Wednesday, September 9, 2015

Catatan Compounding & Dispensing Sediaan Farmasi #1

Sumber Gambar: baerlaw.com

Ya, berdasarkan nama matakuliahnya, mata kuliah ini mempelajari compounding (meracik) dan dispensing (menyerahkan) sediaan farmasi. Sebagian besar materi ini telah dipelajari saat S1, sehingga tujuan adanya mata kuliah ini untuk program apoteker adalah agar mahasiswa dapat melakukan compounding dan dispensing secara profesional dalam praktik apoteker. Secara umum yang saya tuliskan di sini, adalah materi yang dibawakan oleh dosen saya, ibu Juhaeni, pada power-pointnya, serta diberikan beberapa tambahan terkait dengan penjelasannya selama yang saya dengarkan waktu di kelas.

Compounding atau meracik adalah suatu kegiatan membuat sediaan obat dengan mencampur bahan aktif farmakologis dan bahan-bahan tambahan farmasi. Saat ini kurang lebih hanya 1% sediaan obat yang diracik dari bahan baku. Dosen saya banyak bertanya terkait kegiatan ini, "Sediaan apa saja yang diracik? Apa yang harus diperhatikan, dan untuk efedrin tablet yang dibuat suspensi, bagaimana cara meraciknya?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pada dasarnya pengetahuan yang sudah dipelajari sebelumnya saat S1 pada mata kuliah farmasetika, namun saya sendiri sudah lupa. 

Diingatkan oleh beliau bahwa biasanya yang diracik itu sediaan pulveres, salep, dan suspensi. Sediaan lain seperti emulsi, jarang diracik, karena sudah tersedia dari industri obat dan lebih baik mutunya. Untuk sediaan pulveres biasa diberikan saccharum lactis supaya manis. Selain itu, untuk sediaan pulveres, tidak boleh mencampurkan bahan dengan antibiotik, jadi kalau ada antibiotik, harus dipisah. Karena aturan penggunaannya berbeda, misalnya antibiotik dicampur dengan obat demam. Antibiotik harus dihabiskan, sementara obat penurun demam harus dihentikan ketika sudah tidak demam. Akibatnya jika dicampur, pasien tersebut akan menghabiskan racikan antibiotik dan obat penurun demam yang padahal sebenarnya pada waktu tersebut pasien sudah tidak demam, lebih lanjut, dapat muncul efek samping yang tidak diinginkan, selain itu juga pemisahan dilakukan untuk mencegah resistensi obat. Sementara, cara membuat suspensi pada tablet efedrin adalah dengan menambahkan suspending agent berupa PGS sebanyak 1%, karena efedrin termasuk zat aktif bukan golongan keras. Selanjutnya dibutuhkan air sebanyak 7 kali jumlah PGS.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa hanya sekitar 1% sediaan obat saja yang diracik, hal ini karena proses peracikan membutuhkan waktu, dan lagipula sebagian besar sediaan obat telah diproduksi di industri farmasi dengan CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik). Jadi, hanya beberapa sediaan obat saja yang diracik. Racika dibuat untuk obat-obat yang sulit didapat atau karena tidak tersedianya produk industri farmasi. Misalnya di rumah sakit, sediaan steril seperti larutan IV (intravena) masih diracik (tentu juga dengan spesifikasi yang memenuhi CPOB), serta di apotek dan puskesmas juga masih dibuat racikan untuk anak-anak. Sediaan-sediaan apa saja yang diracik di rumah sakit, diputuskan oleh panitia, misalnya seperti sediaan tertentu atau sediaan berdasarkan resep yang diminta untuk diracik. Sementara di apotek, sediaan yang diracik adalah sediaan-sediaan yang sederhana atau disebut "anmaak" dan juga sediaan yang ditulis di resep.  Lain dengan di puskesmas, puskesmas hanya meracik sediaan yang ditulis di resep. 

Kenapa hanya sediaan tertentu atau yang sederhana saja yang diracik? Hal ini akibat adanya beberapa alasan:
  1. Absorpsi obat sangat dipengaruhi oleh bahan tambahan dan proses pembuatan, sehingga tidak mudah untuk meracik sediaan obat yang membutuhkan bahan tambahan khusus.
  2. Kualitas, kemurnian, dan potensi bahan baku tidak dapat dipastikan di apotek, rumah sakit, atau puskesmas, sehingga untuk bahan baku yang penyimpanan dan stabilitasnya khusus akan sulit dijamin kualitas, kemurnian, dan potensinya.
  3. Sulit memastikan bahan yang sudah terurai atau terkontaminasi bakteri. Jadi ini memang kelemahannya peracikan.
  4. Beberapa bentuk sediaan membutuhkan teknologi tinggi, misalnya tablet sustained release, maka proses pembuatannya tidak bisa dilakukan di apotek, rumah sakit, atau puskesmas. Hanya bisa dilakukan di industri farmasi yang memiliki teknologinya.
  5. Stabilitas dan sterilitas sediaan juga tidak sebaik sediaan produk industri farmasi. Oleh karena itu, masa kadaluarsanya lebih cepat.
Oleh karena itu, untuk menjamin mutu, khasiat, keamanan, dan manfaat dari sediaan obat perlu untuk menghindari peracikan yang sesungguhnya sediaan obat tersebut telah tersedia dari industri farmasi (istilahnya, tinggal memberikan produk industri, untuk apa repot-repot membuat racikan yang membutuhkan waktu lama serta kurang terjamin mutunya. Sementara produk industri sudah jelas mutunya. Meskipun demikian, seperti yang dijelaskan sebelumnya, proses peracikan juga diupayakan CPOB, jadi hanya sediaan sederhana saja yang dibuat. Jadi juga, perlu untuk menghindari peracikan yang tidak memenuhi persyaratan mutu. Terkait dengan stabilitas, perlu dihindari peracikan dalam skala besar, walau hanya untuk persediaan. Misal hanya untuk memenuhi kebutuhan satu hari saja, itu boleh, tetapi kalau untuk persediaan berminggu-minggu, tidak boleh, dikhawatirkan akan mempengaruhi stabilitas sediaannya.

Sekilas itulah terkait dengan compounding, berikutnya dibahas mengenai dispensing atau penyerahan obat. Dimulai dari adanya pertanyaan, "Siapa yang boleh melakukan dispensing?" Jawabannya adalah apoteker baik yang di rumah sakit, apotek, atau puskesmas. Kemudian, perawat di rumah sakit, dokter, penjaga  toko, dan anggota keluarga. Sebenarnya pada penjelasan ini, saya agak kurang fokus, sehingga saya masih bingung kenapa ada banyak pihak yang diperbolehkan melakukan dispensing, bukankah hanya apoteker saja yang diperbolehkan, terkait hal ini juga telah ditetapkan melalui PP no 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian sehingga profesi di luar apoteker, tidak diperbolehkan melakukan dispensing. Apabila saya dapat memperoleh penjelasannya, saya akan bagikan kembali di sini. Jika ada pembaca yang mengetahuinya, silakan berikan informasinya di kolom komentar.

Pada dasarnya, pasien menganggap apoteker sebagai profesi yang serba tahu terkait obat. Oleh karena itu, apoteker harus selalu meningkatkan kompetensinya. Karena sebagai apoteker, apoteker harus memiliki pengetahuan mengenai informasi obat, informasi produk, farmakoterapi, dan dapat memberikan konsultasi. Selain itu juga, apoteker harus memiliki keterampilan komunikasi dan teknik promosi. Hal lain yang perlu diketahui juga terkait dengan persediaan, peralatan, dan pengaruh pengobatan, serta dapat menjalin hubungan dengan dokter. Secara umum, proses dispensing meliputi:
  1. Penerimaan resep
  2. Pemeriksaan keberadaan obatnya
  3. Interpretasi resep
  4. Pengambilan obat
  5. Preparasi dan proses pemberian
  6. Komunikasi  dengan pasien
  7. Pemastian pasien mengerti penggunaan obat
  8. Monitoring kepatuhan pasien
  9. Pencatatan
Biasanya kesulitan apoteker dalam melakukan interpretasi resep adalah tulisan dokter yang tidak terbaca, sehingga tentunya paling baik adalah mengkonfirmasi kembali kepada dokter terkait obat yang diresepkan supaya tidak terjadi kesalahan penyerahan obat. Apabila kesulitan menghubungi dokter, bisa dipelajari dengan menggali informasi dari pasien dan harus diteliti secara ilmiah. 

Ada banyak kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi selama penyerahan obat, dan tentunya harus dihindari. Kesalahan-kesalahan tersebut antara lain:
  1. Interpretasi resep yang salah. Dosen mencontohkan salah satu kasus yang pernah terjadi, seorang apoteker mengira yang tertulis di resep adalah Klorpropamid (obat antidiabetes). Namun, ternyata yang dimaksud adalah Kloramfenikol (antibiotik). Akibatnya terjadi kesalahan fatal karena pasien yang menggunakannya menjadi idiot.
  2. Salah ambil obat dan dosis. Biasanya ini terjadi akibat adanya obat dengan kemasan yang mirip dan diletakkan bersebelahan. Oleh karena itu, jangan pernah menaruh keduanya secara berdekatan, bila perlu tambahkan label informasi lainnya.
  3. Kurang pengetahuan farmakoterapi.
  4. Mutu obat yang tidak terjaga.
  5. Tidak akuratnya perhitungan saat peracikan.
  6. Kurangnya waktu berkomunikasi dengan pasien.
  7. Kurang mampunya berkomunikasi dengan pasien.
Tujuan melakukan konseling dan pemberian informasi obat salah satunya adalah agar pasien patuh menggunakan obat dan pada akhirnya pasien akan membaik kondisinya. Selama pasien tidak patuh, maka pengobatan akan menjadi sia-sia. Apabila apoteker tidak memiliki waktu banyak untuk konsultasi, maka apoteker dapat mengantisipasinya dengan memberikan informasi melalui label tambahan agar pasien dapat membacanya sendiri.

Keterampilan berkomunikasi itu sangat penting dimiliki oleh apoteker, dalam rangka membuat pasien mengerti mengenai penggunaan obatnya dengan benar. Beberapa sediaan obat tidak selalu tablet yang diminum, ada obat tetes mata, inhaler, suppositoria, dan lainnya sehingga cara penggunaannya sangat penting untuk diinformasikan. Salah penggunaan akan berujung kembali pada kesia-siaan pengobatan. Saat berkomunikasi penting juga untuk menginformasikan waktu pemberian obat serta memastikan pasien telah memahaminya. Pada akhirnya penanggung jawab penuh dalam penggunaan obat adalah orang yang menggunakan obat atau pasien. Selama pasien itu patuh, maka tujuan pengobatan dapat dicapai.

Berhubungan pengobatan itu mahal, agar dapat berhasil, diperlukan kesabaran. Pasien diminta untuk mematuhi petunjuk dokter atau tenaga kesehatan lainnya, mematuhi rencana pengobatan, dan menanyakan hal-hal yag belum dimengerti. Terutama pasien harus bertanya kepada apoteker. Meskipun apoteker tidak mendiagosis penyakit, namun apoteker dapat membantu menjawab pertanyaan mengenai obat dan pengobatannya. Oleh karena itu pula, disediakan ruangan tersendiri yang dipakai khusus untuk berkonsultasi dengan orang-orang yang membutuhkan informasi. 

Ada beberapa hal yang harus dipastikan apoteker terhadap pasien. Pastikan pasien membaca aturan pakai, terutama sampai kapan penggunaannya, cara penggunaannya. Informasikan juga suatu hal yang tidak sama yang diterima pasien, misalnya biasanya pasien menerima racikan dalam bentuk kapsul warna merah, ketika diberi warna biru, informasikan bahwa hal tersebut tidak masalah karena isinya sama. Hal lain yang harus diinformasikan:
  1. Penyimpanan. Adakah aturan penyimpanan khusus? Beda sediaan obat beda penyimpanannya, beberapa suppositoria harus disimpan di freezer. Ada tablet yang cukup disimpan di lemari.
  2. Waktu penggunaan. Sebelum atau sesudah makan? Misal sesudah makan, beri alasan kenapa harus sesudah makan, hal ini karena obat tersebut dapat mengiritasi lambung misalnnya
  3. Diminum bersama dengan susu bolehkah? Tergantung obatnya, Ada yang boleh ada yang tidak, apoteker mestinya dapat menjelaskannya.
  4. Efek samping muncul, apa yang harus dilakukan? Hubungi dokter.
  5. Jauhkan dari jangkauan anak-anak karena berbahaya.
  6. Tidak menyimpan obat di tempat gelap dan lembab.
  7. Menyimpan obat tetap pada botol atau kemasan aslinya. Karena pada kemasannyalah tertera tanggal kadaluarsa.
  8. Tidak menempatkan obat yang berbeda pada satu botol atau satu kemasan karena mirip belum tentu sama.
  9. Tutup botol dengan baik dan rapat untuk mencegah kerusakan obat.
  10. Jika ada kapas saat pertama kali membuka botol, maka perlu dibuang karena dapat menyerap air.
  11. Jangan simpan obat yang tidak habis untuk persediaan karena rata-rata obat menjadi berkurang potensinya setelah lebih dari 1 tahun, bahkan hanya 10-14 hari untuk obat racikan.
  12. Buang obat-obatan yang sudah kadaluarsa.
  13. Tidak dianjurkan menaruh obat dalam botol susu bayi, karena jika bayinya sudah kenyang, maka tidak semua obat habis.
Demikian yang dapat saya tuliskan. Terima kasih untuk ibu Juhaeni yang menjelaskan materi secara lengkap dan tepat waktu. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung :D

2 comments:

  1. Thanks for ones marvelous posting! I seriously enjoyed reading it, you might be a great author.
    I will make certain to bookmark your blog and may come back from now on. I want
    to encourage you to definitely continue your great writing,
    have a nice evening!

    ReplyDelete
  2. Thank you very much! Your support is really meaningful to me, seriously. I will keep writing and I will try to do it more frequently. Sometimes, I become demotivated and lazy to write. But now, I will remember your saying so I will be motivated again. Hope your life is going well everytime :D

    ReplyDelete

If you want to be notified that I've answered your comment, please leave your email address. Your comment will be moderated, it will appear after being approved. Thanks.
(Jika Anda ingin diberitahu bahwa saya telah menjawab komentar Anda, tolong berikan alamat email Anda. Komentar anda akan dimoderasi, akan muncul setelah disetujui. Terima kasih.)