. Di Universitas Indonesia, program ini dibagi menjadi dua peminatan, yaitu industri dan klinik. Bagi mahasiswa dengan peminatan industri, akan merasakan PKPA tidak hanya di industri, tetapi juga di apotek dan di pemerintahan. Sementara bedanya dengan mahasiswa apoteker klinik, PKPA-nya tentu bukan di industri, melainkan di rumah sakit. Mahasiswa apoteker klinik juga PKPA di apotek dan pemerintahan. 

PKPA industri saya dimulai pada hari Senin, 4 Januari 2016. Saya berdua dengan Kristi PKPA di suatu industri farmasi. Saya datang terlalu pagi, lalu tertahan di pos satpam selama 1 jam. Katanya, saya harus menunggu orang HRD terlebih dahulu. Ternyata, teman-teman saya yang PKPA di industri lain mengalami hal yang sama, sama-sama tertahan di pos satpam cukup lama. Saya kira akan langsung mulai, ternyata ada beberapa hal yang harus diurus terlebih dahulu. Sudah lama menunggu, akhirnya orang HRD datang dan meminta kami menunggu di lobi. Ya, kami tertahan lagi di lobi. Satu jam menunggu, orang HRD lainnya yang harusnya saya temui ternyata tidak hadir hari ini, tetapi akhirnya ada orang HRD lainnya yang menanganinya. 

Kami dibawa langsung ke departemen QC (Quality Control). Bertemu dengan manager QC yang alumni UI. Beliau langsung menyambut kami dan memberikan pengarahaan beberapa menit. Cukup menguatkan mental, memberi semangat, dan semoga kami tidak mengecewakan. Lalu kami diambil alih oleh supervisor. Supervisor membawa kami ke tiap laboratorium yang ada di departemen tersebut, mulai dari laboratorium instrumen, laboratorium kimia, sampai ke laboratorium mikrobiologi, kami diperkenalkan dengan para analis. Saya senang karena para analisnya sangat ramah. 

Hari pertama dan kedua, kami diberi tugas untuk membaca 15 SOP (Standard Operating Procedure). Kelima belas SOP tersebut antara lain:
  1. Pelulusan/penolakan bahan awal
  2. Pengambilan contoh bahan baku
  3. Penanganan sampel
  4. Penanganan contoh pertinggal
  5. Baku pembanding
  6. Penggunaan dan pemeriksaan air
  7. Penanganan OOS
  8. SST
  9. Kualifikasi analis
  10. Pencataan data pada logbook laboratorium
  11. Penyimpanan dan penanganan reagen
  12. Pemeriksaan bahan baku
  13. Penanganan limbah
  14. Pencatatan tahapan analisa dan pelaporan
  15. Persyaratan kebersihan
Berhubung isi dari SOP ini merupakan rahasia perusahaan. Saya tidak bisa menjabarkan seperti apa isinya. Meskipun demikian, sebenarnya, sebagian besar materi ini telah dipelajari di mata kuliah Farmasi Industri. Jadi, tidak perlu khawatir. 

Di hari ketiga, kami masih diberikan tugas untuk membaca SOP lainnya, seluruh staf terlihat sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing termasuk Manager QC-nya, pembimbing kami. Sebelum pulang di tengah kesibukannya, kami sempat berdiskusi hasil pembacaan SOP dengan beliau. Kami senang karena beliau ramah.

PKPA tentunya merupakan pengalaman baru bagi mahasiswa farmasi yang lebih terbiasa kuliah di kelas atau praktikum di laboratorium. Belajar jauh dari kampus harus banyak persiapan, tidak hanya persiapan tempat tinggal untuk yang PKPA-nya jauh, tetapi yang paling penting juga persiapan mental. Bila biasanya telat 15 menit masuk ke kelas masih ditoleransi oleh dosen, telat ke tempat kerja berulang kali bisa menjatuhkan reputasi. Mahasiswa farmasi kian meningkat dari tahun ke tahun. Sementara industri farmasi tidak banyak, mahasiswa yang PKPA, harus menjaga reputasi kampus supaya dapat diterima di industri farmasi. Tidak hanya di industri farmasi, di tempat PKPA lainnya juga seperti itu. 

Selain soal keterlambatan yang tidak disukai. Setiap mahasiswa PKPA juga harus mandiri. Manager kami menekankan bahwa selama ini tidak ada mahasiswa PKPA yang dimanjakan. Mahasiswa PKPA-nya yang harus inisiatif sendiri mencari ilmu meskipun memang ada pembimbingnya. Saat pengarahan di kampus juga, ketua program profesi, Pak Hayun, berulang kali menegaskan kepada mahasiswa, supaya memanfaatkan waktu PKPA di tempat kerjanya masing-masing secara optimal. Jika tidak bisa inisiatif mencari sendiri, maka akan rugi sendiri. Menurut saya, hal itu benar, berdasarkan pengamatan lima hari kerja, tidak ada satu pun karyawan yang bersantai, semuanya begitu kerja keras untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jadi, jika kamu mahasiwa PKPA, kamu harus inisiatif mencari ilmu sendiri.

Bukan dalam arti, kita dilepas begitu saja. Pembimbing tentu memberikan pengarahan apa yang harus kita lakukan. Dengan demikian, kerjakanlah semaksimal mungkin. Bukan hanya untuk diri sendiri, kembali lagi ini untuk kebaikan kampus sendiri, jangan sampai kampus di-blacklist hanya karena kinerja kita yang buruk sehingga tidak mau lagi menerima mahasiswa PKPA, padahal kampus dan mahasiswa sendiri sangat membutuhkan hal itu. 

Setelah banyak membaca SOP, selanjutnya kami diberi kesempatan untuk membantu analis di laboratorium mikrobiologi. Kami sangat senang akhirnya kami masuk laboratorium. Meskipun cuma sebentar, ada yang bisa kami pelajari. Kami membantu mereka menghitung jumlah bakteri dan jamur di tiap lempeng yang telah diambil di beberapa titik yang ada di pabrik. Masuk ke laboratorium juga tidak sembarangan, khusus untuk laboratorium mikrobiologi, jas laboratoriumnya dobel, artinya digunakan jas laboratorium yang pertama, lalu menggunakan jas laboratorium lagi yang kedua. Digunakan masker, head cover, serta shoes cover. 

Satu hal yang sangat penting ketika berada di laboratorium adalah APD (Alat Perlindungan Diri). Di pabrik, tersedia lengkap APD yang dibutuhkan untuk tiap penanganan. Mengenai hal ini kami sempat diberi materi EHS (Environment, Health, Safety) oleh orang EQ (Environmental Quality) yang mengurusi persoalan lingkungan dan fasilitas. Jadi yang dipelajari antara lain pengolahan limbah, dan perlindungan keselamatan kerja. Keselamatan dan keamanan karyawan dalam bekerja, pokoknya semua orang yang berada di dalam lingkungan pabrik, termasuk mahasiswa PKPA sangat penting untuk diperhatikan. 

Ada banyak potensi bahaya yang ada di laboratorium. Itulah kenapa, tiap bahan yang digunakan tersedia MSDS-nya. Materi mengenai MSDS (Material Safety Data Sheet) dipelajari di mata kuliah Registrasi. Di bawah ini adalah berbagai potensi bahaya yang dapat terjadi dalam menangani bahan kimia.

[Sumber Gambar: chemistry.iiti.ac.in]

Dari kiri ke kanan merupakan simbol bahaya yang artinya dapat meledak, dapat terbakar, dapat mengoksidasi, korosif, toksik, iritan, dan berbahaya bagi lingkungan. Oleh karena itulah, sangat penting untuk membaca MSDS tiap bahan kimia yang akan digunakan. Di dalamnya akan ada keterangan APD apa yang seharusnya digunakan dalam melindungi diri dari potensi bahaya tersebut serta apa yang harus dilakukan untuk menghindari bahaya tersebut. 

Selain materi tentang EHS ini, kami juga diberikan materi CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik). Mulai dari diberikan soal pretest terlebih dahulu mengenai CPOB. Tidak perlu khawatir karena materinya telah banyak dipelajari. Setelah diberi pretest, barulah diberi materinya, sehingga jika ada kebingungan dalam menjawab soal, sudah ada penjelasannya pada materi yang diberikan. Setelah selesai memahami materinya, kami diberi post test kembali mengenai CPOB. 

Demikian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat dan sukses PKPA-nya!

Thursday, December 31, 2015

Bulan Dana PMI: Ayo Bantu Sesama!

[Sumber Gambar: m.tempo.co]

Menutup tahun 2015, diumumkan sebanyak 2.604 korban luka berat dan 4.128 korban luka ringan akibat kecelakan lalu lintas di Jakarta selama periode 1 Januari hingga 25 Desember 2015. Hal ini dinyatakan oleh Kasubdit Pembinaan dan Penegakkan Hukum (Kasubdit Bin Gakkum) Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Budiyanto pada tanggal 29 Desember 2015 (Indrawan, 2015). 

Saya sebagai pengendara motor menjadi ngeri mendengarnya. Sedih rasanya tiap kali saya melihat kecelakaan di jalan raya sehingga saya selalu berharap, Allah melindungi saya serta pengendara lainnnya di jalan supaya dapat selamat sampai tujuan serta kembali lagi ke rumah. 

Saya menyadari bahwa berdoa saja tidak banyak membantu. Setidaknya itu yang bisa saya lakukan saat ini. Saya masih belum berani mendonorkan darah saya, meskipun saya tahu betapa besar manfaatnya darah yang didonorkan sebagaimana kita tahu kebanyakan korban kecelakaan biasanya banyak kehilangan darah sehingga tidak sedikit korban yang membutuhkan darah tambahan. 

Saya kagum dengan Bapak Dedi Kurnaedi dari Jawa Barat sebagai pendonor darah sukarela, yang telah mendonorkan darahnya sebanyak 133 kali. Beliau adalah salah satu penerima Satyalancana Kebaktian Sosial dengan kategori donor darah sukarela terbanyak yang dianugerahkan oleh Presiden RI Joko Widodo. Penganugerahan ini berlangsung di Istana Kepresidenan Bogor pada Jum'at, 18 Desember 2015 (RMN, 2015).

[Sumber Gambar: http://pmidkijakarta.or.id/]

Saya tidak habis pikir, seumur hidup beliau, pasti tidak pernah bolos mendonorkan darahnya tiap kali ada kesempatan. Untuk informasi saja, jumlah pendonoran darah per tahun paling banyak 4 kali dengan jarak pendonoran sekurang-kurangnya 3 bulan (Sapta, 2009). Sementara saya sendiri, satu kali pun belum pernah. 

Bagi Anda yang juga mengalami hal serupa dengan saya, yaitu ingin turut membantu, tetapi masih belum mampu atau merasa masih belum siap mendonorkan darah, tidak perlu khawatir. Kita dapat membantu sesama melalui Bulan Dana PMI. Bulan Dana PMI merupakan kegiatan PMI (Palang Merah Indonesia) dalam rangka mengumpulkan dana agar dapat melangsungkan berbagai kegiatan sosialnya. Dengan berpartisipasi dalam Bulan Dana PMI ini, tidak hanya membantu kelangsungan kegiatan donor darah saja, tetapi juga berbagai kegiatan sosial PMI lainnya. 

Ayo peduli bantu sesama. Apalagi yang diragukan? Kenali PMI!

PMI merupakan satu-satunya organisasi yang menjalankan tugas-tugas palang merah di wilayah Republik Indonesia. Tugas-tugasnya tidak hanya menyelenggarakan kegiatan donor darah saja, seperti yang disebutkan sebelumnya, tetapi juga berbagai kegiatan sosial lainnya. Misalnya kegiatan penanganan bencana, baik saat pra-bencana, saat bencana, maupun pasca-bencana (Sapta, 2009). 

[Sumber Gambar: antaranews.com]

Pada saat pra-bencana, kegiatan yang dilakukan antara lain kesiapsiagaan (pembentukkan struktur dan mekanisme tanggap darurat yang sistematis), sistem peringatan dini dan informasi manajemen bencana (pemberian informasi tentang cara identifikasi kemungkinan bencana dan dampaknya), mitigasi (pemberian informasi tentang cara meminimalkan dampak bencana), serta kegiatan penyadaran risiko dan dampak bencana (Sapta, 2009).

Pada saat bencana, kegiatannya antara lain evakuasi korban, pertolongan pertama, penampungan darurat, pendirian dapur umum, penyediaan air bersih dan sanitasi, serta relief. Sementara pada saat pasca-bencana, kegiatannya meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi (Sapta, 2009).

Bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan untuk menangani ini semua. Misalnya saja, saat penanganan pasca-banjir bandang di Manado, PMI mengeluarkan dana anggaran sekitar 1 miliar rupiah hingga hari ke-5 pasca bencana. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Sulut, menyebutkan lebih dari 116 rumah hanyut (Setyorini, 2014). Sebanyak itulah kiranya rumah yang harus direkonstuksi. 

Ayo peduli sesama! Jangan lagi ragu untuk berpartisipasi di bulan dana PMI. Donasi dapat diberikan dengan cara ditransfer melalui bank-bank sebagai berikut:
  • Bank BCA Kantor Cabang Utama Thamrin Nomor Rekening: 206-38-1794-5 atas nama PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.
  • Bank MANDIRI Kantor Cabang Kramat Raya Nomor Rekening: 123-00-17091945 atas nama PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.
  • Bank DKI Kantor Cabang Utama Juanda Nomor Rekening: 101-03-17094-7 atas nama PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.
Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan. Selagi masih ada umur, jangan pernah ragu untuk berbuat baik :D

"No one is useless in this world who lightens the burdens of another." -Charles Dickens.

[Sumber Gambar: www.picturequotes.com]


Referensi:
Indrawan, Angga. (2015). Republika: Sepanjang 2015, Kecelakaan Lalu Lintas di Jakarta Tewaskan 566 orang. http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/15/12/29/o03ip6365-sepanjang-2015-kecelakaan-lalu-lintas-di-jakarta-tewaskan-566-orang, diakses pada 31 Desember 2015 pukul 19:33.

RMN. (2015). Presiden Anugerahkan Satyalancana Kebaktian Sosial Kepada 893 DDS 100 Kali. http://pmidkijakarta.or.id/berita.php?id=230#.VoUrn_l97IU, diakses pada 31 Desember 2015 pukul 20:35.

Sapta, Seven A. (2009). Kenali PMI. Jakarta: Palang Merah Indonesia.

Setyorini, Virna P. (2014). Antaranews: Rehabilitasi dan Rekonstruksi Cepat Untuk Manado. http://www.antaranews.com/berita/415757/rehabilitasi-dan-rekonstruksi-cepat-untuk-manado, diakses pada 31 Desember 2015 pukul 21:08.
Posted on by Nurul Fajry Maulida | No comments