Saturday, February 23, 2013

Catatan Praktikum Farmakognosi #2

Senin yang lalu, 19 Februari 2013 saya hadir di pertemuan kedua di kelas praktikum farmakognosi. Saat itu saya benar-benar tanpa persiapan sama sekali sehingga nilai untuk diri saya saat itu hanya 50%. Banyak hal yang membuat saya kecewa pada diri saya sendiri saat itu: (1) saya tidak benar-benar memahami materi responsi, (2) saya tidak bisa mengendalikan diri sehingga bersikap tidak tenang, panik, dan berantakan, (3) saya tidak mengamati preparat dengan baik, (4) saya tidak memperhitungkan waktu dengan baik sehingga tidak sempat menyelesaikan semua pengamatan, (5) saya tidak sempat menggambar pengamatan secara langsung, dan hal yang paling mengecewakan diri saya sendiri adalah (6) saya tidak mencapai tujuan yang diharapkan selama praktikum tersebut.

Seharusnya pada praktikum tersebut saya sudah mampu untuk mengidentifikasi daun secara makroskopik dan mikroskopik serta mampu untuk membedakan daun yang satu dengan yang lainnya secara mikroskopik.  Secara makroskopiknya mulai dari bentuk, warna, rasa, dan baunya. Sementara secara mikroskopiknya: anatomi jaringan, sel, dan bagian-bagian spesifik lainnya dari daun harus sudah saya pahami.

Melalui catatan ini, saya berusaha untuk menuangkan pemahaman saya terkait hal tersebut yang saya dapatkan pengetahuannya dari luar praktikum, misalnya saja dari buku panduan, internet, dan lain sebagainya.

Pada catatan ini, saya tidak akan menjelaskan morfologi tumbuhan secara makroskopik melainkan yang akan saya jelaskan lebih ke anatomi daun secara mikroskopik karena memang materi praktikum farmakognosi dalam satu semester ini hanya yang berkaitan dengan analisis anatomi tumbuhan secara mikroskopik.

Secara mikrosokopik diharapkan kita mampu mengidentifikasi adanya jaringan epidermis, jaringan mesofil, jaringan vaskular (xilem dan floem), kutikula, stomata, rambut, jaringan parenkim palisade, jaringan parenkim spons (bunga karang), kristal, dan bahan ergastik lainnya.

Yang paling penting dari semua pengidentifikasian tersebut adalah kita dapat membedakan jenis daun yang satu dengan yang lainnya melalui pengamatan secara mikroskopik. Jadi, hanya dengan pengamatan melalui mikroskopik (setelah melihat ternyata ada bagian yang spesifik yang hanya dimiliki oleh jenis daun tertentu saja), kita sudah bisa yakin bahwa yang sedang kita amati merupakan jenis daun tertentu. Misalnya, melalui mikroskop kita dapat melihat adanya banyak rambut di sekelilingnya, maka kita bisa katakan bahwa daun tersebut merupakan daun sembung (Blumeae Folium), meskipun kita tahu tentunya ada jenis daun lainnya yang memiliki banyak rambut di sekelilingnya, kita bisa lebih yakin lagi dengan melihat bagian spesifik lainnya yang memang juga dimiliki oleh daun tersebut yang mana bagian tersebut jugalah yang membedakannya dengan daun yang lain.

"Memangnya secara umum itu setiap daun memiliki bagian apa saja sih?" Pertanyaan tersebut merupakan hal yang sempat singgah pertama kali di pikiran saya. Setelah membuka kembali catatan ketika semester 2 yang lalu, saya diingatkan bahwa pada umumnya daun berdasarkan fungsinya memiliki 5 macam jaringan, yaitu (1) jaringan pelindung, (2) jaringan dasar (parenkim), (3) jaringan penunjang, (4) jaringan pengangkut, dan (5) jaringan sekresi serta kelenjar.

Pertama, jaringan pelindung (epidermis). Tentunya jaringan pelindung ini berfungsi sebagai pelindung yang mana pembentukannya terletak pada paling luar daun. Selain itu, jaringan ini juga berfungsi untuk mencegah penguapan yang berlebih. Pada umumnya jaringan ini tersusun dari satu lapis sel dan dapat bermodifikasi dengan adanya penambahan lilin, rambut (trichoma), emergensia, dan stomata.

Fungsi dari trichoma adalah membantu melindungi daun dari kerusakan dan penguapan yang berlebih serta memberikan pula adanya penambahan pada luas permukaan jaringan epidermis.

Trichoma ini terdiri dari lima macam antara lain rambut penutup, rambut kelenjar, rambut sisik, rambut sengat, dan rambut akar. Saya sendiri belum mengetahui perbedaan antara kelimanya, bisa jadi perbedaannya terletak pada bentuknya. Bagi saya, jenis rambut yang penting hanya dua yaitu rambut daun penutup dan rambut daun kelenjar. Tentunya perbedaannya adalah bahwa pada rambut kelenjar, selain fungsinya untuk menambah luas permukaan epidermis, rambut kelenjar juga berfungsi dalam mensekresikan kelenjar seperti minyak atsiri misalnya. Untuk informasi saja bahwa rambut kelenjar ada dua tipe, yaitu tipe asteraceae (compositae) dan tipe lamiaceae (labiatae). Untuk perbedaan lebih jelasnya saya belum mengetahuinya.

Stomata merupakan modifikasi dari epidermis yang berfungsi sebagai tempat pertukaran udara. Stomata ini berdasarkan jumlah sel tetangganya, letak celahnya, dan bentuknya teridiri dari 6 tipe, yaitu tipe anomositik, tipe anisositik, tipe parasitik, tipe diasitik, tipe aktinositik, dan tipe bidiasitik.


Sebelum dapat membedakan keenam tipe stomata tersebut, kita perlu mengetahui adanya sel penutup dan sel tetangga. Dari gambar di bawah ini, sudah jelas pengertiannya.


Tipe anomositik artinya merupakan tipe stomata yang mana terdiri dari tiga atau lebih sel tetangga yang bentuknya tidak beraturan sehingga sulit untuk diidentifikasi.

Tipe anisositik merupakan tipe stomata yang terdiri dari tiga atau lebih sel tetangga yang bentuknya jelas dan salah satunya pasti lebih kecil dari yang lain.

Tipe parasitik dan tipe diasitik merupakan tipe stomata yang dilihat dari letak celahnya. Untuk tipe parasitik, merupakan tipe stomata yang celah antara sel penutup dan celah sel tetangganya tampak sejajar. Sementara tipe diasitik merupakan tipe stomata yang celah antara sel penutup dan sel tetangganya saling bersilangan tegak lurus.

Berdasarkan bentuk sel tetangganya, stomata tipe aktinositik dan tipe bidiasitik berbeda. Tipe aktinositik merupakan tipe stomata yang bentuk sel tetangganya tampak melingkar. Sementara tipe bidiasitik merupakan tipe stomata yang sel tetangganya terdiri dari 2 lapis sel epidermis.

Selain adanya modifikasi menjadi stomata, epidermis juga dapat bermodifikasi menjadi emergensia. Yang saya pahami mengenai emergensia merupakan suatu tonjolan dari epidermis. Yang apabila tonjolannya tersebut halus maka disebut papila, sedangkan apabila tonjolannya kasar dan agak tajam maka disebut duri palsu. Kenapa palsu? Sudah dapat disebut dengan duri asli apabila ada peranan dari jaringan cortex.

Kedua, mengenai jaringan dasar (parenkim), yang dimaksud dengan jaringan dasar adalah jaringan terbesar yang ada di tumbuhan baik di daun, batang, akar, buah, biji, dan sebagainya. Jaringan dasar ini disebut juga dengan jaringan pengisi.

Berikut merupakan 5 macam jaringan dasar berdasarkan fungsinya:
  1. Untuk fotosintesis, terdapat jaringan klorenkim yang mana terdiri dari jaringan palisade dan bunga karang.
  2. Untuk transportasi karbon dioksida seperti aerenkim dan aktinenkim.
  3. Untuk penyimpanan air, misalnya vilamen.
  4. Untuk pengangkutan bahan makanan yaitu jaringan pengangkut dan jari-jari empulur.
  5. Untuk tempat penyimpanan cadangan makanan yaitu empulur.
Beda aerenkim dan aktinenkim adalah pada bentuknya, yang bentuknya seperti bintang adalah aktinenkim. 

aerenkim
aktinenkim

Untuk penyimpanan air berdasarkan modul saya, disebut sebagai vilamen, tetapi dosen saya sempat mengatakan bahwa jaringan di bawah epidermis atas yang biasanya kelihatan mengkilap dan bening disebut sebagai jaringan hipodermis, yang mana mengkilap dan bening karena mengandung air, saya sendiri kurang mengetahui apakah hipodermis ini nama lainnya dari vilamen.

Mengenai empulur dan jari-jari empulur, saya kurang tahu perbedaannya. Tetapi dalam hal ini, ada yang mengatakan bahwa empulur itu berbentuk lingkaran, sebagaimana lingkaran memiliki jari-jari, maka empulur juga memiliki jari-jari yang disebut sebagai jari-jari empulur.


Ketiga, jaringan penunjang. Jaringan penunjang disebut juga dengan jaringan mekanik. Fungsi dari jaringan ini tentunya adalah untuk menunjang dan memperkuat tumbuhan. Jaringan ini terdiri dari 2 macam. yaitu kolenkim dan sklerenkim. Perbedaannya pada penebalannya. Pada kolenkim terjadi penebalan pada salah satu bagian dinding selnya, misalnya saja pada bagian sudutnya atau pada kedua bagian atas dan bawahnya. Sementara sklerenkim merupakan jaringan penunjang yang lebih tebal dari kolenkim karena mengalami penebalan pada bagian dalam selnya.


Keempat, jaringan pengangkut. Jaringan ini terdiri dari dua macam, yaitu xilem dan floem. Xilem berfungsi untuk mengangkut garam dan air mineral dari akar hingga ke daun, sementara floem mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan.

Pada xilem, terdiri dari empat bagian penting yaitu, trakea, trakeid, serabut xilem, dan parenkim xilem. Pada floem juga terdiri dari empat bagian penting antara lain pembuluh tapis, sel pendamping/pengiring, serabut floem, dan parenkim floem.

Xilem
Floem

Berdasarkan susunan atau tata letak antara xilem dan floem. Ikatan pembuluhnya dibedakan menjadi empat macam, yaitu ikatan pembuluh (1) kolateral, (2) bikolateral, (3) konsentris, dan (4) radial.

Yang dimaksud dengan ikatan pembuluh kolateral merupakan ikatan pembuluh yang ada pada tumbuhan secara umum di mana floem terletak di luar xilem. Pada ikatan pembuluh jenis ini ada 2 tipenya, yaitu kolateral terbuka dan kolateral tertutup. Disebut kolateral terbuka apabila antara xilem dan floem terdapat kambium, dan sebaliknya apabila tidak terdapat kambium di antaranya disebut kolateral tertutup.


Kemudian yang dimaksud dengan bikolateral, apabila floem terletak tidak hanya di bagian luar xilem saja, tetapi juga di bagian dalam xilem.


Ikatan pembuluh tipe konsentris terdiri dari dua macam, yaitu konsentris amfikribal (apabila floem terletak melingkari xilem) dan konsentris amfivasal (apabila xilem yang melingkari floem).


Disebut ikatan pembuluh tipe radial apabila posisi xilem dan floemnya saling berdampingan.


Kelima, jaringan sekresi dan kelenjar. Singkatnya mengenai jaringan sekresi dan kelenjar merupakan jaringan yang terdiri dari sel-sel yang dapat mensekresi atau mengekresi hasil metabolismenya baik yang dikeluarkan melalui suatu saluran maupun disimpan di dalam sel untuk digunakan sendiri. Jaringan sekresi ini biasa juga disebut dengan jaringan laticifer atau jaringan lateks.

Selain mengetahui adanya macam jaringan secara umum pada tumbuhan, kita perlu juga untuk mengetahui adanya bahan ergastik lainnya yang mungkin spesifik pada suatu tumbuhan tertentu.

Bahan ergastik merupakan persenyawaan yang dihasilkan ketika tubuh tumbuhan melakukan metabolisme. Bahan ergastik ini dapat berupa droplet (tetesan), zat amorf, dan zat kristal. Yang berupa tetesan antara lain minyak, protein, dan alkaloid. Yang termasuk zat amorf yaitu aleuron dan pati. Saya sendiri masih belum tahu apa yang dimaksud dengan aleuron. Kemudian yang termasuk ke dalam zat kristal antara lain oksalat, getah, dan damar.

Berikut merupakan macam-macam bentuk kristal yang dapat kita lihat secara mikroskopik.


Penjelasannya adalah sebagai berikut: A: bentuk roset, B: bentuk druss, C: bentuk prismatis, D: bentuk rafida atau jarum, dan E: bentuk sistolit.

Sepertinya dengan bekal pengetahuan mengenai adanya macam-macam jaringan secara umum dan bahan-bahan ergastik lainnya yang terdapat pada tumbuhan khususnya pada daun sudah cukup untuk segera beralih untuk dapat mengetahui bentuk-bentuk jaringan spesifik yang dimiliki oleh daun tumbuhan tertentu. Pada kesempatan ini, saya akan menjelaskan bagian-bagian spesifik dari empat jenis tumbuhan berikut, yaitu Psidii Folium, Abri Folium, Cocae Folium, dan Blumeae Folium.

Pertama, mari kita bahas mengenai apa saja bagian yang menjadi penanda spesifik yang dapat membedakan Psidii Folium dengan jenis daun lainnya. Psidii Folium berasal dari tanaman Psidium guajava L, famili Myrtaceae.


Sebelumnya saya ingin berbagi cerita, alasan saya mengapa kemampuan untuk membedakan jenis daun secara spesifik menjadi penting, karena sebenarnya apabila kita diminta untuk menganalisis suatu serbuk daun misalnya, maka kita bisa dengan mudah mengidentifikasi daun yang sedang kita analisis.

Baiklah, jadi berdasarkan pemahaman saya untuk Psidii Folium, bagian spesifik dari jenis daun ini antara lain memiliki stomata tipe anomositik, memiliki rambut penutup yang tidak begitu lurus bentuknya, memiliki kristal bentuk roset dan prismatis, terdapat kelenjar minyak juga, dan adapula kolenkimnya.

Kedua, Abri Folium yang berasal dari tanaman Abrus precatorius Linn, famili Leguminoseae.


Bagian spesifik dari jenis daun ini antara lain, terdapat kutikula di bagian luar epidermisnya, terdapat papila, memiliki rambut penutup yang kaku dan seperti pedang, memiliki penebalan berkas pengangkut bentuk spiral, dan memiliki kristal berbentuk kubus.

Ketiga, Coca Folium, berasal dari 3 spesies tanaman berikut, yaitu Erythroxylon coca, Erythroxylon truxillense, dan Erythroxylon novogranatense, ketiganya berasal dari famili Erythroxylaceae.


Jenis daun ini memiliki bagian yang spesifik antara lain, tidak memiliki rambut penutup, memiliki stomata dengan tipe parasitik dan terdapat kristal berbentuk prismatis di sekeliling serabut berkas pembuluhnya dan di jaringan palisade.

Keempat, yang terakhir adalah Blumeae Folium, biasa juga disebut dengan daun sembung, yang berasal dari tanaman Blumeae Balsamifera (L.) DC, dari famili Compositae.


Bagian spesifik yang dimiliki oleh jenis daun ini antara lain memiliki rambut kelenjar tipe asteraceae, memiliki banyak rambut penutup (paling banyak dibandingkan ketiga daun lainnya yang sudah disebutkan sebelumnya), memiliki stomata dengan tipe anomositik, dan memiliki berkas pengangkut dengan penebalan spiral dan tangga.

Untuk bagian-bagian spesifik yang sudah saya sebutkan, mohon maaf tidak bisa ditampilkan gambarnya, karena saya sendiri belum benar-benar dapat mengamatinya melalui mikroskop. Semoga saja pertemuan berikutnya saya ada waktu untuk mengamati ulang bagian spesifiknya sehingga saya bisa membaginya melalui ini.

Cukup sekian, sekali lagi mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung :D

2 comments:

  1. buku panduannya apa ya kak ? zeviriel@gmail.com

    ReplyDelete
  2. Halo Zenith, kebetulan selama saya belajar teori maupun praktik farmakognosi, diberikan modul yang dibuat langsung oleh dosen, sehingga kebanyakan materi dipelajari dari modul tersebut. Meskipun demikian, kamu bisa juga mempelajari farmakognosi dari referensi buku yang lain, misalnya seperti buku Pharmacognosy, oleh Trease and Evans :D

    ReplyDelete

If you want to be notified that I've answered your comment, please leave your email address. Your comment will be moderated, it will appear after being approved. Thanks.
(Jika Anda ingin diberitahu bahwa saya telah menjawab komentar Anda, tolong berikan alamat email Anda. Komentar anda akan dimoderasi, akan muncul setelah disetujui. Terima kasih.)